
Memang benar waktu dan kesibukan bisa membantu kita melupakan segala hal buruk yang terjadi. Selama berbulan-bulan ini Kia menyibukkan diri membantu Re dalam mendesign promosi produk baru yang akan dikeluarkan salah satu perusahaannya. Re sengaja mengajak Kia bekerjasama untuk menghilangkan rasa trauma setelah kejadian penculikan itu.
Hasilnya Kia menjadi lebih semangat dan rilexs. Setelah tiga bulan proyek kakak beradik itu akhirnya launching dipasaran. Design promosi yang di buat Kia membuat tingkat penjualan meningkat pesat. Re sangat puas dengan kerja adik bungsunya itu.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ..
Kia dan Re menoleh ke arah pintu masuk. Kevin datang siang itu hendak mengajak kakak dan adiknya makan siang di luar.
"Siang Kak Re .... Halooo sayang ...",sapa Kevin pada Re dan Kia.
Re yang sedang menerima telepon dari relasi bisnisnya mengangukkan kepala membalas salam adiknya.
"Selamat sayang, berkat design darimu omset perusahaan meningkat. Kak Kevin bangga padamu"
"Kak Kevin berlebihan. Kia kan baru belajar. Jangan diledek dong",rajuknya pada Kevin.
"Eeh... Kak Kevin serius lo sayang. Bener. Kak Kevin sudah membaca laporan nya"
Kia tersenyum. Dua kakak beradik itu asyik mengobrol disofa.
"Bagaimana dengan bos mu itu sayang?", Kevin melirik pada Re.
Kia yang paham maksud kakak kedua nya itu tertawam. Dia mendekat mendekat dan berbisik pada Kevin. Kevin menaikkan alisnya saat dia mendengar ucapan Kia. Dan beberapa menit kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal.
Re menghela nafas panjang melihat kelakuan kedua adiknya. Dia mendekati keduanya, lalu duduk dihadapan mereka.
"Jadi sekarang kamu sudah berkomplot dengan Kak Kevin mu ya, Dek?! Bagus sekali", ucap Re.
Kia hanya tersenyum mendengar protes Kakak sulungnya. Tapi dalam hatinya dia merasa senang memiliki dua sayap yang kokoh yang selalu melindunginya.
"Kita mau makan dimana. Kak Re sudah lapar",ajak Re.
"Ditempat biasa saja, Kak. Kevin sudah booking tempat tadi"
"Baiklah, Ayo tunggu apa lagi?!", Re bangun dari duduknya diikuti oleh kedua adiknya.
Mereka menuju reatoran langganan mereka. Menghabiskan waktu makan siang bersama kakak beradik.
******
Pukul lima sore Kia hendak bersiap pulang. Ponselnya berdering, dia melihat pada layar ponselnya lalu menggerser tombol hijau pada layar ponselnya itu.
"Hi, sayang ... Apa aku menggangumu?", tanya Vino di ujung telepon.
"Tidak, Kak. Ada apa?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Baiklah"
__ADS_1
"Oke, aku akan menjemputmu sekarang"
Klik ...
Kia kembali ke ruangan Reagan.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk. ..
"Kak ..."
"Hmmm..."
Regan sudah bersiap juga hendak pulang.
"Kia izin pulang terlambat ya, Kak"
"Kamu mau kemana, Dek?"
"Kak Vino mengajakku keluar malam ini"
"Vino?"
"Ya"
"Dimana dia?"
"Kak Re pastikan dulu kamu benar-benar bersama dia, Dek"
Kia tersenyum. Mereka sama-sama menuju lobi dan menunggu kedatangan Vino.
"Sore Kak Re",sapa Vino sambil kemudian menyalami Reagan.
"Sore, Vino. Kalian mau kemana?"
"Maaf Kak Re. Kalau boleh Vino minta izin bawa Kia keluar sebentar malam ini. Kami ingin bicara sebentar"
"Baiklah, tapi jangan pulang terlalu malam ya"
"Baik, Kak"
Mereka berdua berpamitan pada Reagan. Lalu menuju kafe langganan mereka. Vino sudah memesan tempat khusus buat mereka. Tak lama pelayan kafe datang membawa pesanan mereka. Kia yang memang sudah lapar, menghabiskan spaghetti pesanannya. Vino tertawa geli melihat Kia yang seperti orang kelaparan.
"Kamu lapar atau kelaparan, sayang", tanya Vino geli.
"Lapar"
"Ya, sudah. Pelan-pelan makannya"
Setelah menghabiskan makanan barulah Vino memasang wajah serius. Dia memulai pembicaraan dengan zazkia.
__ADS_1
"Sayang ... "
"Ya, Kak..."
"Aku ingin bicara serius dengan kamu"
"Masalah apa, Kak?", Kia menaikkan alisnya. Dia heran Vino bersikap seserius ini.
"Sayang, dulu aku pernah memintamu untuk menungguku, bukan"
"Hmmm..."
"Dan sekarang aku rasa sudah saatnya aku harus memutuskannya"
Vino menarik nafas untuk beberapa saat sebelum melanjutkan perkataannya itu.
"Aku sudah memutuskan. Aku akan melamarmu dan segera menikahimu"
Sontak saja Kia kaget dan melotot mendengar ucapan Vino, sekali lagi dia meyakinkan bahwa dia tidak salah mendengarnya.
"Menikah? Kak Vino yakin?"
"Yakin. Aku sangat yakin dengan keputusanku ini"
"Kak, bagaimana dengan masa lalu keluarga kita. Aku takut Kak"
"Kamu takut apa sayang? Takut kalau Kak Re atau Kak Kevin menentang kita? Atau takut kalau Papi akan menghalangi kita?"
Kia menganguk.
"Kamu tidak usah takut, Papi tidak mempermasalahkan lagi semua itu. Dia sudah bisa menerima kamu sebagai perempuan yang aku sayangi. Dan masalah kedua kakakmu, aku akan memintanya baik-baik"
"Tapi Kak ... "
"Kamu jangan khawatir. Aku tak akan gentar menghadapi kedua kakakmu. Niatku baik, dan aku yakin mereka juga tak akan berfikir buruk", ucap Vino yakin.
"Sayang ...",panggil Vino lembut.
Kia menoleh.
"Zazkia Sheva Augustine, lihatlah dihadapanmu, aku... Revzan Alviano Mahawira, memintamu dengan sangat dari lubuk hatiku terdalam. Mau kah kamu menikah denganku? Menjadi perempuan halalku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?"
Zazkia tak bisa mengontrol hatinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari irama biasanya. Wajahnya bersemu merah.
"Iya, Kak ... Aku mau menikah dengan mu. Aku mau menerima mu sebagai imam terbaik dalam hidupku"
Vino tersenyum bahagia. Wajahnya begitu sumringah. Dia tak sabar menunggu hari yang tepat untuk meminta izin pada kedua kakak Zazkia.
"Terima kasih, sayang. Segera aku akan menghadap pada kedua kakakmu"
******
__ADS_1