Dihamili Pria Asing

Dihamili Pria Asing
Episode 40


__ADS_3

"Di sini kamar tidurmu," ucap Angga sambil membukakan sebuah pintu di mana terdapat sebuah ruangan dengan sebuah jendela besar yang di dalamnya berisikan sebuah ranjang, lemari pakaian, meja rias dan sebuah pintu tertutup lainnya dalam ruangan itu.


Angga masuk ke dalam, diikuti Debora. "Aku kira semua benda di kamar ini tidak asing lagi bagimu. Jadi aku tidak akan menjelaskan apapun lagi. Kamar ini cukup besar untuk kita berbagi kamar tidur, Aku harap kamu betah," kata Angga


Perkataan Angga seketika membuat mata Debora terbelalak, "Ber … bagi kamar?"


Angga mengangguk, "Ya. Aku ingin lebih dekat denganmu dan bayi kita."


Seketika pikiran Debora lari dari jalur yang sebenarnya. Ia membayangkan bagaimana Angga akan menyentuhnya untuk kedua kali. Sentuhan pertama saja sudah cukup menyakitkan baginya, bagaimana yang kedua? E … entahlah. Debora rasa, lebih baik ia tidak terlalu memikirkannya lebih dalam lagi.


"Sudah berapa kali kukatakan, aku tidak akan menyentuhmu. Menurut dokter, bukankah kamu tidak boleh menyentuh ibu hamil? Apalagi kehamilanmu masih muda. Kalau sudah tua, aku akan bebas melakukanya!"


Angga menjelaskan sambil memperlihatkan senyum merekah. Lelaki itu juga menepuk kedua sisi bahu Debora dengan kedua tangannya.


Tatapan mereka bersatu. Angga senang dan Debora gugup. Entah mengapa setelah menikah dengan Angga, Debora merasa sulit beradaptasi dengan lelaki itu.


Ada saja peringatan dalam dirinya untuk tidak mendekati pria yang sudah menjadi suaminya itu. Peringatan yang mengatakan, 'Semakin kamu dekat dengannya, akan semakin sulit melepasnya'.

__ADS_1


Debora merasa seperti Angga akan pergi meninggalkannya. Debora tidak tau mengapa ia mendapat peringatan seperti itu.


Setelah sadar kalau Debora menatap Angga, dan Angga juga berlaku demikian, Debora memalingkan wajah, dan menunduk.


Angga menggeleng kepala melihat tingkah istrinya itu. Sangat imut di matanya. ‘Masa hanya menatapku dia malu?' batin Angga.


"Mau kemana?" tanya Angga ketika melihat Debora yang akan pergi ke luar kamar. Dia menyusul Debora lantaran tidak mendapatkan jawaban dari istrinya itu.


Angga berdiri dari jarak tiga meter. Debora tampak kebingungan mau cari jalan. Angga paham Debora belum mengenal villa mini ini karena Debora baru saja datang ke Villa ini. Tapi kenapa Debora tidak bertanya padanya saja? Siapa tau Angga bisa membantu.


"Eum … Ak-aku mau pipis," bisik Debora. "Di mana kamar mandinya?"


Angga menghela nafas. "Ternyata hanya cari itu …" Angga tidak tahu mau tertawa atau bersikap seperti apa kala melihat Debora yang berusaha kuat dan tidak membutuhkannya.


"Kamu tau di mana kamar mandinya?" tanya Debora yang tidak tahan lagi.


"Mau sekarang atau nanti?"

__ADS_1


Kening Debora mengerut. "Ya sekaranglah," balas Debora kesal.


Angga tak memudarkan senyumnya. "Senyum dulu."


Lama kelamaan Debora emosi karena Angga yang sekarang cukup menyebalkan di matanya.


"Cepatlah …" kata Debora mendesak. Dia melompat-lompat karena menahan panggilan alam itu.


"Senyumlah dulu," Angga masih bercanda.


"Ayolah, kasih tau di mana kamar mandi. Kamu tidak mau 'kan, aku pipis di sini?! Menahan kencing bisa buat anak ini ma–"


"Iya-iya. Aku kasih tau. Kamar mandinya di kamar," ucap Angga.


"Di kamar? Kamu tidak bercanda 'kan?" Debora mulai tidak percaya pada Angga.


Angga menggeleng. "Benaran di kamar, kalau kamu tadi liat ada pintu lainnya dalam kamar, di balik itu kamar mandinya."

__ADS_1


__ADS_2