Di Khianati Di Istana Sendiri

Di Khianati Di Istana Sendiri
26 - Marah


__ADS_3

"Hallo Buk, Ibu lagi dimana dengan Karina?."Tanya Arman mencoba untuk tenang.


"Kami sudah pindah, sampai kan pada ibu mu itu, Dia pasti sudah puas setelah kami pindah."Ucap Bu Ningsih.


Karina yang mendengar pun sudah bisa menebak kalau Itu dari Arman.


"Bu, matikan saja Buk."Ucap Karina.


Bu Ningsih dengan kesal mematikan sambungan telefon.


"Bu."


"Buk. Hallo Buk."


"Buk." Teriak Arman dengan putus asa.


Ia duduk di lantai dengan sedih, karena Karina kini sudah pergi dari sini.


"Mama, Ini pasti karena Mama." Ucap Arman dengan geram.


•••


"Ibu tuh kesal sekali kalau ingat ingat bagaimana perlakuan ibu nya sama kita, kalau Ibu nya buat salah mungkin Ibuk masih bisa maafkan, tapi Arman juga sama saja kelakuan nya." Bu Ningsih mengerutu setelah sambungan telefon di tutup.

__ADS_1


"Udah lah Buk, mungkin ini memang jalan yang harus Karina tempuh, lagi pula kami sudah berpisah."Ucap Karina.


"Kamu harus sabar, Harus semangat dan tunjukan pada mereka yang merendahkan kita."Ucap Bu Ningsih menyemangati putri nya. Karena Ia sangat mengerti tidak mudah menjadi seorang Single parent yang memiliki anak.


Bukan hanya penuh tantangan setiap hari nya, mencari uang, tapi juga harus tahan ketika orang-orang mencibir nya, mencurigai nya, dan bahkan memfitnah nya sebagai seorang janda.


"Makasih Bu, Karina merasa lebih tenang karena Karina memiliki ibu dan Bapak yang selalu ada buat Karina." Bu Ningsih mengelus kepala putri nya.


Semua itu di lihat dan di dengar oleh Bayu, Bayu hanya diam saja tanpa ekpresi.


•••


Arman Kembali ke rumah dengan perasaan marah dan Kesal pada Ibu nya, Ia nyakin ibu nya pasti mengatakan sesuatu yang membuat Karina angkat kaki dari rumah mereka.


"Mama." Panggil Arman penuh Amarah.


Bu Windi yang mendengar teriakan putra nya pun lekas keluar, suara itu menggema di seluruh ruangan rumah besar ini. Bahkan Nadia yang berada di dalam kamar pun ikut mendengar suara teriakan kakak nya.


"Ada apa sih Arman, Kamu teriak-teriak seperti itu." Ucap Bu Windi.


"Iya Mas, Ada apa sih Mas?." Tanya Nadia menatap sang kakak penuh tanya.


"Ma, Apa yang mama katakan pada Keluarga Karina?."Tanya Arman dengan tegas menatap tajam ibu nya. Nadia yang mendengar pun menoleh ke ibu nya untuk mendengar jawaban ibu nya itu.

__ADS_1


"Karina lagi, Mama tidak ada ngomong apa-apa."


"Jangan bohong Ma."


"Kok kamu malah bentak Mama, Mereka itu hanya mau fitnah saja."


"Pasti Mama yang mengusir mereka dari rumah Arman kan, Kenapa mama lakukan itu."


"Apa?, benar itu Ma?, Kenapa mama teh sekali, Kak Karina itu punya hak atas rumah itu, Lagi pula ada sisi bersama nya, kalau Mama usir dia, mau tinggal dimana mereka, Sisi kan cucu mama, Anak nya Mas Arman."Ucap Nadia tak percaya ibu nya akan Setega itu.


"Kalian berdua ini ya, Semua nyalahin Mama, Mama bilang mama tidak melakukan apa apa, Kalau dia pergi itu karena keinginan dia sendiri."Ketus Bu Windi yang tak ingin di salah kan, dan bahkan tak mau mengakui hal itu. Ia lalu berjalan pergi dari sana, meninggalkan Arman dan Nadia.


Arman duduk di sofa, menundukkan kepala nya dan menangis. Untuk pertama kali nya ia melihat sang kakak menangis seperti ini.


"Sabar Mas, Kita harus mencari Kak Karin, aku nyakin kita akan bisa menemukan nya nanti, sekarang lebih Baik Mas Arman istirahat saja." Ucap Nadia.


"Menurutmu apa mama melakukan ini?." Tanya Arman. Nadia hanya dia menatap sang kakak tanpa memberi jawaban. Tak ingin sang kakak semakin marah pada ibu nya. walau ia yakin Ibu nya lah yang melakukan hal ini.


•••


Bantu Like dan Vote nya ya teman-teman, karya ini sedang di ikuti lomba menulis, Mohon dukungan nya untuk tekan 👍 dan ❤️ nya ya.


Makasih semua nya 🙏

__ADS_1


__ADS_2