
Tok .. tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Kamu sudah pulang, sayang", Kevin langsung mengecup kening si bungsu.
"Sore, Kak Kevin. Apa kabar?"
"Oo... Vino? Kabar baik. Lama tidak ketemu. Gimana kuliahmu?"
"Sedang proses thesis, Kak. Doakan saja cepat selesai"
"Ya, semoga lancar ya kuliahmu"
"Pesawat jam berapa, Kak?"
"Pesawat terakhir pukul tujuh malam"
"Kak, Kia kekamar dulu membereskan barang-barang", ucap Kia.
"Hmmm..."
Kia meninggalkan dua laki-laki itu dan menuju kamar sebelah. Vino pamit pada Kevin. Dia kembali ke dorm nya untuk beristirahat.
******
Kevin, Kia dan sekretaris Kevin baru saja tiba di Bandara. Vino segera menghampirinya, dia menyalami Kevin dan meminta izin untuk bicara sebentar dengan Zazkia.
"Jangan terlalu lama, sebentar lagi pesawat akan take off"
"Baik, Kak", ucap Vino.
Kevin meninggalkan adiknya berdua.
"Kia ... "
Kia diam. Dia tak menjawab panggilan Vino.
"Maafkan aku kalau aku membuatmu sedih. Membuatmu tak nyaman. Tapi aku bisa pastikan kalau perasaanku terhadapmu tidak akan pernah berubah. Tunggulah sedikit lagi. Aku akan datang menghadap kedua kakakmu dan aku akan menikahimu dengan cara yang benar. Dan sampai saat itu aku akan mengikatmu dengan doa-doa ku"
__ADS_1
"Aku pun percaya padamu. Pada kekuatan hatimu. Pada kekuatan cinta kita", tambah Vino.
Kia hanya tersenyum. Matanya menatap penuh arti pada laki-laki yang ada dihadapannya. Kedua manik mata mereka bertemu, saling bicara dalam diam nya. Kia masuk kedalam menyusul langkah kakaknya yang sudah menunggunya.
Tepat pukul 18. 40 waktu Prancis pesawat yang mereka tumpangi terbang landas menuju Jakarta. Kembali delapan belas jam perjalanan mereka habiskan didalam pesawat. Dan pukul satu siang mereka baru mendarat di bandara Jakarta. Sopir kantor datang menjemput mereka.
******
Kia hanya merenung di kamarnya. Dia memikirkan kata-kata terakhir yang diucapkan Alviano tadi. Kia menarik nafas nya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Tuuut ... Tuuuut ..
"Halo ... ", sapa seseorang diujung sana.
"Kak ... ", ucap Kia perlahan
"Ya ..."
"Maafkan aku ya, aku terlalu kasar padamu. Aku terlalu egois. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu"
"Tidak, apa-apa. Aku juga salah. Seharusnya aku mengatakannya lebih cepat padamu. Tak ada yang aku banggakan dari masa laluku yang buruk. Aku terlalu malu untuk bercerita padamu"
"Seharusnya kita bisa saling terbuka. Jangan ada lagi yang disembunyikan"
Untuk beberapa detik mereka saling diam menikmati rasa nyaman hati atas terselesaikannya kesalah pahamanan diantara mereka.
"Kia .. "
"Ya, Kak"
"Boleh ... Aku memanggilmu "sayang"?"
"Hmmm...", diujung sana wajah Kia memerah. Rasa malu dan bahagia berpadu jadi satu.
"Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah percaya padaku sampai saat ini. Aku sayang padamu"
"Aku juga sayang pada Kak Vino"
"Istirahatlah, sayang. Kamu harus kembali ke kampus bukan?"
__ADS_1
"Ya, Kak"
"Selamat malam, sayang"
"Selamat malam, Kak Vino"
******
Tok .... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Belum tidur, Dek", sapa Re pada Kevin yang sedang asik dengan ponselnya.
"Belum, Kak. Kak Re baru pulang?"
"Hmmm...."
Kevin menggeser posisi duduknya. Re duduk disebelahnya.
"Bagaimana meet up nya, Dek?"
"Semua berjalan lancar, Kak. Mereka bersedia menjadi mitra kerja kita. MOU dengan mereka sudah di sepakati kemarin"
"Syukurlah kalau begitu. Oiya, apa tidak ada yang terjafi disana?"
Kevin sedikit menarik garis bibirnya. Dia tahu itu bukan pertanyaan, melalinkan ujian buatnya. Dia yakin Reagan pasti sudah tahu apa yang terjadi.
"Kia bertemu dengan Vino. Dan sepertinya mereka bertengkar. Saat pulang mereka tidak seperti biasanya, Kak"
"Dan saat ini mereka sudah baikkan kembali, bukan?"
"Kak Re yakin?"
"Hmmm... "
"Apa rencana Kak Re selanjutnya?"
"Kita ikuti saja permainan ini, Dek. Nanti ada saatnya kita bertindak. Kamu tak usah khawatir. Tapi tetaplah waspada"
__ADS_1
"Baik, Kak"
******