
"Malam, Mi?"
"Rev... Malam"
"Papi ada dimana?"
"Emilio ada diruang kerjanya? Ada apa? Tampaknya penting sekali"
"Ada hal yang harus aku tanyakan pada, Papi"
Alviano tidak mau membuang-buang waktu begitu selesai pekerjaannya dia langsung menuju bandara, mengambil tiket menuju Perancis.
Tok .... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Vino ... Masuklah"
"Maaf, Pi. Vino ingin bicara sebentar. Apa papi punya waktu?"
"Duduklah. Kamu mau bicara apa?!"
Emilio duduk berhadapan dengan putra nya. Vino mencoba mengatur nafasnya, menata hatinya dan menyiapkan mentalnya.
"Papi tahu keluarga Augustine bukan?"
"Augustine?"
"Ada hubungan apa papi dengan mereka dimasa lalu?"
Emilio membelalakkan matanya. Detak jantungnya makin cepat.
"Untuk apa kamu tahu? Dan ada hubungan apa kamu dengan keluarga Augustine?"
"Kenapa papi malah balik bertanya pada Vino?"
"Jawab pertanyaan papi!"
"Vino, mencintai Kia. Putri bungsu keluarga Augustine. Mereka tidak menentang hubungan kami tapi mereka membatasi ruang gerak kami. Tapi sepertinya kedua kakaknya menyimpan sesuatu tantang hubungan keluarga Mahawira dan keluarga Augustine. Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong jelaskan pada Vino?"
"Seajuh mana hubunganmu dengan anak perempuan keluarga Augustine itu?"
"Vino akan menikahi Kia, Pi. Kami saling mencintai"
"Saling mencintai?"
"Ya ... "
__ADS_1
"Tinggalkan perempuan itu, Vino. Papi tidak setuju"
"Apa alasannya, Pi? Katakan pada Vino apa yang telah terjadi?"
Emilio tak dapat mengontrol emosinya. Dia berteriak dan mengebrak meja yang ada dihadapannya.
"Vino ... !!",bentak Emilio.
"Papi bilang tidak ya tidak. Dan tidak ada alasan untuk itu. Jangan kamu dekati lagi keluarga Augustine! Dengar itu Vino. Jika tidak papi tidak akan menganggap kamu sebagai anak papi"
Wajah Vino memerah menahan marahnya. Tangannya sudah terkepal dan rahangnya mengeras.
"Baiklah kalau itu mau, Papi. Anggap saja Vino sudah mati. Mulai saat ini Vino tak akan lagi menginjakkan kaki dirumah ini. Papi dulu membuang Mami, sekarang pun papi lakukan hal yang sama terhadap Vino. Mulai saat ini kita tidak ada hubungan apapun"
Vino keluar dari ruang kerja Emilio dengan wajah memerah menahan amarah. Ellene menemuinya di lorong.
"Rev. .. ",sapanya cemas.
Vino menghentikan langkahnya. Dia menoleh kearah ibu tirinya.
"Rev, sabarlah. Jangan terbawa emosi"
"Maaf, Mi. Aku tak bisa"
Dari dalam kamar Flo datang berlari kearah Vino. Hati Vino sedikit mencair melihat kepolosan adik tirinya itu. Dia berjongkok dan memeluk Flo.
Ellene dan Vino menoleh.
"Bawa Flo masuk...",perintah Emilio.
"Tapi Kak ... "
"Masuk !! Mulai hari ini dia bukan lagi bagian dari keluarga Mahawira. Dia bukan lagi anakku. Bawa Flo masuk ...!!!"
Ellene memandang suaminya dengan tatapan sedih, tapi dia tak bisa membantah perintah laki-laki itu. Dia menggendong Flo yang menangis berpisah dengan Vino. Baginya Vino adalah kakak laki-laki yang paling dia sayang. Vino pun tak tega harus berpisah dengan Flo dengan cara seperti ini. Dia memandang sedih pada adik kecilnya.
Tanpa basa-basi lagi Vino pergi dan menghilang jauh-jauh dari keluarganya. Rasa amarahnya membuat dia tak bisa tidak membenci perlakuan Papinya itu.
******
"Kak ... ",tegur Ellene lembut saat suaminya mulai melunak
"Hmmm..."
"Mau kubuatkan coklat panas?"
"Boleh"
__ADS_1
Ellene menunu dapur. Dia membuatkan secangkir coklat panas untuk suaminya. Ellene meletakkan coklat panas itu di hadapan Emilio.
"Ini coklatmu, Kak"
"Terima kasih, sayang"
Ellene mengusap punggung suaminya dengan lembut. Menenangkan hati laki-laki yang kini jadi suaminya itu. Dia tau Emilio sangat keras, tapi dibalik semua itu dia mempunyai sisi lembut dari kekerasan hatinya itu.
"Kak ... "
"Hmmm..."
"Kak Emil, sedang ada masalah?"
"Tidak"
"Kak ..."
"Ya ... "
"Boleh aku bicara?", pinta Ellene.
"Silakan"
"Kak, jangan terlalu keras bersikap dengan anakmu. Kak Emil dan Rev sama-sama keras. Aku bingung menghadapi polah kalian. Maaf, bukan aku ikut campur urusanmu dengan Rev, tapi alangkah baiknya semua dibicarakan dengan kepala dingin. Aku tahu mungkin kak Emil tidak bermaksud membuang Rev, namun Rev itu anak mu Kak. Kebahagiannya seharusnya menjadi prioritas mu"
Ellene menghentikan sejenak bicaranya. Mengatur pola nafasnya agar sanggup menyelesaikan kata-katanya.
"Aku yakin Kak Emil bisa lebih bijaksana memutuskan hal ini. Rev selama ini tak pernah meminta apapun darimu. Dia tumbuh menjadi anak yang tegar dan kuat. Sama sepertimu, pikirkan lagi keputusan mu itu kak. Apa kamu tega melihat Flo terpisah dari kakaknya?"
Emilio bangkit dari duduknya. Lalu menarik pinggang Ellene dalam pelukkannya.
"Kamu bicara seperti itu sebagai ibu nya atau mantan perempuan yang pernah disayanginya?!"
"Astaga, Kak. Sepicik itukah pikiranmu padaku. Aku tak mungkin melakukan hal serendah yang kamu fikirkan itu, Kak. Aku masih tahu batasan dan norma. Aku ini istrimu, Kak. Jadi Rev pun sudah ku anggap sebagai anakku sendiri. Aku sudah mengubur dalam-dalam masa lalu itu"
"Kamu yakin?!"
"Yakin, seratus persen aku yakin dengan perasaanku ini, Kak"
Emilio menatap tajam pada kedua manik mata perempuan mungil itu. Dia mencari kebenaran jauh kedalam hati Ellene.
"Maafkan aku, sayang. Aku terlalu takut kehilanganmu"
Emilio memeluk istrinya dengan lembut. Membelai rambut halus Ellene dengan penuh kasih sayang. Dia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti apa yang telah dia lakukan terhadap, Rose, Mami kandung Vino.
******
__ADS_1