
Excel mengela nafas panjangnya. Mengubah lagi posisi duduknya. Menopangkan kedua tangannya pada dagunya yang lebar.
"Yaacach, begitulah awal perseteruan Emilio dan Gustav. Sampai ...", Excel menghentikan bicaranya saat dia sadar akan kehadiran Reagan di hadapannya.
"Reagan?!", sapa Excel.
Vino menoleh kebelakang. Re mendekat dan menyalami Excel. Vino pun menyalami calon kakak iparnya itu.
"Apa kabar, Oom?", sapa Re sopan.
"Kabar baik Re, duduk lah. Bagaimana pekerjaanmu, Re?"
"Sejauh ini lancar, Oom. Re minta doanya saja, semoga diberi kelancaran dan kemudahan"
"Aamiin...", Vino dan Excel serempak.
"Maaf Oom, tujuanku kesini sama seperti Vino. Dan aku sudah mendengar semuanya. Yang aku mau tanyakan adalah mengapa sampai kematian Papa, Oom Emil masih saja menaruh dendam dengan Papa. Apa setelah itu terjadi sesuatu lagi diantara mereka, Oom?"
"Ya, kamu benar, Re. Tapi itu tidak sepenuhnya salah Emil atau Gustav. Tapi ada seseorang yang mengadu domba mereka"
"Adu domba?",tanya Vino
"Ya", jawab Excel singkat.
"Siapa dia Oom?"
"Baron!",ucap Reagan.
__ADS_1
Vino dan Excel menoleh ke arah Re. Excel tersenyum kecil.
"Sepertinya kamu tahu banyak, Re"
"Aku ada dilokasi kejadian saat Papa terbunuh, Oom. Tentunya aku tahu kronologisnya"
"Ya, kamu pasti sangat terpukul menyaksikan peristiwa mengerikan itu, Re. Tapi Oom salut pada jiwa besarmu yang mampu bangkit dari trauma itu. Oom bangga sama kamu. Gustav mendidikmu dan adikmu dengan sangat baik. Kamu contoh teladan bagi adik-adik mu, Re ...",puji Excel.
"Oom terlalu memuji. Sebenarnya berat untuk menghilangkan trauma itu, Oom. Tapi kalau aku lemah, kedua adikku tak akan mampu berdiri dengan kedua kaki mereka sendiri. Aku tak mau mereka jadi lebih terpuruk karena kepengecutanku, Oom... "
Excel tersenyum. Dalam hati kecilnya dia bangga terhadap pemuda gagah putra sulung sahabatnya itu, sosok Re dilihatnya tak jauh neda dengan Gustav, papanya.
"Maaf, Vino menyela obrolan kalian. Apa ada yang bisa menjelaskan siapa itu Baron?", tanya Vino.
"Aku, Emil, Gustav, Rose dan juga Baron adalah teman sepermainan sejak kecil. Rumah kami dahulu bertetangga di kampung. Saat itu tak ada yang menyangka kalau persahabatan kami akan retak seperti ini", Excel mulai bercerita.
"Pada Papa?", tanya Re.
"Ya, pada papa mu Re, dan juga papi mu Vino"
"Apa yang terjadi saat itu, Oom?",tanya Vino lagi.
"Sebelum Baron meninggalkan kampung, terjadi perkelahian hebat antara mereka bertiga. Gustav yang saat itu membela Emil berkelahi Baron. Mereka berdua jago bela diri. Pertarungan itu dimenangkan oleh Gustav. Walaupun mereka bertiga terluka cukup parah. Sejak saat itu Baron bersumpah akan merusak kebahagian mereka. Dan dia membuktikannya"
"Akhirnya adu domba Baron dimulai dna berhasil memecah belah Gustav dan Emil. Sampai akhirnya mereka bertiga kembali berkelahi dan ... Guztav pun tertikam pisau yang di hunuskan Baron. Dia hendak melindungi Emil saat itu. Dan selanjutnya kamu tahu akhirnya Re ...."
Reagan mengangukkan kepalanya. Dia paham benar akhir dari cerita itu. Dia ada dilokasi kejadian bersama papanya. Dia melihat dengan mata kepalanha sendiri papanya yang tertusuk pisau demi melindungi sahabatnya. Juga saat papanya menghembuskan nafas terakhir dihadapannya didalam mobil ambulans.
__ADS_1
Baron dijatuhi hukuman 20 tahun penjara, namun dia berhasil melarikan diri saat tiga tahun masa hukumannya. Dan sejak saat itu menjadi DPO polisi, dan hingga saat ini belum tertangkap. Dan selama lima tahun Reagan dan adik-adiknya hidup dalam perlindungan pihak kepolisian. Atas permintaan Excel.
"Apakah dia masih hidup, Oom",tanya Vino
Belum sempat Excel menjawab, Re lebih dulu memotong pertanyaan Vino.
"Aku yakin dia masih hidup, bukti-bukti yang ada mengarah kepada satu titik. Ya itu sosok Baron. Dan dia juga yang kemarin nyaris menghancurkan perusahaanku dengan serangan Hacker nya"
Vino terperangah. Dia baru mengetahui bahwa orang yang dimaksud musuh oleh Re pada saat itu adalah Baron.
"Jadi sebaiknya apa yang harus kita lakukan?,ucap Vino.
"Tidak ada. Ini adalah urusanku. Dan aku sarankan padamu Vino, jauhi Zazkia. Aku tidak mau dia berada dalam bahaya"
"Maksud Kak Re?"
"Maaf, Oom... Aku permisi dulu. Terima kasih buat semuanya"
"Re ..."
"Ya, Oom..."
"Jangan emosional. Serahkan semua ini pada pihak kepolisian. Jangan melibatkan dirimu dalam bahaya"
"Oom, tak perlu khawatir", Re bangun dari duduknya lalu mengambil tangan Excel dan mencium punggung tangannya. Sebelum Pergi dia sempat bertatapanata dengan Vino dan menepuk lembut pundak laki-laki yang disayangi adik bungsunya itu. Re naik kemobilnya lalu menghilang di keramaian jalan raya.
******
__ADS_1