
"Naluri seorang Papa," jawab Angga tersenyum manis. Ia hanya asal-asalan bicara, namun sepertinya Debora kagum melihat Angga.
Sebenarnya Angga tidak terlalu memperdulikan jenis kelamin anaknya nanti. Namun ia lebih berharap kalau anaknya laki-laki supaya kedua orangtuanya yang lebih menyukai anak lelaki, dapat menerima anak Angga yang sekarang ada di rahim Debora.
"Aku mau pergi ke restoran. Di mana bekalku, jangan-jangan kamu makan semuanya 'ya?" tuduh Debora.
"Sembarangan. Aku tidak serakus itu 'ya!" ucap Angga tidak terima.
Debora berjalan ke mobil, dia melihat bekalnya dimakan kucing. Dengan kesal, ia mengambilnya serya berkata, "Lihat ini, dia mengambil milikku. Hiks-hiks ... aku lapar, bukan hanya aku yang perlu makan, tapi anak ini juga," ucap Debora dengan tangisan.
Angga mendekati Debora. Ia merasa iba dan bersalah karena kejahilannya Debora tidak makan. Dia menarik tangan Debora dan mendudukkannya di kursi mobil,
Angga membungkuk yang berarti sedang mendekatkkan tubuhnya ke Debora.
Tentu saja Debora yang panik tidak ingin kejadian itu terulang lagi langsung menendang paha Angga hingga lelaki itu terjatuh dan merintih, "Awwhh, sakit. Apa yang kamu lakukan?! Aku hanya mau memasangkan sabuk pengaman untukmu," ucap Angga memberitahu niatnya.
"Sorry." Pipi Debora memerah, dia sangat malu karena salah paham terhadap Angga.
__ADS_1
Angga berdiri dan berjalan tertatih-tatih untuk duduk di kursi pengemudi. Ia tidak berkata apapun pada Debora setelah mobil itu jalan. Bahkan dia hanya diam saja; nembuat Debora merasa bersalah.
"Aku minta maaf. Aku masih trauma pada kejadian itu," ucap Debora lagi.
Angga mengangguk paham. "Tidak masalah, aku hanya merasa sakit karena terkena tendangan mu." Angga sadar, penderitaan kecil yang dialaminya tidak sebanding dengan penderitaan besar yang telah diterima Debora karena mengandung anaknya.
"Terimakasih sudah memaafkan ku." Debora menunjukkan senyum terbaiknya untuk ayah anaknya itu.
Awalnya, Debora merasa harus jaga jarak dengan pria yang kini akan mengantarkannya ke restoran tempatnya bekerja itu.
"Kenapa kita pergi ke rumah sakit?" tanya Debora saat wanita itu melihat Angga memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit.
"Aku harus memperhatikan kesehatanmu setelah terjatuh tadi," jawab Angga.
"Terjatuh? Kapan aku jatuh?"
Angga menoleh pada wanita itu, "Apa kamu melupakannya? Kamu jatuh tadi," jelas Angga terkejut karena Debora melupakannya.
__ADS_1
"Oh, tadi." Akhirnya Debora mengingatnya. "Aku hanya berjongkok untuk melindungi perutku. Memang tadi sempat jatuh, tapi tidak sampai terkena pinggul. Ada kakiku yang menopang," jelas Debora.
"Tapi bukankah itu sama saja kamu jatuh? Aku harus memastikannya." Angga sangat khawatir.
"Tapi kita sudah ada di sini. Meluangkan waktu lima belas menit untuk periksa memangnya masalah?"
"Memang tidak masalah. Tapi waktuku sudah hampir habis izin ke luar restoran, nanti gajiku dikurangi karena kelamaan di luar," jelas Debora khawatir.
Namun Angga hanya membalas dengan senyuman lebar. 'Apa dia lupa aku bisa saja menafkahinya? Seberapapun yang diminta, aku bisa memberikannya. Apa yang dipakainya, dimakannya adalah untuk anak kami kelak,' pikir Angga.
"Bagaimana kalau aku akan membayar uang yang kamu harus sia-siakan demi ke rumah sakit," tanya Angga.
"Tapi mereka bisa saja memecatku," bisik Debora dengan lemah.
...*****...
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉
__ADS_1