
Karena desakan Angga yang ingin Debora membeli banyak barang, dua jam kemudian tepat pukul sebelas, Debora dan Angga keluar dengan tiga keranjang belanja. Keranjang yang masing-masing berisi enam plastik besar itu dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Setelah ini kita mau kemana?"
"Terserah," jawab Debora singkat. Dia sudah terlanjur kesal karena seumur-umur dia tidak pernah 'memborong' satu swalayan. Apalagi tatapan penuh tanya para pengunjung lain membuat Debora risih. Debora memang sangat berterimakasih pada Angga, tapi tidak begini juga!
"Terserah?" Angga berbicara tanpa menoleh ke arah wanita itu.
Debora hanya diam.
"Kalau begitu … kita akan pergi ke sana."
Kening Debora mengerut. "Ke sana mana?" akhirnya Debora berbicara.
Angga tampak berhenti sebentar yang semakin membuat kepala Debora dipenuhi pertanyaan, 'Sebenarnya dia mau membawaku ke mana sih?'
Debora melihat Angga memberi pesan tertulis di ponselnya. Debora ingin melihat yang telah dilakukan Angga. Tapi pria itu sudah terlanjur mematikan ponselnya dan kembali melanjukan mobilnya.
"Kamu hubungi siapa?" tanya Debora penasaran.
__ADS_1
"Em, hanya orang penting yang akan datang nantinya."
Jawaban Angga membuat Debora bingung sebingung-bingungnya. "Siapa orang penting nya. Kenapa daritadi kamu terus menyembunyikan sesuatu dari aku sih!" emosi Debora sudah mulai tidak terkendali.
"Jadi kamu mau aku kasih tau kita mau kemana?" tanya Angga
Debora bersandar dan menatap ke depan. Dia bersedekap di dada, "Kita baru saling mengenal dan, aku tidak tau apa dibalik kebaikan mu, kamu ingin melakukan hal buruk terhadapku. Membuangku ke dasar jurang, mungkin?"
"Tidak. Untuk apa aku melakukannya?" tanya Angga tidak terima.
"Entahlah. Aku juga tidak tau," jawab Debora dingin. Dia sengaja melakukannya karena memastikan apakah Angga mau jujur padanya.
"Apa?!" Sontak, semua kekesalan itu hilang berganti keterkejutan.
"Kita akan menikah karena aku ingin mempererat hubungan kita ke jenjang yang lebih serius lagi."
Jantung Debora berdetak semakin cepat. Dia tidak tau hal ini akan terjadi, dan jujur ini mengejutkannya.
"Kamu mau kan?" Angga memegang sebelah tangan Debora sementara Angga sedang menyetir.
__ADS_1
"Em itu …" Tentu aja aku mau! Tapi empat kalimat itu sangat sulit diucapkan Debora.
"Memang hubungan kita baru berusia hitungan hari. Tapi janin itu, apa kamu tidak kasihan dengannya? Dia perlu keluarga. Masalah cinta, aku janji akan memberi banyak perhatian untukmu. Aku tidak ingin kamu kesepian seperti yang kamu alami di hampir seluruh hidupmu."
Debora melihat cara bicara Angga yang sangat lembut. Pandangan yang sekali-kali menatapnya, tampak tulus.
"Kamu mau 'kan?" Angga bertanya untuk kedua kalinya.
Debora tetap diam. Entah mengapa sulit sekali mengatakan iya.
"Kalau kamu tetap kekeh tidak mau menjawab, aku harap pikiran kamu itu terbuka. Jangan egois, Debora. Kalau kamu tidak menikah denganku, bayi di dalam perut kamu akan semakin besar. Kita tau adat negara ini seperti apa. Wanita hamil di luar nikah sama saja seperti pelacur, tidak bermartabat. Mereka tidak peduli mengapa kamu bisa hamil di luar nikah. Mereka hanya peduli pada hasil, bukan prosesnya. Jadi katakan iya dan aku akan menikahimu secara hukum, dan agama. Membuat hubungan kita tidak tergoyahkan lagi."
Angga terus melirik Debora berharap kata-katanya dapat diterima dengan baik dalam pikiran Debora.
"Aku mau."
****
Jangan lupa selalu tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉
__ADS_1