Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Keresahan Dua Lelaki


__ADS_3

Kevin memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Kia pamit dan langsung menuju kamarnya. Membersihkan diri lalu tidur. Kevin keluar dari kamarnya. Dia melihat Reagan masih duduk di balkon lantai atas. Dia menikmati semilir angin malam yang lembut, langit yang cerah berbintang.


"Kak ..."


"Hmmm...", Reagan menoleh.


"Belum tidur, Dek?"


"Belum, Kak. Kak Re juga belum tidur?"


"Ya"


"Kak.."


Reagan membalikkan badannya, dia menyandarkan tubuhnya di tembok balkon.


"Ada masalah apa, Kak. Sepertinya Kak Re sedang ada fikiran?"


"Bagaimama menurutmu laki-laki yang bernama Vino tadi?"


"Dari mata dan gesture tubuhnya, sepertinya dia orang baik-baik?"


"Ya, Kak Re setuju dengan pendapatmu. Tapi apa kamu tahu latar belakang keluarganya?"


"Tidak"


"Kedua orang tuanya bercerai saat dia masih berumur tiga bulan. Lalu ayahnya menikah lagi dengan perempuan Prancis. Dia sejak kecil tinggal dengan ibunya di kampung sebelah"


"Lalu?"


"Lalu apa kamu tahu siapa dia, Kevin?"


"Siapa dia, Kak?"


"Revzan Alviano Mahawira, biasa di panggil Vino. Putra tunggal Emilio Mahawira"


Kevin terkejut mendengarnya.


"Jadi dia cucu dari kakek tua menyebalkan itu, Kak?"


"Hmmm.."


"Kia bagaimana, Kak?"


"Kia tak perlu tahu hal ini. Tapi ini pasti berat sekali, Dek"


"Maksud Kak Re?"


"Tampaknya mereka berdua saling menyukai. Apa kamu tak memperhatikannya tadi, Dek?"


"Ya, Kak. Kevin tahu itu. Dan itu akan jadi masalah besar buat kita nantinya"


"Lebih baik Kia tak perlu tahu hal ini"


"Tapi Kak, apakah Vino benar-benar tulus?"

__ADS_1


"Hati orang siapa tahu, Dek. Kita harus waspada. Kak Re tidak mau terjadi apa-apa dengan Kia"


"Kevin juga tidak mau, Kak"


******


"Pagi, sayang", sapa Kevin melihat adik nya turun dari kamar.


"Pagi, Kak... Kak Re mana?"


"Sepertinya belum turun. Kamu mau kemana, sayang? Hari minggu begini sudah rapi?"


"Kia ada janji dengan kawan, Kak"


"Dengan Vino?"


"Iya", Kia menjawab malu-malu.


Kevin mengusap-usap kepala si bungsu kesayangannya itu. Dia tersenyum.


"Sayang, hati-hati dijalan. Jaga diri baik-baik, ya?"


"Iya, Kak. Kia pergi dulu ya, Kak. Tolong pamitkan pada Kak Re ya ..."


"Perlu Kak Kevin antar?"


"Tidak usah, Kak. Kak Vino sudah didepan"


Mendengar Vino di depan, Kevin bangun dan mengikuti langkah adiknya. Benar saja Vino sudah menunggunya didepan. Melihat Kia datang bersama Kevin, Vino turun dari motor nya.


"Pagi, Kak ..."


"Mau menemani Kia mencari sesuatu, Kak", jawab Vino santai.


"Hati-hati dijalan"


"Baik, Kak. Kami permisi dulu"


Vino mengambil tangan Kevin dan mencium punggung tangannya. Lalu Kia mengikuti nya.


"Kia berangkat dulu ya, Kak ..."


"Hati-hati dijalan, sayang. Ingat pesan Kak Kevin tadi ya..?!"


Cup ...


Kia mengangukkan kepala lalu memberikan kecupan pada Kevin. Honda CB150R Streetfire nya melaju dengan kecepatan sedang dijalan raya. Mereka menuju pusat perbelanjaan.


******


Reagan yang baru turun dari kamar nya siang hari, mencari adiknya. Dia menjumpai Kevin ada di halaman belakang seorang diri di depan meja bilyard. Re langsung mengambil stik bilyard nya dan bergabung dengan Kevin.


"Wah, Kak Re selalu punya bidikan tepat"


"Kamu nya saja yang lengah, Dek"

__ADS_1


"Hmmm..."


"Kia kemana?"


"Tadi pagi pamit pergi bersama Vino"


"Vino?"


"Ya"


Reagan melihat jam tangannya, hampir pukul sebelas siang.


"Kak Re kelihatannya sibuk sekali, sehabis sarapan tidak keluar lagi dari kamar. Kia tadi pamit pada Kevin, Kak"


"Hmmm..."


Mereka melanjutkan permainan serunya. Re selalu unggul dari adiknya. Re menghidupkan musik dari player, memanjakan diri dengan keriuhan musik "bar-bar", menantang jiwa liarnya untuk bergerak. Segelas kola dingin membuat dingin sekujur tubuhnya. Kevin dengan santainya mengikuti irama kakak sulungnya.


Dalam bidikan berikutnya Re memenangkan pertandingan. Kevin hanya mesem-mesem melihat kekalahannya terhadap Re untuk kesekian kalinya.


"Kita makan dulu Kak. Kevin lapar jadi tidak konsentrasi main"


"Boleh juga ngeles nya, Dek", Re tertawa mendengarnya.


Mereka berdua menuju meja makan. Menikmati makan siang mereka berdua.


"Selamat siang, Pak Re"


"Siang, Ed", Edzard datang saat mereka selesai makan siang.


"Saya membawa apa yang Bapak minta"


Edzard memberikan amplop berisi berkas laporan penyelidikannya pada bos nya itu. Kevin hanya duduk diam dan memperhatikan mereka.


Reagan membaca berkas-berkas itu dengan teliti. Mengulangnya berkali-kali. Dan pada akhirnya dari ekspresi wajahnya dia sepertinya sudah mendapat kesimpulan.


"Dimana posisi mereka sekarang, Ed?", tanya Reagan.


"Dirumah kontrakan laki-laki itu di kampung sebelah"


"Kamu tidak melepaskan mereka berdua begitu saja bukan?"


"Saya menyuruh orang untuk mengawasinya dari jauh. Saya akan memastikan keamanan Nona Zazkia, Pak. Bapak tidak perlu khawatir"


"Lakukan yang kamu anggap benar, aku tak mau sampai ada kesalahan. Ingat prioritaskan Zazkia"


"Baik, Pak"


"Untuk ini, akan aku pelajari dulu. Tunggu instruksi selanjutnya"


"Baik, saya permisi Pak Re, Pak Kevin"


Re dan Kevin mengangukkan kepalanya saat Edzard pamit dan memberi hormat pada mereka.


"Apa ada masalah, Kak?"

__ADS_1


"Tidak ada. Sejauh ini aman terkendali"


******


__ADS_2