
Kia sudah rapi mengenakan seragam barunya. Sekarang dia sudah menjadi siswi SMA, tapi ada yang berbeda dari penampilannya kali ini. Seragam putih panjang dan rok abu-abu panjang dipadukan dengan hijab putihnya. Dia terlihat anggun mengenakan kerudungnya itu.
Dia menuruni anak tangga perlahan-lahan, terlihat semakin mempesona. Reagan dan Kevin yang sudah menunggunya di meja makan menoleh dan terpana melihat adik bungsu mereka. Kia meletakkan tasnya dikursi kosong di hadapan Kevin, Re berada di tengah mereka.
"Pagi, Kak Re, Kak Kevin ..."
Kia memberikan morning kiss pada kedua kakaknya.
"Ada apa, Kak. Ko Kak Re dan Kak Kevin melihatnya seperti itu sih. Aneh ya?. Tidak pantas ya?"
Re bangun dari tempat duduknya. Dia memegang wajah cantik adik nya dengan kedua tangannya itu. Lalu mencium kedua pipinya.
"Pantas. Cantik sekali. Adik solehah kesayangan Kak Re yang paling cantik. Kak Re senang melihat mu seperti ini"
Kia menoleh pada Kevin.
"Kak Re benar, sayang. Kamu terlihat makin cantik dengan kerudung itu"
"Beneran kan memujinya. Bukan gombal?!",goda Kia.
Hahhahahaha...
Kevin terbahak-bahak mendengarnya. Re hanya tersenyum dan mengelengkan kepalanya.
"Kalau urusan gombal Kak Kevin mu yang paling jago", celetuk Re.
"Ah... Kak Re merendah. Aku tidak pernah menang apapun dari Kak Re, termasuk urusan yang satu itu"
"Hmmm... Jadi begitu ya, kelakuan Kak Re dan Kak Kevin di luar sana. Suka gombalin perempuan?"
"Sudah ... Sudah ... Ayo sarapan dulu. Nanti terlambat", ucap Re.
__ADS_1
Setelah menghabiskan sarapannya, Kia berpamitan dengan kedua kakaknya. Dia memilih menggunakan ojek online menuju kesekolah barunya yang ada dikampung sebelah. Hari pertama masuk sekolah, semua siswa baru berwajah antusias dan begitu senang. Seminggu pertama digunakan untuk masa orientasi siswa.
Pukul tiga sore Kia sudah sampai dirumah. Dilihatnya suasana rumah sepi. Re dan Kevin belum pulang. Kia menuju kamarnya, merebahkan sejenak kepanantan dalam tubuhnya. Selama satu minggu dia harus menguras ektra tenaganya. Maklum murid baru pasti dikerjai oleh para senior. Tapi Kia menikmati semua ini.
******
"Kak Re, Kia pulang agak terlambat nanti, ada kegitan disekolah"
Kia mengirimkan pesan WhatsApp pada Re.
"Ya, Dek. Kalau terlalu sore nanti dijemput saja Dek"
"Ya, Kak"
Acara penutupan siang ini sangat meriah, Kia juga sangat antusias mengikutinya. Dia memutuskan untuk memilih ekstrakulikuler yang disukainya.
"Kia ... Kamu sudah memutuskannya?", tanya seorang teman.
"Lalu kamu pilih yang mana?"
"Seperti aku akan ikut Grup Sains deh"
"Wah, sepertinya beratnya pilihanmu"
"Eehh.."
"Iya, tapi disana banyak cowok-cowok tampannya yang kutu buku. Tidak kalah dengan anak basket"
"Oiya?"
"Dan kamu tahu tidak, Kak Vino yang lulusan terbaik Fasilkom UI itu merupakan alumnus sekolah ini dan dia juga ketua grup sains selama dua periode"
__ADS_1
"Vino?"
"Revzan Alviano Mahawira"
"Wah, sehebat apa sih dia, sepertinya dia punya banyak penggemar"
"Bukan banyak lagi, sejak dia ikut grup sains banyak cewek-cewek cantik masuk grup itu. Dengar-dengar kisah cintanya melegenda di sekolah ini?"
"Kisah cinta?"
"Kak Vino dan pacarnya Kak Nesya merupakan pasangan serasi. Mereka berpacaran sejak SMA mereka pun kuliah di kampus yang sama. Tapi cinta mereka di tentang oleh orang tua Kak Nesya. Dijodohkan dengan seorang laki-laki pilihan orang tuanya. Aku dengar sampai saat ini Kak Vino belum membuka hatinya untuk perempuan lain"
"Oo..."
"Kalau kamu bertemu dia nanti pasti kamu juga jatuh hati dengannya. Dia sering datang memberi pengarahan atau melihat grup sains"
Kia hanya memoyongkan mulutnya. Dia tak tertarik dengan cerita klasik seperti itu. Reaksi nya biasa saja saat itu.
Para siswa diminta berkumpul menurut grup ekstrakurikuler nya masing-masing. Para anggota baru grup sains masuk ke dalam ruang Laboratorium.
Nampaknya mereka semua anak pintar, batin Kia. Dia duduk seorang diri dipojok ruangan. Dia memilih tempat duduk dipojok ajar lebih nyaman melihat ke depan. Tiba-tiba suasana menjadi heboh, terutama dikalangan anak perempuan.
"Selamat sore adik-adik semua, perkenalkan nama saya Revzan Alviano Mahawira, panggil saja saya Vino"
Kia melotot melihat siapa yang datang. Kak Vino? Dia tak salah lihat rupanya. Laki-laki yang baru datang itu bernama Vino. Ya, Vino si penjual kerak telor tampan yang di temuinya dulu. Yang sempat membuat dia patah hati.
Vino melirik kearah sudut ruangan. Dia tersenyum pada Kia. Dan Kia yang sadar akan hal itu menjadi tertunduk malu. Wajahnya bersemu merah.
"Ya, Tuhan ... Dia itu seperti malaikat", batin Kia.
Selama satu jam Vino memberi motivasi dan arahan sebagai alumnus dan juga mantan ketua grup sains. Dan selama itu juga pikiran Kia berlari-lari dari jiwanya. Atau boleh dibilang hatinya meleleh melihat pesona Vino yang tegas dan berwibawa di hadapan juniornya.
__ADS_1
******