Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Vino memacu mobilnya melewati jalan-jalan kampung yang becek dan berbatu. Mobil baru yang tahan dengan segala medan itu dia beli dari hasil usahanya. Dia membuka perusahaan barunya berbasis multimedia. Perusahaan yang baru satu tahun lebih berdiri itu mulai berkembang dan memiliki pangsa pasar yang diminati orang banyak.


Sejak dia duduk di tingkat dua strata satu, dia sudah merintisnya. Dan saat dia sudah mempunyai modal yang cukup dari tabungannya sendiri, dia membesarkan perusahaannya itu, dan baru satu tahun ini memiliki izin sebagai sebuah PT. Sekarang dia seorang CEO di perusahaan miliknya itu.


Hari ini dia bertekad untuk mencari tahu kebenaran dibalik perselisihan kedua keluarga itu. Entah kenapa hatinya tergerak untuk menemui salah satu sahabat Papinya, Excel Gunarto, seorang mantan inteligen hebat di masanya yang pernah bekerja di markas besar kepolisian pusat.


Tok ... Tok...


Cekreeeeekkk ...


Seseorang membukakan pintu untuknya.


"Maaf, apa benar ini rumah Oom Excel Gunarto?"


"Iya, benar. Mas nya ini siapa ya?"


"Saya Vino. Apa bisa saya bertemu dengan Oom Excel?"


"Baiklah, silakan tunggu sebentar. Saya akan panggilkan Bapak"


Vino duduk di kursi yang berada diteras rumah. Rumah sederhana di perkampungan, sangat jauh dari kesan mantan seorang pejabat kepolisian negara. Excel keluar dari dalam rumah dan menemui Vino.


"Oom Excel, apa kabar? Masih ingat dengan saya Oom?",sapa Vino saat melihat kedatangan Excel.


"Oo, maaf... Siapa ya?!"


"Saya Revzan Alviano Mahawira, Oom. Putra Emilio Mahawira"

__ADS_1


"Astaga... Kamu Vino. Anaknya Emil?"


"Ya, Oom...", Vino menyalami Excel.


"Ya, ampun... Kamu sudah besar sekarang. Bagaimana kabar Papimu?"


"Kabar baik, Oom. Papi ada di Perancis"


"Sepertinya bisnisnya makin maju. Kamu sendiri bagaimana Vino?"


"Vino sekarang sedang merintis usaha sendiri"


"Oom senang mendengarnya. Kamu pekerja keras"


Vino tersenyum mendengarnya.


"Maksud khusus?"


"Vino ingin menanyakan sesuatu, apa yang terjadi antara keluarga Augustine dan Mahawira?"


Excel terlihat sedikit terkejut mendengar ucapan Vino. Dia menggeser posisi duduknya.


"Untuk apa kamu menanyakan itu, Vino?", tanya Excel yang mulai serius bicaranya.


"Aku ingin tahu ada kebencian apa diantara dua keluarga itu sehingga menghalangi kami berdua"


"Kami berdua?"

__ADS_1


"Aku dan putri bungsu keluarga Augustine saling mencintai oom. Namun papi menentang keras hubungan kami. Begitu juga dengan kedua kakak Zazkia. Tolong katakan sejujurnya yang Oom tahu pada Vino"


Excel hanya terdiam. Dia menghela nafas panjang. Sepertinya dia berat mengungkapkan semua ini.


"Vino mohon, Oom..."


"Apa.... Papimu tahu kamu kesini Vino?"


"Tidak Oom. Beberapa bulan lalu kami bertengkar. Papi memutuskan hubungan darah denganku setelah tahu hubungan Vino dengan Zazkia"


"Astaga, Emil... Dia masih saja keras hati. Dan kamu pun sama seperti papi mu. Watakmu keras"


Vino hanya diam. Dalam hati dia meng-iya-kan perkataan Excel. Andai saja dia lebih bersabar, pastinya pertengkarannya dengan papinya itu tak akan pernah terjadi.


"Jadi kamu dan putri keluarga Augustine mempunyai hubungan, begitu maksudmu Vino?!"


"Kami sudah lama mengenal. Vino berniat menikahi Kia, Oom. Tapi masalah ini menjadi penghalang kami bedua"


"Ya, posisi kalian sulit Vino. Sebenarnya ini hanya kesalahpahaman saja"


"Kesalahpahaman apa, Oom?"


"Kesalahpahaman yang berujung maut antara Emilio Mahawira dan Gustav Augustine"


"Maut? Kematian siapa, Oom?"


Excel kembali mengubah posisi duduknya, kali ini matanya menatap kosong jauh kedepan. Mencari lagi jejak masa lalu mereka dalam rekaman memorinya.

__ADS_1


******


__ADS_2