
"Ibu ga mau tau. Cika harus tinggal di rumah kita. Ibu sudah senang sama dia, dia adalah putri ibu mulai sekarang!"
Orangtua Angga benar-benar membuat Angga pusing bukan kepalang.
Sebenarnya rancun apa sih yang sudah dimasukkan Cika ke otak ayah sama ibuku sampai mereka sudah tidak menganggapku sesuatu yang berharga? Sekarang lagi, Cika malah disuruh tidur di rumah kedua orangtuanya. Ah, Angga pusing melihat semua ini.
Tadi, Angga hanya mengatakan pada Ibunya kalau Cika bukan perempuan di malam itu. Baginya, jika dia tidak bersalah pada Cika, maka pernikahan ini otomatis dibatalkan.
Angga perlu mencari keberadaan gadis di malam itu. Ada calon anaknya di perut perempuan itu, dan Angga harus bertanggungjawab.
Namun sama seperti reaksi tidak percaya Ayahnya, Ibunya juga melakukan hal sama. Mereka menganggap, Angga hanya membual dan ingin melarikan diri dari tanggungjawab, padahal Angga hanya tidak ingin menyakiti hati perempuan yang sudah dinodainya itu.
"Ya sudah kalau itu keputusan Ibu," ucap Angga seraya melangkah pergi dari rumah.
"Hey, mau kemana kau!" teriak Ayah yang tidak dapat mengejar Angga.
"Kalau ayah dan ibu mau menampung Cika di rumah, lebih baik Angga pergi dari sini."
Angga pergi dengan membawa mobil miliknya.
__ADS_1
"Dasar anak nakal! Ah, gobloknya aku membesarkan parasit sepertinya di rumahku! Sekarang jadinya gini 'kan, Angga melarikan diri setelah menodai kekasihnya sendiri. Pasti ada orang lain di balik ini semua!" umpat Gion yang kesal dengan sikap putra tunggal dan satu-satunya keturunannya itu.
***
Angga datang ke hotel yang dulunya sangat disukainya karena sewaktu kecil ia pernah tersesat di hotel ini dan terjebak di kamar hotel nomor 9162 ini.
Bukannya takut, Angga kecil justru tersenyum saat itu. Angga kegirangan karena pemandangan dari jendela ini sangat baik, Angga menyukainya.
Itu sebabnya setelah memiliki uang yang banyak, Angga langsung menyewa kamar hotel ini tiap tahunnya supaya dia bisa datang kemari dan menenangkan diri.
Dan sekarang, kamar ini menjadi saksi bisu kelakuan bejadnya pada seorang gadis dan Angga benar-benar sangat bersalah.
Entah mengapa hati kecilnya berteriak, Angga harus bisa memperjuangkannya!
"Pertemuan kita sesingkat itu, Debora. Tapi kita sudah terikat. Aku harap kita bisa bertemu lagi di lain hari dan bisa hidup bersama selayaknya pasangan, seperti yang pernah kita lakukan waktu itu." Angga akan segera menikahi perempuan bernama Debora itu jika sudah bertemu dengannya.
"Hachim!" Debora di lain tempat malah bersin. "Apa karena benerapa malam belakangan ini aku susah tidur makanya bersin-bersin?" pikir Debora seraya mengelap cairan yang keluar dari hidungnya itu.
Di kamar hotel itu, Angga terus membaca informasi tentang Debora Anastasia. Semua ditulis dengan baik di sana oleh detektif aLeJi.
__ADS_1
Angga terkejut bukan main setelah melihat Debora Anastasia sudah yatim piatu dan memiliki masa lalu suram.
"Dia pasti semakin tertekan dengan kehamilannya," hati Angga sangat miris membayangkan kesusahan gadis itu.
"Kenapa juga aku malah pergi? Aturannya aku harus di sana, menunggunya bangun dan menjelaskan semuanya." Angga menyayangkan kebodohannya yang lebih memilih menjumpai Cika dan bertunangan dengannya.
Sekarang semuanya sangat kacau hampir tidak terkendali.
***
Sedangkan di sisi lain.
Hati kecil Cika berteriak kesal dengan kelakuan Angga. Di kamar yang sudah disediakan ibu Angga, Cika melempar-lempar semua bantal dan hampir mengacaukan semuanya.
"Seharusnya dia tinggal di sini dan akan kubuat dia meniduriku!" gumam Cika kesal, namun ia tetap menjaga suaranya supaya tidak ketahuan Ibu Angga kalau Cika sedang memaki-maki Angga.
"Jangan-jangan dia udah tau kebenarannya makanya dia udah mulai menaruh curiga padaku." Teringat sebelum ini Angga merasa sangat bersalah dengan kelakuannya pada Cika, namun sekarang Angga … ah entahlah.
...********...
__ADS_1
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉