Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Membendung Hati Yang Cemburu - bag 2


__ADS_3

Zazkia menaiki tangga dorm satu persatu mengikuti langkah Vino yang berjalan didepannya. Akhirnya mereka sampai di kamar Vino.


"Kak Vino...", Flo langsung memeluk Vino.


Flo yang belum lancar bicara melihat ke arah Kia. Dia memperhatikan Kia dan tersenyum.


"Ciapa...?"


"Teman Kak Vino. Namanya Kak Kia"


"Cantik", celoteh Flo.


Kia berjongkok lalu Flo memeluk Kia. Anak itu senang sekali bertemu dengan Kia. Sepertinya demamnya sudah turun, dari tadi celotehnya tidak berhenti.


"Kamu sudah kembali, Rev"


"Ooh, iya mi. Ini teman ku, Zazkia"


Ellene mengulurkan tangannya. Kia menyembut uluran tangan perempuan yang ada dihadapannya. Dia memperhatikan Ellene dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tak salah lagi, ini adalah perempuan yang kemarin bersama Vino, batin Kia.


"Ellene ..."


"Zazkia ..."


"Teman kuliahmu, Rev?"


"Bukan"


"Hmmm..."


"Ami spécial", ucap Vino 1)


Ellene hanya mengangguk kecil memperhatikan Zazkia lebih lekat.


"Ayo, Flo .. kita pulang. Kamu harus banyak istirahat", Ellene mengajak Flo pulang.


Flo menggeleng. Dia tak mau pergi. Vino dengan sabar membujuknya. Dan akhirnya gadis kecil itu menuruti kata-kata kakak tirinya.


"Jaga dirimu baik-baik, Rev"

__ADS_1


"Selama Papi belum pulang, telepon saja aku jika ada sesuatu yang penting. Mami tak usah khawatir", ucap Rev yang mengantar Ellene sampai ke mobil.


"Mami?", batin Kia yang mendengarkan dari belakang Vino.


Mobil keluarga Mahawira melaju menuju kediaman rumah keluarga Mahawira, kurang lebih lima belas menit perjalanan dari dorm. Vino mengajak Kia masuk ke dalam. Dia membuatkan secangkir coklat hangat untuk perempuan yang lama tak dijumpainya itu.


"Kamu apa kabar, Kia. Aku senang kamu ada disini"


"Kamu berhutang penjelasan padaku, Kak"


"Baiklah. Aku tahu. Maafkan aku jika kejadian tadi membuat mu sedih"


"Jelaskan semuanya, Kak"


"Hmm..."


"Siapa Ellene?"


"Ellene adalah istri kedua papi. Mereka menikah tiga tahun lalu"


"Ellene ibu tirimu?"


"Apa tidak terlalu muda?"


"Dia sahabat kecilku. Rumah kami bertetangga wakti itu. Lalu dia pulang ke Prancis mengikuti Papanya yang berdarah Prancis"


"Sahabat atau mantan pacarmu, Kak?"


Vino terdiam. Dia menoleh ke arah Kia yang menatapnya menunggu jawaban Vino.


"Lebih tepatnya perempuan yang pernah aku sayang"


Deg... Detak jantung Kia seolah berhenti untuk beberapa detik mendengar ucapan Vino.


"Kamu masih mencintainya?"


"Tidak"


"Tapi apa yang kamu lakukan tadi, Kak. Mata mu tak bisa berbohong saat kamu membelai pipi ibu tirimu itu. Aku tak bisa menerima semua ini"

__ADS_1


"Maafkan aku, Kia. Aku hanya terbawa suasana. Demi Tuhan aku tak mempunyai perasaan apapun lagi pada Ellene. Aku tak akan segila itu terhadap istri papiku, Kia. Aku masih waras"


"Harus kah aku percaya padamu, Kak. Sementara kamu dan Ellene berada di tanah yang sama"


"Terserah padamu, Kia. Aku tak menuntutmu percaya padaku. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Aku masih Alviano yang kamu kenal dulu"


Drrr... Drr...


Ponsel Kia berbunyi.


Klik ..


"Halo .. "


"Kamu dimana, Dek", tanya Kevin dari ujung telepon.


"Aku ada disekitaran Route de Saclay Kak"


"Bersama Vino?"


"Hmm..."


"Kita akan terbang ke Jakarta malam ini, sayang. Kak Kevin tunggu di hotel ya"


"Ya, Kak. Kia akan kembali ke hotel sekarang"


Kia menutup teleponnya. Dia berniat kembali ke hotel. Vino memaksanya untuk mengantarkan kehotel. Kia menolak.


"Biar aku antar kamu"


"Tidak usah, aku bisa sendiri"


"Jangan berkeras, Kia. Kamu sekarang bersama ku. Aku harus memastikan kamu sampai pada kakak mu dengan selamat. Aku tak ingin kamu menolak tawaranku"


******


Terjemahan


"Teman istimewa", ucap Vino 1)

__ADS_1


__ADS_2