
Setelah membujuk Debora dengan berbagai benefit kalau Angga akan bertanggung atas Debora jika dimarahi manejernya, akhirnya wanita itu mau ikut masuk ke ruangan dokter di rumah sakit.
Di sana, mereka bertemu dokter yang sama, dokter Anita, dokter magang yang terlalu ramah sampai sering kali membuat pasien tidak nyaman berobat di rumah sakit itu.
"Kalian lagi-lagi datang bersama ke rumah sakit ini. Pasti mau cek kandungan. Apa bapak masih berbohong kalau ibu ini bukan istri bapak? Wajah kalian saja mirip, kalian sangat cocok," ucap dokter magang itu dengan senyumnya yang selalu mengembang seperti bunga di pagi hari.
Angga hanya tersenyum penuh arti menanggapi ucapan sang dokter; dan Debora mengerutkan kening bingung, "Sebenarnya apa yang terjadi?" ucapnya pada dirinya sendiri berusaha mengingat kejadian saat di rumah sakit ini beberapa hari yang lalu.
"Ayo Bu, kita cek kandungannya. Oh, ya. Saya lupa bertanya, kalian kemari untuk mengecek kandungan atau ada hal lain?" tanya dokter.
"Ada hal yang lain," balas Angga dingin.
"Baik, apa hal yang lain itu?" tanya dokter Anita lagi.
"Tadi Istri saya hampir tertabrak, tapi tidak tau apa kandungannya bermasalah. Kalau menurut pengakuannya sih, dia tidak merasa jatuh yang tentunya dapat mempengaruhi janin. Tapi saya hanya mau tau apa kandungannya baik-baik saja atau bermasalah setelah hampir tertabrak tadi. Tolong dicek ya dokter," pinta Angga.
__ADS_1
"Oke … Hanya itu?" tanya Dokter lagi.
"Ya, hanya itu," jawab Angga.
Debora disuruh berbaring di atas ranjang rumah sakit, perutnya dicek dan hampir seluruh bagian tubuhnya dicek seperti tekanan darah, ada penyakit atau keluhan, kemudian hal lain yang bahkan kurang dipahami Angga dan Debora.
Meski keduanya sudah dewasa, tidak menutup kemungkinan mereka memiliki pengetahuan minim tentang kehamilan.
Apalagi seperti Angga, dia adalah lelaki dewasa yang suka sibuk pada satu tujuan.
Tapi karena ia sudah terlanjur memiliki anak dari seorang wanita yang baru kenalnya, Angga berubah haluan. Dia ingin memperjuangkan Debora sampai kapanpun tidak peduli siapa dan apa lawannya.
"Rahimnya baik-baik saja," jelas Dokter setelah mengecek Debora.
Dokter Anita kemudian menunjuk layar USG yang hanya memperlihatkan satu titik kecil dalam gambar berbentuk segitiga terbalik itu. "Lihatlah, janinnya masih sehat."
__ADS_1
"Tapi kenapa Istri saya terus mual? Bukankah orang mual itu berarti sakit 'ya?" tanya Angga menaruh rasa khawatir.
"Mual dan kemungkinan emosi bisa naik turun, itu hal wajar. Namun berbeda cerita kalau mualnya berlebihan sampai pingsan dan makanan tidak dapat masuk ke dalam tubuh. Kami akan menyarankan pasien dirawat inap selama beberapa hari sampai keadaannya benar-benar pulih," jelas dokter Anita.
"Sampai kapan Istri saya akan tetap mual seperti ini Dok?" tanya Angga khawatir.
"Selama trisemester pertama. Kalau tidak salah saya ingat, usia kandungannya sekitar 7 Minggu. Apa benar?"
Debora melihat Angga yang mengangguk. Debora jadi merasa lucu teringat hubungan mereka yang bukan siapa-siapa.
Angga memang Papa janin dalam kandungannya, tapi mereka tidak saling kenal. Debora sampai terkejut setelah tau fakta kalau Angga orang yang ketiga tahu perihal kehamilannya setelah dirinya dan dokter.
"Jadi, masih ada sisa sebulan lebih lagi untuk tetap merasa mual yang terbilang sering ini. Tapi jalani saja. Cintai janin itu, maka semuanya akan menjadi kenangan manis. Ada banyak pasangan yang menjadi pejuang garis biru. Mereka akan menangis kalau tiap bulannya, siklus haid tetap berjalan tanpa henti, jadi bersyukur karena kalian pasangan baru langsung dikaruniai anak," jelas Dokter dengan sabarnya mengajari Angga maupun Debora yang memfokuskan pandangan mereka ke arah sang dokter.
...*****...
__ADS_1
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉