Dihamili Pria Asing

Dihamili Pria Asing
Episode 41


__ADS_3

"Ayo kita jalan-jalan," ucap Angga seusai Debora keluar dari kamar mandi.


Hal ini membuat kening Debora mengerut, "Jalan-jalan?" beonya.


"Iya, jalan-jalan."


"Tapi aku lelah. Aku mau tidur."


"Ayolah, aku mau menikmati hari bersamamu. Aku akan membawamu ke tempat yang sangat cantik asalkan kamu ikut, bagaimana? Mau 'kan?"


"Tapi…"


Mati-matian Angga membujuk Debora untuk ikut dengannya hingga akhirnya dengan beberapa pertimbangan, Debora sepakat untuk keluar.


Keadaan luar villa yang dipenuhi dengan beberapa pohon besar melingkupinya membuat suasana sangat dingin, sekarang Angga dan Debora berjalan berdua. Seperti kata Angga sebelumnya, "Kita jalan, biar bisa menikmati suasana."


Padahal kenyataannya, tubuh Debora menggigil. Keadaan canggung menyebabkan Angga melihat Debora.


"Kamu …" Angga terkejut karena bibir Debora sudah membiru, bahkan sesekali memperdengarkan getaran bibir. Angga benar-benar merasa bersalah karena tidak peka dengan langkah Debora yang sudah melambat.


Angga menyentuh tangan Debora, "Kamu kedinginan ya?" tanyanya panik. Debora mengangguk.


"Yay-ya sudah, kamu pakai ini." Angga mengeluarkan sesuatu dalam sakunya. Sebuah kunci dengan hiasan berbentuk jaket.

__ADS_1


"In-ini … mawu bwat apha?" tanya Debora dengan suara bergetar kedinginan.


"Mau kamu pakai."


Jawaban aneh itu membuat Debora tidak menunjukkan kemarahannya, dia terlalu kedinginan dan sedikit saja kemarahan membuatnya kehilangan tenaga begitu banyak.


Ternyata Angga memencet hiasan berbentuk jaket itu. Dan seketika jaket besar dan hangat muncul di tangan Angga.


"Ini jaket cadanganku," jelas Angga sambil memakaikan jaket di tubuh Debora.


Baru saja Angga tersenyum melihat Debora yang cantik, Angga terkejut karena Debora pingsan menyandar ke tubuhnya.


"Deb? Debora? Kamu tidak apa?" tanya Angga cemas. Tapi Debora tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran.


"Bi Sun, tolong panggilkan dokter. Nyonya pingsan karena kedinginan."


Seusai menginfokan kepada pelayan, Angga memeluk Debora dengan cemas.


"Maafkan aku, maafkan aku …"


Bukan hanya Debora, tapi bayi dalam kandungan istrinya itu menjadi fokus utamanya.


"Aku harap kamu baik-baik saja di dalam sana. Aku minta maaf."

__ADS_1


Sumpah demi apapun, Angga tidak akan memaafkan dirinya jika calon anak mereka kenapa-kenapa.


Lelaki itu juga menyesal karena tidak menanyakan alasan Debora menolak keluar.


Mungkin saja jika Angga memilih istirahat di kamar bersama Debora setelah perjalanan jauh, semua hal buruk ini tidak akan terjadi.


Dalam setengah jam memeluk Debora, Angga juga tertidur di depan perapian. Hawa hangat dari api serta tubuh Debora yang sangat empuk melebihi nyamannya guling lelaki itu tentu saja menggoda lelaki itu untuk tidur.


Bi Sun, Pelayan paruh baya yang sudah lama bekerja di Villa ini, melihat pasangan di depan perapian itu dengan tatapan haru.


"Mereka serasi ya," gumam Bi Sun.


Bi Sun sangat tahu kalau Angga majikannya adalah lelaki pekerja keras yang menanggap pekerjaannya adalah segalanya. Dan lelaki itu sudah bertunangan. Namun satu hal yang tidak diketahui bi Sun adalah, Angga menikahi wanita lain.


Tak lama, terdengar bel yang menandakan seseorang datang.


"Sebentar." Bi Sun membuka pintu dan melihat dokter yang sempat dihubunginya setengah jam yang lalu.


"Dokter Rahman 'kan?" tanya Bi Sun memastikan.


"Bukan Bu. Dokter Rahman atasan saya. Saya hanya perawat. Dokter Rahmannya ada urusan, jadi saya yang menggantikan."


"Oke, silahkan masuk."

__ADS_1


__ADS_2