Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Pertarungan Dua Laki-laki


__ADS_3

Sudah sepuluh jam Zazkia belum ditemukan juga. Tidak ada ancaman minta tebusan sejumlah uang dari penculiknya. Re dan Kevin dengan gelisah.


"Selamat malam, Pak Re, Pak Kevin"


Re dan Kevin menoleh saat Edzard datang menemui mereka. Wajah mereka penuh harap pada berita yang dibawa Ed.


"Apa ada kabar baik, Ed?", tanya Re tak sabar.


"Kami berhasil melacak sinyal ponsel Nona Kia dari watch phone nya, Pak. Beberapa orang sudah saya kerahkan melakukan pengintaian dilokasi"


"Dimana lokasinya, Ed?"tanya Kevin.


Ed mengeluarkan tablet nya dia membuka peta lokasi keberadaan Kia.


"Ingat Ed, prioritaskan keselamatan Kia"


"Saya mengerti, Pak"


"Kita kesana, Kak!"


"Ya", ucap Re sambil membuka brangkas di ruang kerjanya.


Dia mengambil Pistol M1911 "mainan" tua yang melegenda di kepolisian Amerika itu. Lalu langsung menyambar kunci mobilnya. Re menyerahkan kunci mobil itu pada Kevin.


Kevin duduk dibelakang kemudi. Re sibuk mengisi peluru pada "mainan tua" kesayangannya. Kevin melirik pada kakak sulungnya itu.


"Kevin harap kita tidak terlambat, Kak"


Re menghentikan kegiatannya. Matanya melotot. Rahangnya mengeras.


"Jika Kia lecet sedikit saja, peluru besi ini akan bersarang dikepala mereka. Kak Re tak main-main, Dek"

__ADS_1


Kevin mengangguk. Dia mempercepat laju Lamborghini Aventador SVJ Roadster, hanya butuh empat puluh menit untuk sampai di komplek pergudangan tua itu. Erzard tiba beberapa menit kemudian. Puluhan orang mengepung tempat itu.


Re berjalan dengan gagah memesuki gedung tua itu. Kevin mengikuti langkah kakaknya. Pandangan mata mereka awas kesegala penjuru gedung. Mereka sampai pada satu ruangan di sudut gedung. Dua orang penjaga yang ada disana langsung menyerang mereka.


Re dan Kevin yang sejak kecil terlatih bela diri itu tidak mengalami kesulitan menghadapi kedua penjaga berotot besar itu. Kevin mendobrak pintu ruangan, lalu berlari menghampiri Kia yang terikat. Dia melepaskan seluruh ikatan pada tubuh adiknya itu. Kia memeluk Kakaknya erat-erat,


Kevin menghujani adik bungsimunya itu dengan ciuman di pipi dan kening nya. Terbayar sudah ketakutan yang ia rasakan setelah melihat Kia dalam keadaan selamat.


"Kamu tidak apa-apa, sayang? Orang itu tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu, bukan?"


"Ya, Kak. Kia baik-baik saja"


Re masuk kedalam ruangan itu setelah menghajar dua orang teman penjaga yang sudah di buatnya keok sebelumnya.


"Dek ... ", panggil Re.


Kia berlari memeluk Kakak sulungnya. Dia menangis dalam pelukan Re.


Re memeluk erat-erat adik perempuan kesayangannya itu.


"Tenang, Dek. Kak Re ada disini, jangan takut"


Mereka bertiga meninggal kan ruangan itu. Edxard ada dua orang lainnya mengawal tiga kakak beradik itu menuju mobil. Tiba-tiba datang sebuah mobil menghadang jalan mereka. Kevin langsung menarik tangan Zazkia dan berdiri di hadapannya. Re maju paling depan, menyambut kedatangan "tamu" mereka.


"Apa kabar, Reagan??!! Lama tak melihat wajah sombongmu", ejek Baron yang turun dari mobil.


Reagan dengan tenang menghadapi aura kehadiran Baron yang tidak bersahabat itu. Seringai senyum Re tak gentar menghadapi gertakan Baron.


"Tak perlu banyak basa-basi, Oom. Aku muak mendengarnya"


"Mana sopan santun mu, Re? Apa Gustav tak pernah mengajarkan mu etika berbicara pada orang yang lebih tua"

__ADS_1


Hahahahahaaaa....


Tawa mengejek Baron membuat panas hati Kevin. Dia hendak maju dan menyerang Baron, namun Reagan menahannya. Kevin menoleh pada kakak sulungnya, Re memberi kode agar Kevin mundur dan menjaga Kia.


Sebenarnya emosi Kevin sudah sampai pada puncaknya, namun dia menuruti perintah Re, dia mundur dan menjaga Kia yang berada di belakang punggungnya.


"Bersiaplah anak muda",tantang Baron yang dengan cepat melayangkan tinjunya ke arah Re.


Re bisa dengan tepat menghindari bogem mentah Baron. Perkelahian satu lawan satu di antara mereka semakin tegang. Kedua laki-laki itu jago berkelahi. Baron pun bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Diusianya seperti itu, tubuhnya masih terjaga dengan baik. Gerakannya lincah dan cepat.


Keduanya sama kuat dan tak ada yang mau mengalah. Baron dengan cepat menarik pistol yang terselip dilengan Re sehingga pukulan Re meleset dan dia kehilangan keseimbangan lalu jatuh ketanah. Tanpa memberi kesempatan lagi, Baron menodongkan pistolnya kekepala Re.


"Aku akan membawamu menemui Papa mu di neraka sana, Re. Berdoalah dalam hatimu"


Kevin yang melihat kakaknya terpojok hendak membantunya, namun Baron membaca gerakannya.


"Jika kau bergerak lagi dari tempat mu, maka kepala kakakmu ini akan segera kuledakkan!",ancam Baron.


Baron siaga menarik pelatuknya perlahan-lahan. Senyum penuh kemenangan yang mengejek terlukis dibibir laki-laki beringas itu.


"Menangislah untuk kesialanmu malam ini, Re",ejek Baron.


Doooorr.....


Suara tembakan pistol memecah keheningan malam.


Klotaaakkk...


Bruggg...


Baron terjatuh di jalan sambil memegang lengannya yang terluka. Semua mata membelalak melihat apa yang terjadi. Semua diluar dugaan mereka. Ada sedikit rasa lega di hati Kevin dan Kia melihat kakak sulung mereka selamat.

__ADS_1


******


__ADS_2