
Angga memutuskan pergi dari restoran karena menemukan tidak ada Debora di sana.
Sekarang, hanya Debora tujuannya; bukan orang lain. Bahkan perut yang sedang lapar tidak menjadi halangan.
Di dalam mobilnya, Angga terus mencari kemana Debora dengan menjelajahi daerah sekitar, "Kemana kamu, Debora. Baru saja kita jumpa, sekarang malah berpisah. Jahat sekali kamu padaku."
Angga hampir menangis. Jelas hal ini tidak pernah dilakukannya setelah dewasa.
Namun ia menangis untuk Debora. Hatinya sakit membayangkan betapa menderitanya Debora setelah semua hal yang telah terjadi.
Apa gadis itu tidak ada di restoran karena bertemu dengannya? Angga pikir, Debora akan melakukan sesuatu pada janin dalam kandungannya di suatu tempat …
"Tidak-tidak! Aku tidak boleh terjadi!"
Perasaan Angga sedang kacau saat ini. Ia panik, semua pemikiran buruk masuk tanpa jeda seperti antrian sembako.
Ciittttt…
Mendadak Angga mengerem mobil saat melihat seseorang menyebrang. Hampir saja orang itu tertabrak.
__ADS_1
Sontak Angga keluar dari mobil dan bertambah panik. Ada seorang perempuan berambut panjang sebahu duduk dengan memegang perutnya. Kepala perempuan itu tertunduk membuat Angga tidak mampu mengenalinya.
"Hei. Apa kamu tidak apa? Mana yang sakit, biar kubawa kamu ke rumah sakit," ucap Angga dengan suara lembutnya.
Perempuan hanya menggeleng. Tubuhnya bergetar, ternyata dia adalah Debora.
Sentuhan pada tangan yang dibuat Angga membuatnya teringat akan malam itu. Malam yang membuatnya dalam keadaan hamil seperti ini.
"Aku tidak akan mencelakaimu, ayo kita ke rumah sakit, jangan seperti ini," ucap Angga lagi dengan suara lembut yang pastinya akan melelehkan hati. Angga sedikit menunduk, dan menemukan Debora di hadapannya.
Angga tidak mampu menahan rasa takut akan kehilangan Deboranya. Angga langsung menggendong Debora dan membawanya ke mobil. Tidak perduli dengan kenyataan, kalau Debora sedang berusaha melepas gendongan itu.
'Benar kata nenek, kalau jodoh pasti akan terus bertemu sesukar apapun kondisinya,' pikir Angga yang mendadak teringat akan kata-kata yang dilontarkan neneknya sewaktu beliau masih hidup.
"Aku mau mengambil kotak bekalku." akhirnya Debora bicara. Sontak mata Angga membulat lebar karena memikirkan betapa lezatnya makan buatan Debora.
Angga keluar dari mobil yang sudah dikuncinya, dan melihat kotak bekal Debora masih utuh di depan mobilnya.
"Ini kotak bekalmu Deb … eh, di mana dia?" Angga mengerutkan kening karena tidak melihat adanya Debora di sana.
__ADS_1
Setelah melihat sekitar, ia melihat Debora tampak bersembunyi di balik pohon. Angga tersenyum lucu melihat tingkah Debora.
''Ternyata dia mau mengajakku bermain petak umpet," monolog Angga segera berjalan dengan membawa kotak bekal Debora.
"Orangnya tidak ada di sini 'ya. Berarti aku mau makan 'ah. Keburu orang yang punya makanan masih hilang entah kemana," Angga berbicara sambil duduk di kursi mobilnya yang pintunya terbuka.
Tubuhnya menghadap keluar dan Angga mulai membuka rantang yang berisi nasi dan lauk pauk. Meski ikannya hanya telur puyuh, dan sambal, Angga sangat menyukainya.
"Heeemmm, enak." Angga menyantap nasi itu dengan lahap.
Perut Debora yang sangat lapar pun tidak dapat menahannya lagi.
"Hentikan!" teriak Debora sambil berjalan ke arah mobil Angga. "Jangan memakannya." Suara Debora sangat kecil saat jarak mereka tidak jauh lagi.
Angga berhenti makan dan melirik sejenak. "Bukannya kamu tidak menginginkannya lagi?" tanya Angga dengan jahilnya.
...*****...
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉
__ADS_1