Dihamili Pria Asing

Dihamili Pria Asing
Episode 37


__ADS_3

Angga hampir saja tertawa saat Debora mengakan kalau ia akan memperkosanya. Tapi dia paham kenapa Debora berlaku seperti itu. Debora pasti masih teringat kejadian malam itu.


"Ayolah untuk apa aku melakukannya? Kita adalah suami istri sekarang, aku tidak akan menyakitimu. Itu 'kan janjiku sebelum kita melakukan acara pernikahan?" jelas Angga berusaha menyakinkan Debora.


Debora terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia kembali berbicara lagi, katanya, "Jadi, kalau kamu tidak sadar? Kamu mau melakukan 'itu' padaku?"


Sepertinya aku salah bicara, pikir Angga.


"Apa kamu sedang bercanda? Kita suami istri, itu hakku menyentuhmu."


"Berarti sama saja?" tanya Debora dengan suara kecil.


Kening Angga mengerut. 'Sebenarnya apa yang sedang dibicarakannya?'


"Tidak, itu adalah konsep yang berbeda," jelas Angga.


Debora tertunduk. Dia tampak mulai menyimpan ketakutan.


"Ya sudah kalau begitu, kita tidak akan pergi ke hotel itu kalau kamu takut."


Debora melihat Angga karena kata-katanya.


"Berarti kita akan pergi ke rumahku?"


"Tidak, itu bukan rumahmu lagi," jawab Angga singkat.

__ADS_1


"Kenapa?" Debora melihat Angga dengan terkejut.


"Mulai hari ini kita akan tinggal satu rumah. Apalagi kamu sedang hamil anakku, aku akan menjagamu dengan baik jika kamu ada di sampingku," jelas Angga.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri!" tekan Debora kesal.


'Lalu apa artinya pernikahan kalau tidak tinggal serumah.' Angga menggaruk kepala. 'Susah juga menghadapi wanita hamil,' gumam Angga kesal.


Angga memasukkan Debora ke dalam mobil dan kembali membawa mobil itu. Dia tidak peduli perihal pemberontakan yang dilakukan Debora karena Debo tidak setuju keputusan Angga.


"Aku mau menikah karena anak ini, bukan karena hal lain!" teriak Debora kesal.


‘Sabar Angga. Jangan marah, perempuan hamil itu memang sulit diperkirakan,' pikir Angga.


"Pulangkan aku ke rumahku."


"Di-dijual?"


‘Ya ampun. Aku salah bicara! Ya ampun, bodohnya aku!' Angga merutuki kebodohannya.


"Iya. Dijual," akhirnya Angga berbicara.


"Kenapa dijual?" mendadak Debora menangis. Dia memang tidak langsung merengek-rengek sehingga Angga dapat mengenalinya dengan jelas.


Kediaman Debora yang membuat Angga curiga. Sebentar, Angga berhenti dan menyentuh kepala Debora. Perlahan dia mendengar suara tangisan Debora yang mulai menaikkan volume.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis?" tanya Angga panik.


"Kamu egois!" teriak Debora marah.


Angga mengerutkan kening. Dia tidak paham di mana letak keegoisannya. Angga mengambil botol minumnya dan memberikan air itu pada Debora.


"Maafkan aku kalau aku egois menurutmu. Minumlah dulu, jangan ngambek seperti ini. Nanti anak kita sedih," jelas Angga.


"Biarin! Biarin aja anak kita sedih! Toh Papanya juga tidak bisa diandalkan, membuat Mamanya sedih!"


Angga menarik sebelah alisnya. Dia yang tidak kunjung mengerti di mana letak kesalahannya pun lagi-lagi berusaha mengontrol emosi.


"Apa maksudmu letak keegoisanku sewaktu aku mengatakan untuk menjual rumahmu dan memintamu tinggal bersamaku?' tanya Angga yang segera diangguki Debora.


"Gini ya, Angsa putihku … Kita 'kan sudah menikah. Syarat setelah pernikahan itu umunya adalah sepasang suami istri harus tinggal seatap. Apa kamu pernah melihat ada pasangan yang tinggal di dua rumah yang berbeda?" uji Angga.


"Ada."


"Siapa?"


"Orangtuaku. Mereka pisah dan tidak pernah serumah lagi sampai sekarang."


'Dasar bodoh!' maki Angga pada dirinya sendiri. Kata-katanya tidak terkontrol sampai tanpa sadar malah mengajak Debora mengingat kejadian di masa lampau.


......****......

__ADS_1


Like dan komentar jika novel ini cocok dengan selera kalian😉


__ADS_2