
Di dapurnya, Debora melihat bahan makanan apa saja yang dimilikinya.
"Dia sudah berbuat baik padaku. Sehingga kupikir, aku harus melakukan yang terbaik juga untuknya."
Debora hanya melihat satu rak telurnya yang masih tersisa sebelas biji telur. Ia memang selalu menyetok setidaknya satu rak telur setap bulannya untuk mencegah kelaparan saat tanggal tua.
"Selain telur, aku punya apa lagi yaa?" Debora menganalisa, sekaligus mencatat bahan makanan yang habis supaya ketika dia ingin memakan makanan yang memerlukan bahan makanan itu, dia tidak terkejut karena habis.
"Baik. Hanya ada telur, sedikit sayur dan sambal. Aku kira aku perlu membuat telur bulat goreng dengan sayur."
Debora mulai merebus telur seraya mencuci sayur. Dia sangat senang karena akan memasak makanan untuk Angga. Ia menyukai Angga, sehingga menyajikan yang terbaik tampaknya sepadan dengan apa yang sudah dilakukan pria itu selama seharian ini.
Hanya perlu setengah jam, Debora sudah menyelesaikannya. Dia meletakkan mangkuk berisi tiga telur rebus yang kemudian digoreng dan diberi sambal.
Mangkuk itu diletakkannya di meja makan. Kemudian Debora mengambil dua piring dan menyendokkan nasi ke dalam piring.
__ADS_1
Mengambil telur dan sayur dan membawanya menggunakan nampan ke luar. Mungkin Angga sedang menunggu.
Tampak jelas ketika Debora melihat Angga sampai terfokus pada tablet miliknya di dalam mobil.
"Ini pesananmu," ucap Debora menunjukkan senyum lebarnya.
"Oh, makasih."
Angga mengambilnya dan segera makan. Ia sangat senang menikmati hidangan buatan Debora apalagi senyum manis ibu dari janin yang sedang dikandung Debora itu.
"Kamu tidak makan?" tanya Angga yang melihat. Debora menyandarkan tubuhnya di pintu mobil Angga yang kacanya terbuka. Debora terus memperhatikan Angga sampai pria itu merasa sedikit tidak enak.
Sedang Angga yang semakin tidak tega melihat Debora pun langsung keluar dari mobilnya. "Aku akan makan di dalam rumahmu saja."
Mood Debora yang sedang baik-baik saja pun tanpa perlawanan membiarkan Angga masuk ke rumahnya.
__ADS_1
"Di sini meja makanku," ucap Debora. Ia juga duduk di kursi. Sambil makan, Angga terus memperhatikan wanita hamil di depannya.
"Apa rasanya enak?" tanya Debora basa-basi. Keadaan sangat hening selama mereka makan. Setelah selesai pun, Angga hanya melihat Debora hingga membuat wanita itu risih bukan main.
"Ya, sangat enak," ucap Angga jujur. "Tapi tadi aku ingat kamu seperti tidak pandai menjaga diri," lanjut Angga.
"Maksudmu?" Debora melihat ke arah pria yang masih duduk di kursi kayunya itu. Sedangkan Debora sedang mencuci piring.
"Dari caramu yang terlalu takut sewaktu mau dilecehkan manejermu. Kalau aku tidak datang ... mungkin kamu sudah diapa-apain sama dia," ucap Angga menaruh rasa sedihnya.
"Aku tidak tau cara membela diri. Aku terlalu lemah dan bodoh. Sangat tidak bisa menjaga diri."
Angga berdiri dan mendekati wanita itu. Dia tampak menyentuh lekuk pinggang Debora dan mendekatkan bibirnya ke bibir Debora. Debora tampak tidak memberikan respon apapun. Debora hanya ketakutan tanpa bertindak. Angga berhenti menyentuh Debora, tampak kesedihan terpancar di wajah Angga.
"Aku kira kamu perlu belajar cara melawan orang yang mau melecehkanmu," kata Angga memutuskan.
__ADS_1
*****
Jangan lupa selalu tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉