
(Dua puluh enam tahun yang lalu)
Braakkkk... Suara gebrakan meja membuat suasana menjadi makin tegang. Emilio mengepalkan tangannya, dan rahang nya mengeras. Gustav pun tak kalah emosinya, namun dia berusaha tenang dan tetap terkendali.
"Aku tidak mau melihat mu lagi, Gustav!"
"Apa maumu sebenarnya, Emilio? Apa kamu tak memikirkan perasaan istrimu. Ini hanya kesalahpahaman. Jangan karena kecemburuan mu kamu jadi kehilangan akal sehatmu!"
"Cemburu? Akal sehat? Kamu pikir aku bodoh , kamu pikir matamu buta. Aku tak yakin kamu dan Rose tidak ada main dibelakangku"
Gustav menarik nafasnya keras. Membuang semua aura emosi yang menyesakkan dadanya.
"Aku tak bisa mengatakannya Emilio, aku sudah janji pada Rose tak akan mengatakan apapun padamu. Tapi demi Tuhan Emilio, Rose itu adalah perempuan berhati malaikat. Dia tak seburuk apa yang engkau fikirkan. Percayalah padaku Emilio"
Emilio tak menggubris kata-kata Gustav, dia melengos dan terus masuk kedalam mobilnya. Memacu kendaraannya dengan sangat cepat. Kecemburuannya makin terbakar sejak dia mendapati Gustav sahabatnya, berdua di sebuah kamar hotel di Singapura. Tanpa basa-basi Emilio memuntahkan amarahnya.
Dia begitu murka mendapati istrinya yang pergi tanpa izinnya, bahkan sampai keluar negeri saat dia tidak ada dirumah. Emilio yang sudah kalap tak mau mendengar penjelasan apapun dari Rose. Dia menyeret tangan Rose dan membawa nya pulang ke tanah air.
******
Emilio memarkirkan kendaraannya di halaman rumah. Raut wajahnya yang tak bersahabat membuat siapa saja enggan mendekat. Dia masuk kekamar dan menutup pintu dengan keras. Rose yang ada didapurpun merasa saat lalu nafasnya berhenti berhembus mendengar tentuman pintu yang di banting Emilio.
__ADS_1
Cekreeeeekkk ...
Perlahan dia membuka pintunya, dia melihat suaminya yang duduk diam di sofa. Dia memberanikan diri untuk mendekat.
"Kak ... ",sapanya.
Emilio tak bergeming.
"Kak Emil mau aku ambilkan sesuatu?"
"Katakan padaku yang sebenarnya?"
"Apa yang kalian lakukan di hotel itu? Untuk apa kamu jauh-jauh pergi ke Singapura bersama laki-laki itu?"
"Kak, ini semua salah paham. Aku bertemu Kak Gustav di sana secara kebetulan. Dia hanya membantuku karena aku sedang tidak sehat"
"Tidak sehat?"
"Aku hamil Kak. Aku kesana memeriksakan kandunganku. Dan saat lobi hotel aku tiba-tiba tak sadarkan diri, Kak Gustav lah yang membawaku kekamar"
"Hamil?"
__ADS_1
"Ya, Kak. Anak mu?"
"Kamu yakin dia anakku?"
"Kak...!!!", pekik Rose. Matanya terbelalak mendengar pertanyaan suaminya.
"Tega Kak Emil berkata begitu padaku. Aku tak serendah itu kak. Aku masih tau batasannya. Anak ini anak mu. Anak kandungmu!"
Emilio mendengus sinis. Kecemburuannya membuat akal sehatnya mendadak hilang. Nafasnya berhembus cepat, raut wajahnya tak juga mengendur.
"Baiklah, kalau memang Kak Emil tak mengakui anak ini, aku tak masalah. Tapi mulai hari ini aku akan pergi dari sini dengan membawa anak ini",Rose mulai terbawa alur.
"Dan ... ",ucapnya pelan.
"Dan ini akan jadi kali terkahir pertemuan kita, Kak. Aku minta maaf jika aku punya salah padamu, Kak Emil. Tapi demi Tuhan aku tak pernah melakuakan hal buruk seperti yang ada dalam pikiranmu itu",
Rose berjalan perlahan mendekati Emilio. Dia mengambil tangan laki-laki itu dan mencium punggung tangannya. Airmatanya mengalir membasahi punggung tangan Emilio yang masih mematung. Rose membereskan pakaiannya memasukknya dalam koper.
Lalu dia pergi dan tak pernah kembali. Emilio pun sama sekali tak berniat mencarinya. Dia hanya makin menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Dan jarang kembali kerumah.
******
__ADS_1