Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Tetap Menjaga Rahasia


__ADS_3

Drrr... Drrr...


Dering telepon di ruang kerja Kevin berbunyi nyaring, memecah keheningan dan kekhusyukan Kevin bekerja.


Klik...


"Halo..."


"Maaf, Pak. Ada sambungan telepon dari Pak Reagan buat bapak, apa bapak mau terima?", sekretaris Kevin menghubunginya via interphone.


"Baiklah, tolong sambungkan"


"Baik, Pak. Silakan di line tiga"


.....


Tuuut ... Tuuut ...


"Halo"


"Dek ..."


"Ya, Kak ..."


"Kamu sedang sibuk?"


"Tidak juga, Kak. Ada apa, Kak?"


"Bisa kamu ke kantor Kak Re?"


"Baiklah, satu jam lagi Kevin kesana Kak"


"Oke, Kak Re. Tunggu"

__ADS_1


Kevin kembali mengecek semua berkas yang ada dihadapannya, menyelesaikannya dengan cepat. Satu jam kemudian dia sudah berada didalam mobilnya menuju kantor Reagan. Security dan resepsionis memberi hormat padanya, mereka tahu siapa yang datang kekantor itu. Adik pimilik perusahaan dan orang nomer dua setelah Reagan dalam pemegang saham grup keluarga Augustine. Kevin masuk kedalam lift menekan tombol menuju lantai lima tempat ruang kantor kakak sulungnya.


Tok .. tok ..


Cekreeeeekkk ...


Re menoleh kearah pintu. Melihat siapa yang datang.


"Masuk, Dek"


"Ya, Kak"


Edzard mengambilkan kursi dan meletakkannya berhadapan dengan Reagan yang duduk dibelakang meja besarnya. Re memberi kode pada Edzard, Ed menganguk dan meninggalkan dua orang kakak beradik itu.


"Ada apa, Kak? Tiba-tiba Kak Re menyuruh Kevin kesini. Sepertinya urgent sekali"


"Ada apa dengan Kia? Bukannya kamu semalam bicara dengan Kia?"


"Ya, Kak. Kia semalam cerita sama Kevin. Dia bilang kalau Alviano akan meneruskan studi nya ke Prancis. Dan untuk sementara waktu mereka tak akan bertemu"


"Ya, Kak. Ada apa?"


"Emilio Mahawira dan keluarganya ada di Prancis. Dia menikah lagi dengan perempuan Prancis dan memiliki satu orang putri. Jika Vino kembali ke Prancis, ada kemungkinan Emilio akan merekrutnya. Dan itu sangat berbahaya buat Kia, Dek"


"Emilio Mahawira, papi nya Vino. Apa Kak Re yakin Vino bersekutu dengan Papi nya"


"Kemungkinannya sangat besar, dek. Mereka ayah dan anak kandung. Tapi Kak Re harap dugaan Kak Re salah. Edzard sedang menyelidikinya"


"Kalau saja kejadian itu benar. Bagaimana dengan Kia, Kak. Bagaimana jika dia tahu masalah yang sebenarnya terjadi. Kevin hanya memikirkan perasaan Kia. Kalau urusan Emilio dan kelompoknya Kevin tidak akan gentar"


"Ya, Dek. Itu juga yang jadi pikiran Kak Re"


"Mau tidak mau, Kia pasti tahu dan harus tahu semua ini Kak"

__ADS_1


"Ya, tunggulah sampai saatnya tiba, dek. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi apapun yang akan terjadi nantinya"


Kevin dan Reagan terdiam cukup lama. Mereka benar-benar dibuat pusing oleh situasi ini. Situasi dimana mereka harus mengesampingkan ego mereka demi perasaan seorang perempuan yang paling mereka sayang. Berkali-kali Regan menghela nafas panjangnya. Kevin pun tidak tenang di tempat duduknya.


Tok ... Tok ...


Re dan Kevin menoleh ke arah pintu.


Cekreeeeekkk ...


"Permisi, Pak. Saya membawa laporan yang Bapak minta", Edzard masuk membewa beberapa berkas. Dia menyerahkan nya pada Reagan.


"Sore ini?"


"Ya, Pak. Pesawatnya berangkat dua jam lagi"


"Hubungi dia. Aku ingin bicara. Sekarang"


"Baik, Pak"


Edzard memisahkan diri. Dia berdiri menjauh dari dua kakak beradik itu. Ed mengambil ponselnya, dia menekan beberapa nomor. Re dan Kevin menunggu hasilnya dengan tak sabar.


"Baliau akan segera kesini, Pak"


"Jangan disini, Ed. Privat room bandara. Atur semua. Aku akan segera kesana"


"Baik, Pak"


Re bangun dari duduknya. Dia menyambar kunci mobil dan jas nya. Lalu dia bergegas keluar. Kevin mengikuti langkahnya. Re memasuki mobilnya, dan Kevin punengikuti mobil kakak nya dari belakang. Mereka memacu kendaraannya menuju bandara. Privat room bandara, ruang khusus yang di booking Reagan untuk mereka bertiga.


Bertiga? Ya ... Bertiga.


Dia, Kevin dan ....

__ADS_1


Alviano


******


__ADS_2