Dihamili Pria Asing

Dihamili Pria Asing
Episode 28


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Debora penasaran.


"Tidak kenapa-napa, aku hanya kira itu kurang cocok saja," jawab Angga singkat.


Debora senyum, "Aku tau kamu berbohong, jujur saja Kamu pasti berkata begitu karena badanku kurang tinggi. Iya kan?"


Angga menggeleng gugup meski hatinya berkata tebakan Debora sangaatt benar.


"Beri tau aku, beri tau aku, beri tau…, beri tau, beritahu, beri tau! Aku Angga! Atau aku tidak akan bisa tidur nih!" Debora berbicara dengan nada manja, wanita yang hidupnya selalu sendiri itu memang sangat senang berbicara manja pada orang yang dipercayai nya.


Anga menghela nafas, sejujur nya ia tidak ingin menyakiti hati wanita itu, tapi mau tidak mau ia harus mengungkapkan nya. "Maaf menyinggung. Tapi kakimu terlalu pendek untuk tubuh laki-laki setinggiku. Se-sebenarnya manekin ini kubuat karena tidak ada yang tau ada orang jahat yang akan mengganggumu. setinggiku pula … maksudku, supaya kamu tidak terkejut lagi," jelas Angga dengan ekspresi canggung.


Debora mengangguk. Dia tersenyum seraya menggaruk kepala. "Heheh, maaf. Aku memang pendek. Aku paham kamu takut kakiku malah lebih dulu di tangkap orang itu dan menjatuhkan ku."


Angga tidak percaya respon Debora sangat manis di matanya. Hal ini membuat Angga semakin bersemangat mengajari Debora.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan ganti cara yang tepat untukmu."


Selama setengah jam lebih mereka berlatih. Banyak keringat dan kebahagiaan yang dirasakan keduanya saat berlatih.


"Kurasa hanya sampai di sini saja dulu," ucap Angga menghentikan kegiatan keduanya.


Debora duduk di lantai. Dia menyeka keringatnya, "Makasih sudah mengajariku. Aku jadi paham cara melawan orang jahat di luar sana." Debora memberi senyum terbaiknya.


Angga juga menjawab dengan senyuman. "Sebentar ya, aku mau ambil air minum dulu," pamit Debora yang segera berdiri dan mengambil air dingin. Setelah meletakkannya di atas nampan, Debora memberikan air itu pada Angga.


"Ini untukmu, dan ini untukku."


Keadaan kembali hening. Debora yang hendak mencari bahan obrolan melihat jam. Dia terkejut. "Sudah jam tujuh, Angga. Aku kira kamu perlu pulang."


Dalam hati nya, Angga menggerutu. Dia tidak percaya, Dia masih melihat jam dinding di saat seperti ini. Padahal aku mau berlama-lama di sini, Angga begitu menyayangkan waktu yang secepat ini.

__ADS_1


Tapi Angga yang tidak ingin Debora kembali menaruh rasa curiga ataupun perasaan buruk lainnya, ia memilih berdiri meski hatinya berat untuk meninggalkan.


"Aku akan pulang. Terimakasih sudah mau berteman denganku," ucap Angga seraya tersenyum.


Mata Debora membuka terkejut. Dia tidak percaya, "Ka-kamu katakan apa, tadi?"


"Teman. Aku bilang kamu teman. Apa ada yang salah?" jelas Angga ragu. Dia takut, apa Debora marah karena kubilang dia adalah temanku?


Debora menggeleng. Dia semakin tersenyum lebar. "Aku senang kamu memanggilku seperti itu. Aku harap kita adalah teman," ucap Debora.


"Ya. Kita adalah teman mulai sekarang," ucap Angga mempertegas. Angga tidak percaya perkataan yang tidak sengaja diucapkannya malah membuatnya menjadi teman ‘Debora’ hanya dalam sehari.


"Aku harap kamu terus memanggilku seperti itu," ucap Debora senang ketika Angga akan melangkah ke luar rumahnya.


‘Apa itu artinya dia menginginkan pertemuan kami yang lebih sering?' pikir Angga menebak-nebak.

__ADS_1


****


Jangan lupa selalu tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉


__ADS_2