Dihamili Pria Asing

Dihamili Pria Asing
Episode 23


__ADS_3

"A-apa?" suara Layon mendadak gemetar.


"Ya, Lay. Dia pemilik saham terbesar kita, jadi dia memiliki hak khusus yang tidak dapat diganggu-gugat. Ah, tapi bukan itu masalah terbesarnya. Kamu sudah menganggu kekasih tuan Angga. Kamu berniat menodainya 'kan? jadi jangan salahkan aku kalau kamu dikeluarkan dari jabatanmu bahkan terancam dipecat," ucap direktur.


Layon menatap pria yang tingginya lebih tiga puluh senti lebih tinggi darinya itu dengan ketakutan. Sontak semua egonya jatuh bersamaan dengan posisi bersujutnya di kaki Angga.


"Mam-maaf! Aku tidak akan melakukan apapun lagi padanya!" ucap Layon ketakutan.


Angga hanya menatap Layon dengan sinis. "Yang seharusnya kamu ucapkan maaf hanya kepada Debora, dia yang sudah kamu sakiti, bukan?"


Posisi bersujut kepada Angga berganti pada Debora. "Aku tidak tau kamu kekasihnya tuan Angga! Maafkan aku. Tolong jangan bawa masalah ini kemanapun. Aku masih punya anak dan istri yang perlu diberi makan, aku tulang punggung keluarga!" pinta Layon dengan sangat.


"Tolong jangan meminta maaf karena Angga orang penting, Layon," ucap direktur lagi.


Cara bicara direktur pada manejer yang tergolong datar, tidak ada kemarahan; disebabkan karena Deon adalah adik Layon.


Jujur, dia merasa marah karena kelakuan kakaknya itu, tapi sebagai adik dia harus menghormati Layon tidak peduli betapa mata keranjangnya Layon, si pria beristri lima itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Layon mengganti kalimatnya.


Debora mengangguk, "Aku memaafkanmu."


Bagi Debora, datangnya Angga yang menyelamatkannya, itu sudah lebih dari cukup.


Lagipula, Debora yang memiliki masalalu suram tidak mampu melakukan hal lebih selain berkata.


Debora paling takut melihat adegan bertengkar dan marah-marah, tubuhnya memberi respon kaku seperti saat bersama almarhum ayahnya yang jahat di masa kecil.


Angga hanya membalas ucapan Debora dengan senyum manis, melihat kebahagiaan Debora saja sudah lebih dari cukup untuknya, ia yang sudah menyakiti wanita itu, tidak ingin melakukan kesalahan yang tentunya akan berdampak buruk bagi pisikis wanita itu.


"Kamu sudah makan?" tanya Angga berganti topik. Mereka sambil berjalan ke arah basement restoran.


"Em ya. Aku sudah makan," jawab Debora senang.


"Tapi aku belum makan," suara Angga yang memelas. "Apa boleh aku makan masakanmu?" tanya Angga yang ingin bermanja-manja.

__ADS_1


Angga sengaja tidak makan tadi siang. Meski lapar, ia hanya minum, yang mana dia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengonsumsi apapun selain buah yang dijus.


"Kan kamu bisa beli makanan, atau mungkin ada koki atau pelayan yang mau memasakkanmu makanan," ucap Debora mengungkapkan isi kepalanya yang sedaritadi bertanya-tanya, sebenarnya Angga benaran orang kaya tidak sih?


Soalnya setahunya, orang kaya memiliki banyak orang di rumahnya. Orang-orang yang dibayar untuk memenuhi keinginan lelaki itu. Dari makanan atau ,mungkin hal lain?


"Aku tidak punya orang-orang seperti itu," ucap Angga jujur.


Kening Debora mengerut, dia mendongak ke atas untuk melihat pria di sampingnya. "Kamu, orang kaya 'kan?"


Segera Angga mengangguk, seketika dia paham maksud Debora. "Iya, aku tau aku orang kaya. Tapi aku tidak suka makan masakan orang lain selain--"


"Bukankah aku orang lain juga?" ucap Debora memotong kata Angga.


***


Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉

__ADS_1


__ADS_2