
"Kamu tidak kuliah, sayang?", tanya Kevin.
"Sedang libur, Kak", jawab Kia.
"Kak Kevin tumben belum berangkat. Kak Re juga masih ada dikamarnya?"
"Sekali-kali santai boleh dong, sayang"
"Ya, tentu boleh dong Kak. Kak Kevin kan bos nya, lagi pula siapa yang mau marah sama bos"
Hahahahaaa.... Kevin tertawa mendengar ucapan adik bungsunya. Dari atas Reagan turun dengan wajah tak biasa, seperti ada sesuatu yang gawat terjadi.
"Ada apa, Kak?", tegur Kevin.
"Ikut Kak Re sekarang, Dek. Ada sesuatu yang penting terjadi di kantor"
"Baik, Kak", Kevin dengan sigap mengambil jas nya yang ada di kursi.
"Kamu tunggu disini saja ya, Dek. Jangan kemana-mana tanpa izin Kak Re"
"Ya, Kak"
Edzard datang dengan tergesa-gesa.
"Selamat Pagi, Pak Re, Pak Kevin"
"Bagaimana perkembangannya, Ed?"
"Belum ada perubahan, Pak. Masih seperti semalam. Tapi saya sudah memerintahkan para ahli untuk menghadangnya. Sementara ini aman"
Reagan memegang kepala nya dengan tangan sebelah, sementara tangan sebelahnya berada di pinggang. Dia menghela nafas sambil menganggukkan kepala.
"Siapkan beberapa orang untuk mengamankan rumah ini. Keluar masuk atau kegiatan apapun harus dengan izinku. Jangan buat kesalahan"
__ADS_1
Kevin dan Kia saling berpandangan. Sepertinya masalahnya sangat rumit.
"Ayo kita pergi, Dek"
Kevin mengikuti langkah kakak sulungnya. Reagan mengambil alih kemudi mobil, sementara itu Kevin duduk disebelahnya. Kevin memberanikan diri menanyakan masalah yang terjadi.
"Ada apa sebenarnya, Kak. Kenapa Kak Re sampai harus memperkuat penjagaan rumah?"
"Ada hacker yang menyusup dalam sistem komputer perusahaan. Hampir semua cabang kita di rusak oleh hacker. Pagi ini Kak Re dengan di kantor pusat sudah terdeteksi adanya sabotase. Sangat berbahaya jika akses informasi dan sistem data diperusahaan sampai bocor kepihak luar"
"Hacker?"
"Ya"
"Kak Re sudah meminta ahli untuk memblokade sistem?"
"Hmm... Tapi gagal"
"Gagal"
Dalam waktu setengah jam mereka sudah sampai di kantor pusat. Re dan adiknya menuju ruang kerja direktur utama di lantai lima. Re memanggil beberapa orang ahli IT keruangannya. Lima orang ahli IT terbaik dikumpulkan Re. Mereka berdiri berjejer di depan Re yang duduk di belakang meja besarnya. Kevin berdiri disampingnya.
"Apa kalian bisa menarik kembali data perusahaan yang telah dicuri", tanya Re tegas.
"Kami sudah berusaha, Pak. Tapi tampak nya hacker ini sangat ahli. Bahkan posisinya tidak terlacak oleh kami"
"Apa tidak ada jalan lain?", tanya Kevin.
Semua orang disitu terdiam. Tak ada yang berani bicara. Re makin tak sabar melihat semuanya.
"Aku tanya sekali lagi. Apa diantara kalian tidak ada yang sanggup melakukanya?!", tegas Reagan lagi.
Lagi, semua orang terdiam. Sampai salah satu dari mereka angkat bicara.
__ADS_1
"Maaf pak Re, sepertinya saya tahu seseorang yang mungkin bisa membantu Bapak dalam menangani masalah ini"
"Katakan!", ucap Re.
"Dia salah satu adik tingkat saya. Dia lulusan terbaik dari Paris. Dan kebetulan dia sedang berada di kota ini, Pak"
"Kalau begitu, minta dia untuk datang kesini segera. Aku tak perduli berapapun biayanya yang penting semua masalah bisa teratasi"
"Baik, Pak. Akan segera saya hubungi"
Orang tersebut keluar dan menghubungi seseorang dari ponselnya. Tak lama dia masuk kembali keruangan direktur utama.
"Bagaimana?"
"Orang itu bersedia membantu, Pak. Dia sedang dalam perjalanan kesini. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai"
"Baiklah kita tunggu dia disini"
Re berusaha untuk tenang, dia mengatur kembali nafasnya. Tentu saja dia panik, semua aset perusahaan bisa berpindah tangan jika hacker tersebut tidak dihentikan mengambil data perusahaan.
"Kak ... "
"Hmmm...."
"Apa Kak Re punya kecurigaan terhadap seseorang dibalik semua ini"
"Ya, kuat dugaan orang itulah dalang dari semua ini"
"Orang itu?"
"Siapa lagi, Dek!", tegas Reagan.
Kevin mengerutkan dahinya. Dia paham maksud kakaknya, tapi dia tak paham dengan alasannya melakukan semua ini. Kalau memang dugaan kakak sulungnya benar, berarti adik bungsunya dalam bahaya. Pantas saja Kak Re menempatkan bodyguard di rumah, batin Kevin.
__ADS_1
******