
Vino memarkirkan mobilnya di halaman salah satu kafe dipusat kota. Dia melangkahkan kaki menuju pintu masuk kafe. Seorang pelayan kafe membukakan pintu untuknya. Dari sana Vino melihat Papinya sudah menunggunya di meja paling ujung. Vino berjalan mendekatinya.
"Maaf, Pi. Vino sedikit terlambat", Vino mengambil tangan Papinya lalu mencium punggung tangannya.
Hati kecil Emilio terenyuh melihat perlakuan yang diterimanya dari putra sulungnya itu.
"Duduklah",ucapnya.
Vino mengambil kursi yang ada dihadapan papinya.
"Ada hal penting apa yang membuat papi memintaku datang kemari?"
"Apa ada hal yang menggangu mu, Vino?"
"Tidak ada, Pi"
"Kemarin Ellene bercerita pada Papi. Kamu sepertinya punya masalah yang berat. Apa ada seseorang yang mengusikmu?"
"Rupanya mami banyak cerita dengan, Papi. Tidak, Pi. Sama sekali tidak. Hanya saja Vino sedang butuh waktu untuk berfikir lebih dalam"
"Mengenai hubunganmu dengan putri bungsu Gustav?"
"Ya"
__ADS_1
"Kamu mencintai perempuan itu?"
"Ya, Pi. Kami saling mencintai"
"Kalau kamu sayang pada perempuan itu, kenapa kamu tidak melamarnya lalu menikah"
"Vino ingin sekali menikah dengan Kia. Kami sudah cukup lama saling mengenal. Hanya saja sepertinya akan sulit untuk kami berdua"
"Reagan menentangmu?"
"Tidak, bukan Kak Re ataupun Kak Kevin. Tapi ada hal lain yang membuat Vino berpikir matang untuk terus melangkah"
"Maksudmu?"
Emilio sangat terkejut mendengar cerita putranya, dia baru menyadari bahwa selama ini dia diadu domba oleh sahabatnya sendiri. Sampai-sampai dia harus kehilangan Rose, ibu kandung Vino, dan juga sahabat terbaiknya, Gustav Augustine.
"Ya, Tuhan... Aku merasa sangat berdosa pada anak-anak Gustav. Terutama Reagan yang saat itu menyaksikan langsung kematian Papanya"
"Wajar sekali kalau Kak Re sangat protektif pada kedua adiknya, terutama Zazkia. Vino tak sepenuhnya menyalahkan Kak Re. Keadaan yang memaksanya begitu"
"Kamu tak usah khawatir papi sangat mendukung hubunganmu dengan perempuan pujaan hatimu itu. Yakinlah suatu saat semua ini akan membaik".
"Terima kasih, Pi"
__ADS_1
Emilio menyeruput kopi pahit yang ada di cangkir dihadapannya. Vino menatap Papinya dengan wajah bahagia. Akhirnya papinya kembali menjadi lebih baik.
"Pi ... "
"Hmmm..."
"Vino, minta maaf pada Papi. Terakhir kali kita bertemu, Vino membuat papi marah dan kecewa. Vino sangat menyesal Pi"
"Seharusnya Papi yang minta maaf padamu, Vino. Papi yang telah merampas kebahagian Mami mu, kebahagian masa kecilmu dan juga menyebabkan hubunganmu dengan perempuan pujaanmu itu berantakan. Papi memang bukan ayah yang baik"
"Pi ... Papi adalah ayah terbaik di dunia ini. Papi terbaik yang Vino miliki. Terima kasih Papi sudah mau mendukung dan mengerti Vino. Terima Kasih, Pi"
Vino bangun dari duduknya dan memeluk Papinya. Seperti ada getaran listrik yang mengalir dari ujung kaki sampai kepala yang dirasakan oleh kedua laki-laki itu. Runtuhnya keegoisan dua laki-laki yang keras kepala itu. Meleburkan sebuah harmoni indah antara ayah dan anak.
******
Vino duduk dibelakang kemudi. Emilio duduk dikursi sebelahnya. Vino mengantarkan Papi nya menuju bandara. Pesawat yang membawa Papinya terbang ke Perancis akan take off sore ini.
"Jaga diri baik-baik, Pi. Sampaikan salam hormat Vino buat mami. Dan peluk cium buat Flo yang gemesin itu"
Emilio menganguk sambil tersenyum, meng-iya-kan perkataan putranya itu.
******
__ADS_1