Dihamili Pria Asing

Dihamili Pria Asing
Episode 24


__ADS_3

Mata Angga membulat terkejut mendengar penuturan kata Debora, dia yang terus berjalan dan menatap lurus ke depan terhenti, dia terpaku untuk beberapa saat lamanya.


"Kenapa berhenti?" tanya Debora menatap Angga dengan ekspresi bingung.


Angga akhirnya menatap Debora, dia memposisikan tubuhnya ke depan wanitanya itu. Bahkan tanpa permisi, Angga memegang tangan Debora seraya berkata, "Kamu bukan orang lain, Debora," ucap Angga dengan tulus. "Kamu ibu dari anak kita." Mendadak, pria itu menyentuh perut Debora yang seketika membuat hati Debora menghangat.


'Apa ini simbol kalau Debora memintaku untuk menikahinya?' pikir Angga.


"A-aku pikir kita harus segera pergi dari sini."


Angga mengerutkan kening, "Memangnya kenapa?"


"Aku malu orang-orang melihat kita." pipi Debora memerah. Apalagi tatapan penuh cinta yang ditunjukkan Angga--entah lelaki itu benar-benar mencintainya atau bukan, Debora tidak tau.


Mendadak Angga merapatkan tubuhnya dengan Debora. Dan mereka berjalan bersama. Baru beberapa langkah, Angga juga berbisik, "Biarkan saja mereka tau kita pasangan."


Debora tidak menjawab, dia benar-benar hilang akal dengan semua perhatian yang ditujukan Angga padanya. Sebuah perhatian yang tidak pernah didapatkannya dari siapapun kecuali Ibunya. Itupun saat kecil, dan Debora tidak tau kemana sang Ibu hingga saat ini. Apa masih hidup atau …


"Silahkan masuk tuan putri." Angga membukakan pintu untuk Debora, ia membungkuk seperti seorang supir pada nyonyanya.

__ADS_1


Debora yang baru tersadar dari lamunannya pun hanya terdiam bingung melihat kelakuan spesial yang dibuat Angga padanya.


"Makasih," ucap Debora dengan senyum tipis.


Setelah Debora masuk, Angga masuk. Pria itu mulai menghidupkan mobil saat bertanya, "Apa manejermu melakukan hal kotor seperti tadi, Debora?"


Debora menggeleng. "Dia memperlakukanku sangat baik. Tidak jarang dia terus tersenyum sangat ramah padaku sampai temanku, Tia kebingungan sampai menduga-duga hal aneh telah terjadi.


Angga mengangguk paham. "Berarti, Kita langsung ke rumahmu?"


"Ya. Aku sudah lelah seharian bekerja."


"Hem, tinggal lewati penyebrangan kedua, terus lurus sampai terlihat rumah bertingkat warna pink."


"Itu rumahmu?" tanya Angga mastikan.


"Tidak, itu rumah temanku. Rumahku ada di sampingnya."


Angga menuruti perintah Debora dengan membawa mobil ke tempat yang diinginkan Debora.

__ADS_1


Angga melihat rumah kecil Debora. Catnya biru dengan sedikit retakan pada dindingnya. Kemudian sedikit tanaman di depan rumah, hanya ada gantungan sepatu di dinding dekat pintu dan rumah ini sangat kecil untuk Angga yang sudah terbiasa dengan ruangan besar dan megah.


"Apa ini rumahmu?"


Debora yang baru akan membuka pintu menoleh. "Iya, ini rumahku." buru-buru dia turun dari mobil dan berkata, "Terimakasih sudah mengantarku!" dia melambaikan tangan dan pergi dari sana.


Sejenak Angga terdiam melihat Debora yang sedang membuka pintu rumahnya. Tapi pria itu mengingat satu hal penting yang tentunya tidak boleh terlewatkan.


"Debora harus tanggungjawab atas perutku yang lapar." Hal ini membuatnya menyusul Debora ke rumahnya.


Langkah Angga yang terdengar sangat jelas di telinga Debora membuat wanita itu menoleh. Dia mengerutkan kening. "Kenapa kemari lagi? Ada yang perlu ya?" tanya Debora was-was.


Debora masih sangat berjaga-jaga tentang Angga yang tampak akan masuk ke rumahnya. Debora masih mengingat tentang malam itu.


Debora tentu tidak ingin malam itu terulang lagi, apalagi lingkungan rumah Debora setiap rumahnya tidak memiliki pagar pembatas.


Jarak rumahnya dan rumah tetangga didepannya hanya sepuluh langkah. Jadi kemungkinan besar kalau tetangga kepo akan melihat apa yang terjadi pada Debora.


...****...

__ADS_1


Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉


__ADS_2