Dihamili Pria Asing

Dihamili Pria Asing
Episode 12


__ADS_3

Angga tidak berbohong saat mengatakan bekal sederhana Debora sangat lezat. Rasanya pas dan cukup bergizi karena ada sayur di dalamnya.


Namun bukan hanya itu saja yang menjadi fokus utama Angga. Bagi Angga yang menjadi poin pentingnya adalah, Angga bisa merasakan masakan ibu dari calon anaknya.


Saat Angga melihat Debora ingin pergi, ia ingin membalas perbuatan baik yang dilakukan Debora dengan sesuatu yang lebih.


"Kamu pesanlah makanan yang akan kamu makan hari ini. Terlebih makanan kesukaanmu. Aku akan membayar semuanya."


Bukannya menanggapi ucapan Angga, Debora malah berbicara topik lain. "Kalau sudah selesai memakannya, bapak bisa memberikannya lagi pada saya."


Debora kembali pergi dari hadapan Angga dengan wajah kaku. Tentunya Angga dapat merasakan, 'Debora pasti masih ketakutan melihatku.'


Dalam hati terdalam Angga bersyukur karena Debora tidak histeris saat bertemu dengannya; seperti cara wanita yang pernah mengalami pelecehan untuk melindungi dirinya.


Seusai makan, Angga mendatangi Debora yang kebetulan baru mengantar pesanan di meja nomor 10.


"Aku pesan minumannya, boleh?" tanya Angga yang seketika membuat langkah Debora terhenti.


"Sudah selesai makannya?" tanya Debora tetap menjaga suaranya meski pikirannya tidak sedang baik-baik saja.

__ADS_1


"Sudah," jawab Angga.


Debora mengambil kotak bekalnya dan menyimpan benda itu di tasnya. Kemudian dia mengambil botol minum yang di sana berisi jus pisang kesukaannya.


Debora memberikan minuman itu entah dengan dorongan apa. Pokoknya dia mau memberikannya. Padahal Debora sendiri bisa hanya memberikan air putih pada Angga.


"Makasih minuman dan makanannya." Angga memberikan 3 lembar uang seratus ribu pada Debora.


"Aku akan datang nanti siang untuk makan. Aku harap kamu memberikan sesuatu yang seenak tadi padaku," ucap Angga dengan senyum hangat yang seketika membuat jantung Debora tidak baik-baik saja.


***


"Kapan-kapan datang ke sini lagi ya, sayang. Ibu sangat menyukai keberadaanmu di sini! Karena hanya ada Angga dan ayahnya di rumah ini. Yaaa, akhirnya Ibu tidak punya temen deh selama beberapa tahun ini," ucap Ibu Angga antusias.


Cika menunjukkan senyum merekah yang sebenarnya hanya pura-pura, "Iya, Tante. Cika bakal sering-sering datang ke sini."


"Jangan suka panggil Tante dong. ah udah berapa kali Ibu bilang! Panggil Ibu aja. Ibu senang karna kamu udah ibu anggap jadi anak."


"Makasih, Tan eh Bu. Lagipula Cika mau pulang karna ada jadwal audisi model nanti malam, jadi Cika harus bersiap-siap dari pagi, moga-moga Cika menang dan tembus jadi juara," ucap Cika.

__ADS_1


"Iya deh. Ibu dukung. Moga menang ya," doa Ibu.


"Amin."


Setelahnya, Cika pergi menjumpai kakak laki-lakinya–Ben di rumah lelaki itu. Cika datang dengan wajah kesal. "Kakaaaaaakkkkk!" teriaknya berulang kali di seluruh penjuru rumah.


Cika memang sudah dewasa, namun jiwanya masih percis seperti anak kecil yang suka dimanja. "Kemana sih kak Ben?!"


"Ah, ah, ah. Faster baby!" Malah terdengar suara desah*n dari arah kamar.


Cika bersedekap dan menggerutu. "Dasar ya! Kerjanya main sama perempuan aja terus!"


Cika mendatangi kamar Ben dan mendobraknya. "Kakaaaakk! Si Angga ga ada di rumahnya semalam jadi dia ga jadi tidur sama aku!" ucapnya dengan tangisan bercampur kesal yang seketika membuat teman wanita Ben menatap Cika dengan pandangan aneh.


"Dia siapa sih, Yang?" tanya teman wanita Ben.


****


Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉

__ADS_1


__ADS_2