
"Tidak bersuara pun," ucap Angga bingung setelah tidak mendengar sedikitpun suara dari janin dalam perut Debora.
Debora menahan tawa seraya berkata, "Kalau dia pandai bicara bahkan saat di dalam perutku, dia akan sering memakimu sebagai Papa yang tidak bertanggungjawab. Lagipula memangnya kamu akan mengganggap janin ini anakmu kalau dia pandai bicara? Dia juga anak manusia. Setelah lahir, diajarin, baru bisa pandai bicara." jelas Debora.
Angga berdiri dengan sebuah kekecewaan. "Lalu kenapa kamu berkata dia bisa bicara?"
Debora terdiam sesaat. Dia mau bilang, tapi lupa namanya.
"Kamu hanya mau membohongiku karena aku sudah lebih dahulu menjahilimu 'ya?" tanya Angga sedikit kesal.
"A-aku tidak membohongi mu. Yang kumaksud adalah semacam ikatan batin," ucap Debora yang tidak ingin dicap sebagai perempuan pembohong.
"Aku bisa bicara pada bayiku karena kami bersatu. Setelah aku tau aku hamil, sama sekali tidak terbesit dalam pikiranku untuk menggugurkannya," kata Debora jujur.
"Dan karena ini kehamilan pertamaku, aku mencari dari banyak sumber supaya bayi ini bisa lahir normal dengan kecerdasan dan ketangkasan. Akhirnya aku paham dan mencobanya; ternyata dengan sering mengajak janin dalam perut berinteraksi dia merasa dianggap oleh keluarganya, terutama Mamanya."
__ADS_1
"Lalu apa yang pernah kamu katakan tentang aku pada bayi kita?"
Mendengar kata bayi kita keluar dari mulut Angga, Debora merasa senang seperti mendapat perlakuan teristimewa yang tentu membuatnya bahagia.
"Hmm … aku berkata kalau Papanya bernama Anggara Mike. Orangnya tampan, kaya, gagah dan perkasa. Tapi aku memintanya untuk tidak merindukanmu, karena tidak mungkin kami bertemu lagi denganmu."
Mendengar jawaban Debora, membuat Angga kesal. "Kamu memintanya untuk tidak merindukanku?"
"Iya," jawab Debora yakin.
"Lalu, siapa yang ada di hadapanmu sekarang? Bukankah Anggara Mike? Sekarang kita sudah bertemu, lalu kenapa kamu bilang kita tidak akan bertemu. Lihat dan pegang tanganku, cubit aku atau kamu sendiri biar kamu yakin, aku benaran ada."
Debora menatap Angga dengan terkejut. Ia tidak percaya reaksi Angga seperti tidak rela dirinya tidak dianggap.
Mendadak semua kekaguman perempuan itu hilang dan dia menunduk sedih.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah sedih? Padahal aku yang seharusnya sedih karena tidak dianggap olehmu dan anak kita," kata Angga setelah sadar kalau Debora tampak murung.
"Memang kita sudah bertemu lagi. Tapi aku pikir, kita hanya berjodoh di jalan. Tidak untuk selamanya," ucap Debora mengungkapkan isi hatinya.
"Maksudmu?" Angga tidak paham.
"Aku sadar aku siapa. Malam itu aku sudah menandatangani perjanjian untuk tidak muncul di hadapanmu, ataupun Ben dan Cika. Dan uang senilai 50 juta sudah menjadi milikku. Tapi Ben hanya memberi 30 juta untuk kekasihku sehingga dia sangat marah dan memutuskan hubungan kami. Aku paham aku dan kamu tidak akan bersatu. Kita bukan orang yang seharusnya bersama. Itu hanya sekali dan langsung mengikat kita," ucap Debora pasrah.
Ia tidak ingin terlalu berharap lebih meski Angga sudah ada di depannya dan ini pertemuan ketiga mereka.
Namun Angga tampak menggeleng. "Kamu tidak boleh berpikir seperti itu. Yang sekali langsung mengingat kita harus diperjuangkan. Aku tidak mau putraku hidup tanpa Papa. Apalagi–"
"Dari mana kamu tau janin ini laki-laki? Aku saja sebagai Mamanya tidak tau," ucap Debora curiga.
...*****...
__ADS_1
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉