
"A-aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya bertanya saja. Tapi mungkin masa itu bukan masa suburmu," ucap Angga menenangkan Cika.
Ayah dan Ibu Angga sudah memberi pinalti atas perbuatan buruk Angga yang jelas sangat memalukan.
Menyetubuhi wanita tanpa dilandasi pernikahan, bukankah sangat buruk? Angga sendiri bisa meminta kedua orangtuanya untuk menikahinya cepat-cepat tanpa menghancurkan kehidupan gadis itu.
Meski Angga kurang yakin, kalau Cika-lah gadis di malam itu.
Angga bisa merasakan perbedaannya karena dalam mabuk, Angga ingat bagaimana lekuk tubuh gadis di malam itu.
Justru wanita hamil yang sempat dibawanya ke rumah sakit, dan janinnya terasa dekat dengannya.
Namun Angga segera menolaknya dalam hatinya, Kurasa, itu hanya kebetulan.
Angga juga bingung harus melakukan apa. Ia sudah menyewa detektif untuk mengetahui kasus di malam itu, namun hingga kini sang Detektif tidak kunjung menemuinya entah apa yang terjadi.
Berbeda dengan pemikiran Angga yang ragu kalau wanita di malam itu bukan Cika, Cika malah berpikir kalau Angga sudah bertemu Debora.
'Aku yakin dia pasti sudah menemukan kejanggalan karna aku ga hamil-hamil. Aduh, aku harus buat apa?'
"Ga, aku mau ke toilet dulu," ucap Cika yang segera diangguki Angga.
__ADS_1
Di kamar mandi, Cika menelepon Ben. "Kak Ben," ucap Cika dengan manja.
"Apa ada yang terjadi? kenapa menghubungi kakak?" tanya Ben dari tempat lain.
"Sepertinya Angga sudah mencurigaiku."
"Kenapa dia mencurigaimu? Kamu tidak sengaja membocorkan rahasia kita 'kan?" Ben mulai panik.
"Tidak kak."
"Lalu?"
"Angga tanya tentang kehamilan, karena dia ingat dia mengeluarkannya di dalam," jawab Cika lemas.
"Kakak ada nomor atau alamatnya, ga? Biar kita bisa negosiasi supaya dia memberikan anaknya."
"Tidak, kakak tidak memiliki nomor atau alamatnya. Tapi kecil kemungkinannya jika perempuan itu hamil. Lagipula kita bisa mengakalinya supaya Angga benar-benar mempercepat pernikahan ini. Kamu bisa tidur dengannya. Kakak akan memberi kamu minuman biar kamu bisa hamil dan memperkuat posisimu di sampingnya," kata Ben yang semakin membuat Cika kegirangan.
"Kakak memang selalu bisa diandalkan."
"Kita akan bertemu di koridor, aku akan memberi obatnya," jelas Ben.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Cika menyempatkan bertemu Ben di koridor, Ben memberi sebuah air mineral dalam kemasan pada Cika dan berbincang layaknya kakak beradik supaya tidak ada yang curiga.
Saat Cika kembali ke balkon hotel, Angga bahkan masih menatap langit biru di angkasa.
Kepala Angga dipenuhi bayangan kejadian tadi di rumah sakit.
Suara denyut jantung janin dalam kandungan wanita itu untuk kesekian kali terus menari-nari dalam kepalanya.
"Ga, Angga? Sadar, Ga," Cika berusaha menyadarkan Angga yang melamun.
"Kenapa?" tanya Angga tersadar.
"Kenapa melamun sih? Kamu kepikiran sesuatu ya?"
"Em, itu ... Eee, tidak aku hanya berpikir tentang perusahan, hanya itu." Angga sengaja tidak memberi tahu Cika karena Ia tidak ingin Cika malah salah sangka dengan kejadian tadi sore kalau Angga menceritakannya.
"Aku bawakan air mineral untukmu, karena aku pikir kau akan haus," ucap Cika sambil menyodorkan botol air mineral itu pada Angga.
Angga hanya menerimanya dan tersenyum singkat, "Makasih," ucapnya.
Kening Cika mengerut, saat Angga tidak mengonsumsinya, "Kenapa tidak diminum? Aku sudah lelah-lelah membawanya loh," ucap Cika dengan memelas. Aku sudah memintanya dari kak Ben. Angga harus meminumnya dan tidur denganku malam ini, pikir Cika berharap.
__ADS_1
****
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉