Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Ellene Moreau


__ADS_3

Vino merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, matanya sulit sekali terpejam, kenangannya bersama Ellene Moreau kembali melintasi kepalanya. Pertama kali dia bertemu Ellene saat dia masih sekolah dasar. Ellene saat itu baru datang dari Prancis bersama keluarga nya, rumah mereka bersebelahan. Papa Ellene bekerja dikedutaan besar Prancis, sedangkan Mamanya asli orang Indonesia. Waktu itu ellen masih berusia tujuh tahun, selisih umur mereka empat tahun.


Ellene yang tidak fasih berbahasa Indonesia saat itu hanya berteman dengan Vino yang saat itu sudah duduk dikelas empat sekolah dasar. Ellene sangat lembut dan manja. Sebagai anak tunggal Vino senang mempunyai seorang teman perempuan.


"Rev, Merci de vouloir être mon ami ", ucap Ellene saat dia sudah bisa beradaptasi dengan baik. 1)


"Pas besoin de remercier. J'adore être amie avec toi, Ellene "2)


"Tu es un homme bon, Rév. "3)


Kedekatan mereka berlangsung sampai Vino kelas dua SMP. Ellene kembali ke Prancis. Mereka harus kembali berpisah.


"A plus tard, Rév. Tu vas me manquer. Je t'aime "4)


Kata-kata terakhir yang di ucapkan Ellene saat berpisah dibandara. Vino harus berpisah dengan sahabat dan cinta pertamanya, mungkin lebih tepatnya cinta monyetnya. Saat itu mereka hanya sepasang anak kecil yang polos dan tulus. Saling berbagi suka dan duka bersama. Selama bertahun-tahun mereka hanya berhubungan lewat surat dan sosial media.


Vino kembali bertemu Ellen saat Vino putus dengan Nesya. Cinta lama mereka bersemu kembali, namun untuk waktu yang singkat. Sampai Ellene memutuskan untuk menikah di usia muda. Bagi Vino tak masalah jika dirinya dan Ellene berpisah, yang jadi masalahnya adalah laki-laki yang menikahi Ellene adalah Emilio Mahawira, Papi nya.


"Je suis désolé, Rev. C'est tout pour les affaires de mon grand-père. Je ne peux pas le refuser "5), ucap Ellene


"Peu importe Ellene. J'étais assez malade pour accepter ce fait "6)


"Rev, aku tak bermaksud menyakitimu. Maafkan aku", Ellene menangis tersedu-sedu.


Sebenarnya saat itu Vino ingin sekali memeluk Ellene, tapi saat itu Ellene sudah menjadi istri Papinya, ibu tiri Vino.


"Andai saja laki-laki itu bukanlah Papi, aku akan berjuang merebutmu kembali. Tapi mungkin takdir kita Ellene. Takdir kita untuk bersama"


"Rev...", Ellene memanggil Vino.

__ADS_1


Namun Alviano berlalu dan pergi dengan cepat dari hadapannya. Dan tak pernah lagi kembali. Ellene bersama Emilio kembali ke Prancis. Sedangkan Vino memilih tetap di kotanya.


Disaat hatinya tak menentu itulah Vino bertemu dengan Kia. Dan akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Kia sebagai pelabuhan hatinya yang terakhir.


******


Siang itu Vino bangun dengan wajah lusuh, semalam adalah malam yang berat. Pikiran dan hatinya tidak berada dalam tubuhnya. Baru pukul tiga pagi dia bisa memejamkan matanya. Dia berusaha bangun dari tempat tidur dan segera membersihkan dirinya.


Setengah jam kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk dipinggangnya dan menyeka rambutnya dengan selembar handuk kecil. Dia duduk diatas tempat tidur. Matanya melirik pada ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur.


Lima panggilan tak terjawab dan sepuluh pesan ada di ponselnya. Dia mengabaikan pesan dan panggilan lain. Dua pesan dan dua panggilan tak terjawab dari Zazkia menjadi pusat perhatiannya.


"Kak Vino, apa aku menggangumu?"


"Jika senggang tolong hubungi aku kembali"


Tuuut.... Tuuut...


Klik ...


"Halo .. Kia"


"Halo... Kak Vino"


"Maaf aku baru menghubungimu. Aku baru saja bangun. Semalam aku sibuk sekali dengan tugas kuliahku. Apa kabarmu?"


"Baik, Kak. Kak Vino jaga kesehatan disana ya. Jangan terlalu memaksakan diri"


"Iya, Kamu tenang saja. Ada apa kamu menghubungiku tadi?"

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Kak. Hanya saja ... "


"Kamu rindu padaku?"


Zazkia terdiam. Dia tersenyum diujung teleponnya sana. Perlahan dia menjawab.


"Ya..."


"Aku juga Rindu, Kia. Rindu sekali. Tapi aku sudah mengikatmu dengan doaku. Sabar ya, nanti kita akan bertemu lagi"


"Aku harap tak akan lama, Kak"


"Kamu belajar yang rajin. Kak Vino ingin kamu sukses dengan masa depanmu. Percayalah aku akan datang menjemputmu. Aku akan menepati janjiku padamu, Kia"


******


Terjemahan:


1). "Rev, Terima kasih sudah mau menjadi temanku", ucap Ellene saat dia sudah bisa beradaptasi dengan baik.


2). "Tidak perlu berterima kasih. Aku senang berteman dengan kamu, Ellene"


3). "Kamu pria yang baik, Rev"


4). "Sampai nanti, Rev. Aku akan merindukanmu. Aku mencintaimu"


5). "Maaf, Rev. Ini demi perusahaan kakek saya. Saya tidak bisa menolaknya" 5), ucap Ellene


6). "Tidak apa-apa Ellene. Aku cukup sakit untuk menerima fakta ini"

__ADS_1


__ADS_2