
Setelah dari rumah sakit, Angga mengajak Debora makan.
Lagi-lagi wanita itu menolak; karena setelah dari rumah sakit, dia ingin ke restoran. Pasti Manager dan teman-temannya sudah menunggu di sana.
Dan mungkin, mereka bisa sana bertanya-tanya, ke mana dan kenapa Debora tak kunjung balik ke restoran?
Tapi, Angga yang ingin Debora selalu ada di sisinya, berusaha menyakinkan wanita itu untuk tidak bekerja meski ia tidak mengatakannya.
"Kamu perlu makan. Bukankah tadi sebelum kemari kamu menuntut makananmu kembali. Kamu kan makan bukan hanya untuk dirimu. Tapi, untuk janin kita juga."
"Di restoran aku bisa makan," ucap Debora dingin. Dia tidak ingin semakin lama di luar bersama Angga.
Bukan karena dia membenci laki-laki itu. Tapi ini demi pekerjaannya.
Di dunia zaman sekarang, sangat sulit mencari pekerjaan. Dan reputasi buruk di perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya akan mempengaruhi pekerjaan barunya jika dia dikeluarkan dari pekerjaan lamanya itu.
"Hanya sebentar. Aku mau ngajakmu ke tempat yang berbeda." Angga berusaha mencari cara supaya Debora kembali ikut dengannya.
"Untuk apa?" Debora menatap Angga dengan intens. "Ayo bawa aku ke restoran. Memang pekerjaan itu adalah pekerjaan rendahan untukmu. Tapi selama ini pekerjaan itu yang sangat membantu kehidupanku. Jadi jangan larang-larang aku untuk tidak ada di sana!"
__ADS_1
Skakmat! Debora benar-benar marah kali ini. Angga terdiam seribu bahasa. Ia tidak ingin semakin membuat Debora marah.
Angga membawa kendaraannya ke restoran tempat Debora bekerja. Ia memarkirkan mobilnya di basement restoran.
Baru saja berhenti, Debora langsung keluar dari mobil seraya berkata dengan cuek, "Terimakasih sudah membawaku keluyuran selama beberapa jam ini."
Angga menghela nafas melihat dinginnya Debora. "Aku tidak tau kamu akan semarah itu soal pekerjaanmu," monolog Angga sedih.
Angga ingin menafkahi Debora. Meski wanita itu belum dinikahinya. Tapi Debora sedang mengandung calon anaknya.
Tapi setelah melihat sikap Debora yang tersinggung untuk hal menyangkut pekerjaan apalagi uang, membuat Angga paham.
Mendadak Angga mengingat perihal janjinya pada Debora jika Debora mau ikut dengannya.
"Aku harus mempertanggungjawabkan Debora pada manajernya." Angga segera membuka pintu mobil dan berjalan menyusul Debora.
Debora ada dua puluh langkah di depan Angga. Sebelum Angga menyusulnya, wanita itu sesekali menoleh ke belakang. Debora menunggu kapan Angga menyusulnya meski langkah wanita itu terus maju keluar dari basement ini.
Entahlah, Debora merasa emosinya tidak terkontrol dan keegoisan mulai merasuki jiwanya. Ia paham ini adalah bagian dari kehamilan. Tapi hal ini sangat menganggu. Debora juga lebih emosional akhir-akhir ini.
__ADS_1
Hati kecil Debora juga seolah berkata, 'Tahan emosimu, kalau perlu jangan terlalu mengedepankannya. Kita tau kamu mengharapkannya ada di sisimu. Apalagi dengan hadirnya buah hati secara tidak sengaja. Angga sudah baik mau mendatangimu meski sekarang belum mengungkapkan kalau ingin menikahimu. Tapi kelakuannya sudah pasti menunjukkan, kalau dia ingin kamu bersanding di pelaminan dengannya. Jadi, emosimu bisa saja membuatnya pergi darimu tak lama lagi'
...****************...
...Hallo, aku mau tanya, cerita ini cocoknya judulnya After That Night atau Wanita Terlupakan? Terus covernya, nomor berapa yang cocok. Tolong dijawab ya🥰...
.......................................1
2
3
*****..............................
__ADS_1
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉