
Alviano meneruskan pendidikan masternya di École Polytechnique dengan jurusan Cyber Security. Universitas yang terletak di 91128 Palaiseau, Île-de-France, Perancis itu merupakan salah satu kampus ternama di Prancis. Selama disana Vino tinggal disebuah dorm yang dia sewa, lokasinya tidak jauh dari kampusnya. Sepulang kuliah dia bekerja di sebuah kafe hingga pukul sepuluh malam.
Vino sengaja tidak tinggal dirumah keluarga nya di sana. Dia benar-benar ingin melatih kemandiriannya. Emilio Mahawira, papinya, sangat disegani di sana. Pengusaha hotel dan tempat hiburan malam di Prancis. Sahamnya bertebaran di beberapa Bar dan hotel ternama disana.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Bonjour monsieur Revzan, je vous livre un message de M. Emilio, vous attendez chez vous maintenant. il y a des choses importantes qu'il veut vous transmettre monsieur", ucap Fred, Assisten kepercayaan Emilio.1)
"Je n'ai pas le temps, Fred ", ucap Vino datar 2)
"Veuillez être sage, monsieur "3)
"La prochaine fois "4)
"Désolé monsieur, on vous a demandé de venir aujourd'hui "5)
Vino menghela nafas panjang.
"D'accord, je serai là cet après-midi "6)
Fred membungkuk. Memberi hormat pada tuan mudanya lalu pergi. Vino kembali merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Pikirannya tak menentu. Sudah hampir satu bulan dia berada di Prancis. Sudah satu bulan dia berpisah dengan Zazkia.
"Kak Vino kok setega itu padaku, kenapa tidak memberitahuku kalau Kak Vino akan terbang ke Prancis"
"Maaf, Kia. Aku ada urusan mendadak. Jadi aku harus segera terbang ke Prancis malam ini juga. Aku harap kamu mau mengerti"
"Kak, aku paham Kak Vino sibuk. Tapi paling tidak Kak Vino bisa mengabari aku. Aku cemas dengan Kak Vino yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar beberapa hari ini"
Percakapan terakhir mereka ditelepon terngiang-ngiang ditelinga Vino. Bukan hanya itu saja, pikirannya terhenti pada pembicaraanny dengan kedua anak laki-laki keluarga Augustine. Perlahan-lahan matanya mulai terasa berat. Dia pun tertidur pulas sampai akhirnya ia terbangun, matahari sudah bertahta di singgasananya. Pukul 12 siang waktu Prancis. Dia bangun dan membersihkan wajahnya. Membasuhnya dengan kesegaran air. Lalu berganti pakaian dan pergi meninggalkan dorm nya.
******
Vino menuju pusat kota dengan kereta bawah tanah Paris, Metro. Jalur Metro di Paris termasuk paling rumit dibanding di kota lainnya di Eropa. Tetapi paling lengkap dan komprehensif. Cukup mudah mengikuti jalur-jalurnya dengan membaca petunjuk yang ada di tiap stasiun. Siang itu Vino menyusuri kota Paris, Prancis, yang terkenal sebagai kota paling romantis didunia. Banyak tempat-tempat yang dikhususkan untuk pasangan yang hendak menghabiskan waktu romantisnya berdua.
Tok .. tok ...
Cekreeeeekkk ...
Vino membuka pintu ruang kerja Emilio. Disana Emilio sedang duduk di meja kerjanya yang besar dengan setumpuk berkas yang ada disana.
"Duduklah", ucap Emilio melihat Vino datang.
__ADS_1
Alviano menyandarkan tubuhnya pada sofa yang empuk itu. Dia memperhatikan sekelilingnya. Ruangan itu tidak berubah. Masih sama seperti terakhir kali dia kesana
"Sudah lama kamu tidak kesini. Bagaimana kabarmu, Vin?"
"Baik, Pi. Ada apa papi memanggil ku kesini?"
Emilio berjalan duduk disofa besar itu, berhadapan dengan putra nya. Ekpresi wajah Vino sangat datar. Dia tak terlalu terlihat senang bertemu dengan Papinya.
"Papi dengar kamu mengambil gelar mastermu di École Polytechnique?"
"Hmm..."
"Papi senang mendengarnya. Kamu bisa tinggal disini jika kamu mau. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Kamu anak papi tertua. Papi sangat mengharapkanmu untuk meneruskan bisnis Papi"
"Bisnis Papi? Bisnis yang mana? Bisnis kotor papi? Vino tidak berminat, Pi"
"Kamu yakin bisa hidup tanpa bantuan ku, Emilio Mahawira? Namaku dan darahku yang mengalir dalam tubuhmu tak bisa kamu pungkiri lagi. Mau tidak mau..."
"Vino tidak mau, Pi! Vino punya jalan sendiri. Vino ingin memulai usaha Vino sendiri"
"Usaha kamu sendiri?"
"Benar, Pi. Vino punya pilihan hidup sendiri"
"Baiklah. Lakukan sesukamu"
"Pi ..."
Emilio menoleh pada Vino.
"Ada apa dengan keluarga Augustine, Pi"
"Augustine?", Wajah Emilio mendadak berubah.
"Iya, apa yang terjadi antara papi dan keluarga Augustine?"
"Itu bukan urusanmu, Vino"
Emilio meninggalkan putra nya seorang diri. Vino hanya menghela nafas panjang. Detak jantung nya membuat dia semakin geram, dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara Papi nya dan keluarga Augustine.
Cukup lama Vino mengatur nafasnya diruangan itu, menstabilkan detak jantungnya yang semula memburu. Dia bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan itu. Melewati lorong rumah yang terasa dingin dan sepi.
"Rev ... Kapan kamu datang?"
__ADS_1
Vino menoleh. Suara yang sangat dia kenal. Seorang perempuan mungil berkulit putih dan bermata hijau. Rambutnya kecoklatan. Paduan yang khas dari Asia Tenggara dan Eropa. Suaranya lembut, membuat hati Vino bergetar dibuatnya.
"Apa kabarmu, Rev?"
"Kabarku, baik Mi"
"Kamu menginap disini, bukan?"
"Tidak, aku akan kembali ke dorm ku, Mi"
Suara obrolan mereka terputus dengan suara tangisan bayi dari dalam kamar. Ellene bergegas kedalam. Dia mengambil bayi perempuan mungil itu dari buaiannya. Vino mendekatinya.
"Anak ini ... "
"Aku melahirkannya setengah bulan yang lalu. Floretta"
"Boleh aku menggendongnya?"
Ellene menyerahkan baby Flo pada Vino. Baby Flo sangat tenang berada di gendongan Vino, kakak tirinya. Dia bayi perempuan yang cantik wajahnya mungil dan lembut, sama seperti Ellene. Vino mencium kening baby Flo. Rasa sayang nya pada bayi itu ditumpahkan saat itu. Bergetar hatinya mencium bayi cantik itu. Lalu dia meletakkan baby Flo yang sudah tertelap dalam buaiannya.
"Kamu mau kemana, Rev?"
"Aku mau kembali ke dorm. Oiya, selamat atas kelahiran bayi cantikmu. Aku senang kamu bahagia bersama Papi. Maaf aku permisi dulu"
"Rev. .."
Ellene tak bisa mencegah Vino pergi. Ada bulir air mata yang menggenang di ujung matanya. Ellene menyekanya. Hatinya masih terasa sakit, namun inilah takdir yang harus mereka jalani. Dia dan Revzan Alviano Mahawira. Tidak, lebih tepatnya dirinya seorang.
******
Terjemahan :
1) "Halo Tuan Revzan, saya mengirim pesan dari Tuan Emilio, Anda sedang menunggu di rumah sekarang. Ada hal-hal penting yang ingin ia sampaikan kepada Anda, Tuan", ucap Fred, asisten kepercayaan Emilio.
2) "Aku tidak punya waktu, Fred", ucap Vino datar.
3) "Tolong bijaksanalah, tuan"
4) "Lain kali"
5) "Maaf tuan, Anda diminta datang hari ini"
6) "Oke, aku akan ke sana siang ini"
__ADS_1