Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Jejak Masa Lalu - Bagian Dua


__ADS_3

Tok ... Tok ..


Cekreeeeekkk. ..


"Selamat siang, Ndan ... ", seorang opsir polisi mengetuk pintu dan memberi hormat pada Excel.


"Selamat siang, ada apa?"


"Lapor, Ndan ... Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda?"


"Siapa?"


"Gustav Augustine"


"Suruh dia masuk"


Excel mengerutkan keningnya saat mendengar nama Gustav mencarinya dikantornya.


Cekreeeeekkk. ..


"Selamat siang, Ndan ... ",sapa Gustav sambil tersenyum.


"Apa kabarmu kawan? Lama tidak bertemu"


"Kabarku baik, bagaimana dengan mu? Tampaknya makin jaya saya komandan kita ini"


"Bisa saja kamu ini, Gus. Ayo, silakan duduk"


Gustav duduk disofa ruang kerja Excel berhadapan dengan Excel.

__ADS_1


"Apa yang membawamu kesini, Gustav? Dari tatapanmu sepertinya ini hal yang serius"


Hahahahahhaaa....


Gustav terbahak-bahak mendengar perkataan Excel.


"Aku memang tak bisa membohongi mata seorang intel hebat sepertimu", puji Gustav.


"Jangan terlalu memuji"


"Begini, Excel. Aku ingin meminta sedikit bantuanmu"


"Tentang apa?"


"Emilio Mahawira"


"Emil?", lagi-lagi Excel dibuatnya terkejut.


"Aku sudah mendengarnya. Aku paham benar watak kalian berdua. Bukan maksudku mau memuji mu atau memojokan Emilio, tapi aku yakin kamu tak akan berbuat segila itu"


"Itu masalahnya. Ada sebuah janjiku pada Rose yang tak boleh aku sampaikan pada Emil. Tapi tidak mengapa jika aku cerita padamu. Saat ini Rose sedang berjuang sendirian di rumah sakit di Singapura"


"Rumah sakit? Singapura?"


"Ya, Rose sedang hamil tujuh bulan. Dan dokter mendiaknosa ada kelainan pada rahimnya serta riwayat jantung bawaan. Sejak awal kehamilan dokter menyarankan dia untuk menggugurkan kandungannya. Namun Rose bersikeras untuk melahirkan anak itu, apapun resikonya"


"Ya, Tuhan ... Kenapa kamu tak cerita dari awal Gustav?", sesal Excel


"Rose melarangku. Dia memohon padaku untuk tidak menceritakan penyakitnya pada Emil dan dia ingin sekali melahirkan anak itu. Dia pergi dari rumah setelah bertengkar hebat dengan Emil dan sekarang tinggal dengan kedua orang tuanya. Emil tidak mengakui anak itu"

__ADS_1


"Lalu apa yang bisa aku lakukan?",tanya Excel.


"Sebenarnya aku ingin memberitahu Emilio masalah ini tapi kamu tahu kan wataknya, dia tak akan percaya padaku. Aku takut kita tak punya waktu lagi. Keadaan Rose sedang kritis saat ini"


Excel terdiam, dia memimirkan apa yang dikatakan sahabat nya tadi. Jiwa kemanusiaan nya terusik. Akhirnya dia mengambil ponsel dan menekan beberapa nomor.


"Apa kamu sedang sibuk ,Emil?", tanya Excel dari ujung teleponnya.


"Tidak juga, ada apa kamu menghubungiku? Apa ada hal penting?"


"Ya, kirim posisimu dimana aku akan segera kesana. Ada hal penting yang harus aku katakan padamu"


"Baiklah, aku akan send lokasinya"


Klik ... Excel menutup teleponnya.


"Aku harap kamu berhasil, Excel. Aku mengandalkanmu",harap Gustav.


Excel hanya menganggukkan kepalanya lalu mereka keluar dari ruang kerja Excel, menuju parkir kendaraan dan berpisah disana.


******


Excel melajukan kendaraanya menuju lokasi yang diberikan Emilio. Komplek pergudangan di selatan Kota. Excel duduk diam dalam kemudinya, otak kecilnya berfikir bagaimana caranya menyampaikan kabar buruk ini pada sahabatnya yang keras kepala itu.


Huuuhh....


Excel menghembuskan nafasnya kuat-kuat agar sesak dalam dadanya berkurang. Tak butuh waktu lama Excel sudah memarkirkan kendaraannya disana.


Langkah kakinya terasa berat namun rasa kemanusiaan dan Persahabatan nya itulah yang membuat dia mau tidak mau harus Emilio si manusia keras kepala itu.

__ADS_1


******


__ADS_2