Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Jejak Masa Lalu - Bagian Tiga


__ADS_3

"Apa kabar, Excel. Lama tak melihatmu?"


"Kabarku baim, sobat. Bagaimana bisnismu?"


"Sejauh ini lancar. Ayo, duduk lah"


Excel duduk dengan tenang disofa. Emilio duduk berhadapan dengannya.


"Emil ... "


"Ada apa?"


"Kedatangan ku disini ingin mengabarkan sesuatu tentang Rose?"


Emil membelalakkan matanya. Raut wajahnya mulai berubah tak bersahabat.


"Dengar dulu Emil, kendalikan emosimu"


"Aku malas mendengar cerita tentang perempuan itu, Excel"


"Dengar, Rose masih sah menjadi istrimu bukan. Jadi untuk itulah aku datang kemari mengatakannya padamu.",tegas Excel.


Dia mengatur nafasnya. Menata hatinya untuk menceritakan kebenarannya pada Emilio.


"Rose sedang kritis di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura. Dia sedang kritis. Rose sedang hamil tujuh bulan. Dan dokter mendiaknosa ada kelainan pada rahimnya serta riwayat jantung bawaan. Sejak awal kehamilan dokter menyarankan dia untuk menggugurkan kandungannya. Namun Rose bersikeras untuk melahirkan anak itu, apapun resikonya. Waktu itu Rose datang seorang diro memeriksakan kehamilannya disana, lalu disanalah dia bertemu Gustav. Disitulah titik permasalahannya dimulai",ujar kepala polisi itu.


"Sejak awal dokter melarang Rose untuk hamil. Namun dia tak ingin kehilangan bayi itu, karena dia tahu kamu sangat menginginkan anak. Makanya dia berusaha untuk mempertahankan bayinya. Namun hal itu akan mengancam nyawanya sendiri. Bahkan dia sampai nekat mencari dokter terbaik di Singapura untuk mempertahankan anak itu demi kamu", Excel menjelaskan lebih rinci.


"Dari mana kamu tahu cerita ini, Excel?"


"Seseorang yang menceritakannya padaku"


"Siapa dia?"


Huuuhhh.... Excel menarik nafas panjang.


"Orang kepercayaanku, Emil"


Emilio terdiam. Dia tak tahu harus berkata apa lagi mendengar berita ini. Tubuhnya terasa lemas, namun harga dirinya menantangnya untuk tetap bersikap keras dihadapan Excel.

__ADS_1


"Terserah kamu mau percaya atau tidak padaku. Yang jelas mungkin ini kesempatan terakhirmu untuk bertemu Rose. Dia sedang berjuang seorang diri demi kamu, demi anak mu. Ini tiket pesawat ke Singapura, take off dua jam dari sekarang. Bijaksanalah dalam mengambil keputusan. Aku permisi dulu", Excel meletakkan amplop itu diatas meja.


Amplop berisi tiket pesawat yang dititipkan Gustav untuk Emilio. Laki-laki bertubuh besar tinggi itu hanya terdiam ditempatnya. Dia memandang amplop putih itu. Hati kecilnye terasa sakit mendengar kenyataan ini. Namun apakah masih ada kesempatan untuknya lagi, batin Emilio.


******


Tepat lima belas menit sebelum take off Emilio sudah berada di bandara. Lamanya waktu yang diperlukan untuk menempuh penerbangan langsung rute Jakarta – Singapura adalah selama 1 jam 50 menit. Bagi Emilio saat itu adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang dalam hidupnya.


Hanya butuh waktu dua puluh menit dari bandara menuju rumah sakit Mount Elizabeth tempat Rose dirawat. Emilio berlari kecil mencari kamar perawatan Rose.


"Mau apa kau kesini?!!", gertak ayah Rose.


"Aku ingin bertemu dengan Rose. Dimana dia?"


"Apa perdulimu dengan Rose? Pergilah kamu dari sini. Laki-laki berengsek!!"


Nyaris saja Emilio jadi sasaran kemarahan ayah Rose. Ibunya dengan sigap menahan agar mereka tak berkelahi. Dia berusaha menenangkan kedua laki-laki itu.


Cekreeeeekkk ...


"Can I meet Miss Rose's husband? ",tanya dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan. 1)


"I am her husband, doctor "2)


Dokter mengajak Emilio kedalam ruangannya.


"Look, sir, I think you have to take the hardest decision in your life. We will prepare your wife's surgery. But you have to make a decision on who becomes our priority. Mother or her baby?" 3)


Emilio menatap dokter dengan pandangan putus asa dan sedih. Pilihan yang sangat berat.


"Can I meet with my wife a doctor?"4)


"Sure. We will prepare everything. I hope you have got the decision at that time"5)


Dokter berdiri dan menepuk pundak Emilio seolah-olah memberikan kekuatan padanya. Emilio mellihat Rose terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Perempuan itu berkaca-kaca saat melihat kedatangan suaminya.


"Kak ..."


"Rose ... Maafkan aku. Maafkan aku sayang. Aku laki-laki bodoh. Tak seharusnya aku memperlakukan mu seperti ini", Emilio berlutut disisi tempat tidur.

__ADS_1


Airmatanya mengalir dikedua pipinya. Airmata yang hanya dia perlihatkan pada Rose. Airmata keputus asaannya. Kelemahan hatinya saat itu.


"Kak, boleh kah aku meminta sesuatu padamu. Ini adalah permintaan ku yang pertama dan terakhir. Tolong kabulkan, Kak!?", Rose memohon dengan selemah-lemah tubuhnya saat itu.


"Katakan sayang!?"


"Berjanjilah kamu akan mengabulkannya?"


"Aku berjanji"


"Dokter akan mengoperasiku. Tolong selamatkan anak ini. Berikan hidupku padanya, Kak"


"Rose ... "


"Kak Emil sudah berjanji bukan?!, Akan mengabulkan permintaanku?"


Dengan airmata berlinang dan hati yang begitu hancur Emilio mengangukkan kepalanya. Rose memegang tangan suaminya.


"Terima kasih, Kak", senyumnya saat itu terlihat begitu bahagia.


Sepuluh menit kemudian tim dokter sudah membawanya keruang operasi. Emilio dan kedua orang tua Rose menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Tiga puluh menit kemudian dokter keluar, wajahnya terlihat sedih.


"This is our last effort. We are very sorry for not being able to save your wife. But your son was born safely "6)


Seketika ruangan itu penuh teriakan dan airmata. Emilio hanya bisa mengutuki dirinya. Mengutuki kebodohannya selama ini. Putra pertamanya lahir prematur dan harus berada dalam incubator untuk beberapa hari. Dia mendapat hadiah istimewa sekaligus harus kehilangan perempuan yang sangat dicintainya.


******


Terjemahan:


1). "Bisakah saya bertemu dengan suami Nona Rose?", Tanya dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan.


2) "Saya suaminya, dokter"


3) "Tolong ikut aku"


4) "Bisakah saya menemui istri saya, dokter?"


5) "Tentu. Kami akan menyiapkan segalanya. Saya harap Anda sudah mengambil keputusan saat itu"

__ADS_1


6)"Ini adalah pilihan terakhir kami. Kami sangat menyesal tidak bisa menyelamatkan istrimu. Tapi putramu lahir dengan selamat"


******


__ADS_2