
Angga hampir saja kelepasan tawa karena ternyata Doin, si lelaki berkulit coklat gelap itu cemburu dengan penampilannya yang memang sangat terawat. Namun tawanya itu perlu dijeda saat pak RT yang sudah mengecek kondisi Debora kembali ke tengah-tengah mereka.
"Memang ini adalah sebuah kesalahan. Mereka harus diberi hukuman. Tapi kita tidak ingin bukan, kalau mereka terus melakukannya sembunyi-sembunyi dan kebiasaan buruk ini menjadi aib bagi perumahan ini? Maka dari itu, nanti siang, kita akan melakukan pernikahan di aula."
Sontak mata Doin terbelalak. Dia yang menyukai Debora sejak pertama kali melihat wanita itu tentu saja tidak terima.
"Aku menolaknya! Enak saja dia bakal nikah sama Debora-ku! Aku akui, aku yang datang untuk melecehkannya."
Pak RT tersenyum samar. Ini memang rencananya.
Saat pak RT ada di kamar Debora, Debora mengatakan pada pak RT, "Pak, pelakunya adalah orang yang tidak bapak duga-duga melakukannya," ucap Debora dengan suara gemetar dan kecil saat itu.
Pak RT mendengarkan dengan baik. "Katakan saja siapa pelaku sebenarnya. Dan menurutmu, apa yang perlu kita lakukan untuknya," jawab pak RT dengan suara yang bersahabat.
"Katakan saja pada mereka kalau bapak akan mengadakan acara pernikahannya di aula siang ini juga. Mereka yang melakukannya pasti akan mengaku juga."
__ADS_1
Pak RT tersenyum paham. Ide yang sangat bagus! pikirnya.
Sekarang, setelah pak RT mengucapkan katanya, dia menemukan pelakunya. "Baik, karena kamu pelakunya, kenapa kamu tega melakukan hal buruk semacam itu pada Debora. Dia ada salah padamu, makanya kamu berbuat seperti itu padanya?" tanya pak RT.
Doin hanya menunduk, "Gue hanya suka aja sama Debora. Tapi dia terus tolak gue. Entah apa kekurangan gue di matanya."
Pak RT menepuk bahu Doin. "Ya kalau suka tapi ditolak, jangan dipaksa. Kalau jodoh ga usah dicari pun dapat dengan jalur yang ga disangka-sangka. Kalo Debora ga suka kamu, mungkin karena dia udah punya nak Angga yang jadi calon suaminya."
Hati Angga sontak terkejut karena kalimat yang dilontarkan pak RT. Dia sudah menganggapku calon suami?
Debora tampak duduk termenung di ranjangnya. Wajahnya tampak sangat lemas.
Tok-tok-tok. "Apa aku boleh masuk?" Angga berbicara seusai mengetuk pintu. Pandangan Debora seketika beralih, menatap Angga. "Silahkan," ucapnya berusaha bersikap tenang.
"Apa yang kamu katakan itu benar, Debora?" tanya Angga.
__ADS_1
Debora menoleh, "Maksud kamu?" tanya Debora tidak paham.
"Tadi kamu bilang melalui pak RT di perumahan ini kalau aku calon suami kamu."
Debora kembali menatap kakinya yang bergerak maju mundur. Ia melakukannya karena menyembunyikan pipinya yang mungkin sudah merah karena malu. "Hem, ya," jawab Debora sedikit ragu.
Angga tersenyum dengan memalingkan wajah ke arah lain. Jika saja dia tidak ingat ada banyak orang yang sedang memarahi dan menghukum Doin di luar kamar, mungkin saja ia sudah teriak bahagia. Pikirannya penuh dengan kata Debora pasti sudah menerimaku! Dia mau aku menikahiku. Ini pasti adalah kode keras!
"Jad-jangan kira itu karena aku mau kamu menikahiku. I-itu karena supaya semua orang tidak menganggap janggal hubungan kita," jelas Debora gugup.
Tapi bagiku itu adalah kode keras!
***
Catatan author:
__ADS_1
Heheh😅, di bab ini kita tau tanpa sengaja Debora kasih kode keras untuk Angga😍. Siapa nih yang mau mereka berdua menikah?🤭 Beri komentar yaaaa🤗