
"Ya, aku mau!"
"A-apa? Kamu mau?" Angga melihat ke arah Debora. Sankin senangnya dia, sampai menghentikan laju mobil dan memeluk Debora.
"Terimakasih! Terimakasih!" kata Angga tidak dapat menahan rasa senangnya.
"Apa kamu tau, kelakuan mu ini dapat membuat kita celaka!" ucap Debora saat Angga sudah melepas pelukannya.
"Maaf. Aku terlalu senang," bisik Angga sambil menggaruk tengkuk.
***
Setelah kemarahan singkat Debora yang meminta Angga hati-hati untuk lain kali, Angga berencana membawa Debora ke KUA. Setelah mengisi beberapa syarat yang harus dipenuhi, hari ini juga mereka menikah.
Jujur, Debora belum siap. Ia tidak pernah menghadapi hal semacam ini meski Angga tidak memberinya pernikahan mewah meski dari penampilan dan segala yang dimiliki Angga menunjukkan dia adalah orang kaya.
"Aku hanya memberimu pernikahan paling sederhana seperti ini. Hanya ada sepuluh saksi, semua office boy dan office girl di perusahaanku. Bahkan kamu tidak memiliki saudara ataupun orang terdekat untuk menyaksikannya," kata Angga saat Debora sedang dirias MUA untuk persiapan pernikahan.
Debora hanya diam dan tenang. Ia tidak ingin membuat riasan sementaranya pudar karena penampilannya hari ini akan membuat kenangan seumur hidupnya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
Angga dan Debora baru keluar dari gedung KUA. Mereka baru saja menikah sekaligus mendaftarkan hubungan mereka supaya sah di mata hukum dan Agama.
Tapi raut wajah Debora tidak bisa menyembunyikan kalau dia sangat gugup. Perasaan itu terus menghantuinya meski mereka sekarang sudah ada di mobil yang melaju meninggalkan gedung.
Melihat Debora yang tidak mengganti ekspresi wajahnya, Angga menyentuh tangan Debora dan menggenggamnya.
"Kenapa?" Debora melihat tangan mereka yang sudah tertaut.
"Tidak kenapa-napa. Hanya menenangkan mu saja, kenapa masih gugup sih?" Angga berbicara tanpa melihat ke arah Debora karena ia pandangannya terfokus pada jalan.
"Nih, tanganmu dingin sekali," lanjut Angga mencairkan suasana.
Debora menoleh pada Angga. "Angsa putih?" alis Debora terangkat.
"Ya angsa putih. Aku akan memanggilmu dengan sebutan itu. Itu nama sayangku untukmu." Angga memperlihatkan senyum.
"Kenapa tidak. sebutan 'Debora' atau 'sayang' saja?" tanya Debora bingung. Biasanya ia akan mendengar kata dear, Mama/Papa, my baby, atau honey untuk pasangan tercinta mereka. Tapi Angga berbeda.
__ADS_1
"Kamu merasa aneh 'ya?" tebak Angga.
"Ya. Aneh. Sangat aneh."
"Berbeda itu lebih baik. Kalau panggilan sayang kita adalah salah satu panggilan sayang umum, maka mungkin salah satu akan berburuk sangka. Misalnya yah gini. Kamu memanggilku 'dear'. Terus ada orang yang sering manggil pasangannya 'dear' juga. Nanti mereka akan melabrakmu bahkan menyebutmu 'pelakor'. Kamu mau dicap sebagai wanita setan?"
Seketika Debora menggeleng. "Tidak. Itu menakutkan!"
Angga tersenyum tipis. Menarik juga melihat wajah imut Debora yang polos. "Aku akan membawamu jalan-jalan hari ini."
Namun Debora menggeleng. "Aku sudah lelah."
"Lelah?" beo Angga bingung. "Kamu tidak banyak gerak hari ini. Kenapa bisa lelah?" Angga tidak habis pikir.
"Tidak tau kepalaku hanya pusing. Kita pulang ke rumah ku saja ya."
Angga mengangguk. Tapi ia malah membawa Debora ke hotel miliknya.
"K-kamu kenapa malah membawa ku ke sini?" tanya Debora mendadak panik. Ketika melihat gedung itu, Debora ketakutan. "Kamu mau memperkosaku lagi 'ya?" duga Debora was-was.
__ADS_1
***
Jangan lupa selalu tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉