
"Bukan tidak ingin, tapi aku takut berjumpa denganmu. Apalagi sentuhan mu tadi," ucap Debora mengungkapkan isi hatinya. Ia hanya ingin mendapatkan makanannya kembali, makanya ia memilih jujur.
Tapi Angga yang terdiam tetap memakan makanan milik Debora.
"Sudah kubilang jangan memakannya!" bentak Debora kesal.
"Bagaimana kalau aku bilang aku menyukainya?" tanya Angga lagi-lagi memperlihatkan kejahilannya.
"Aku lapar. Bukan hanya perutku yang perlu diberi makan, tapi anak ini juga. Aku takut dia kekurangan gizi," ucap Debora dengan memelas.
Ayolah, Debora adalah perempuan miskin yang hampir kehabisan uang menunggu tanggal gajian.
Sedangkan pria di depannya ini, Debora tau dia sangat kaya. Lihatlah, mobilnya saja bermerek Porsche yang sangat mahal. Bukankah yang perlu dikasihani adalah Debora, bukan pria itu.
Seketika Angga berhenti makan dan menyuapkan nasi dan lauk ke depan mulut Debora. "Aaaa'… makan," perintah Angga.
Debora mulai membuka mulutnya karena jujur, ia tidak pernah merasakan bagaimana disuapi setelah ibunya bercerai dengan almarhum ayahnya.
"Enak," ucap Debora tanpa sadar menunjukkan senyum manis yang menggemaskan di mata Angga.
__ADS_1
"Enak karena kusuapi 'kan?" goda Angga.
Debora menggeleng. "Tidak. Ini karena masakanku memang enak," jawab Debora karena malu mengakui dia menyukai suapan.
"Ya sudah, aku lanjut makan lagi 'ah," Angga kembali makan makanan Debora yang seketika membuat perempuan hamil itu menggerutu.
"Jangan memakannya–huek!" Debora merasa akan mual, ia memutuskan lari ke daerah rerumputan.
Sekuat tenaga dia mengeluarkan sesuap nasi yang sudah dimakannya. Ini sangat menyakitkan.
Saat masih mual, tiba-tiba Debora merasakan seseorang menyentuh tengkuknya. Dari aroma pakaian orang di belakangnya itu, Debora tau ada Angga di sana.
Angga pergi sebentar dan mengambil botol minum 2 liternya. Memberikan botol besar itu kepada Debora dan berkata, "Cuci mulutmu dan minumlah airnya jika sisa," jelas Angga sangat lembut.
Debora langsung menerimanya. Setelah mencuci mulut ia minum beberapa teguk.
"Apa kamu selalu seperti ini setiap selesai makan?" tanya Angga prihatin.
Debora mengangguk. "Itu makanya aku selalu ada di luar kalau mau makan. Aku takut semua orang tahu aku sedang hamil," jawab Debora memilih jujur.
__ADS_1
"Maafkan aku karena sudah membuatmu dalam posisi seperti ini. Saat itu aku sedang mabuk dan tidak tahu kamu gadis nyata," jelas Angga sedih.
"Maksud gadis nyata, apa?" tanya Debora penasaran.
"Aku kira aku sedang bermimpi. Dan melihatmu yang bertelanjang di depanku membuat naluri kelelakianku bekerja yang tanpa kusadari malah membuatmu menanggung semua kesulitan ini."
Debora hanya menggeleng. "Memang awalnya aku terkejut setelah tau sedang hamil. Tapi aku senang; anak ini sangat baik bisa diajak berbicara dan mewarnai hariku," jelas Debora.
Kening Angga mengerut. "Dia bisa bicara?"
Tiba-tiba Debora memikirkan sesuatu yang bisa saja menguntungkan dirinya. "Ya, dia bisa bicara," kali ini Debora berbohong.
Angga berjongkok dan meletakkan telinganya di perut rata yang sedikit menonjol itu.
"Hallo … apakah ada orang di sini?" tanya Angga berbicara pada janinnya.
Jantung Debora semakin tidak karuan saat telinga Angga menempel di perutnya. Meski janinnya belum besar sehingga tidak bisa bergerak sebagai tanda dia menyukainya, tapi Debora bisa tau janinnya pasti sangat senang mendapati ayahnya menyentuh perut Ibunya.
...*****...
__ADS_1
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉