
"Debora! Ke mana saja kamu? Apa kamu pikir restoran ini restoran abal-abal, makanya kamu bisa keluar dan datang sesuka hatimu!?"
Debora menunduk ketakutan mendengar suara manajer killernya itu.
Selama ini, mendapat amarah dari atasannya karena keluar melebihi dari waktu yang sudah ditentukan saat mengajukan izin, adalah masalah terbesarnya.
Sekarang Debora berharap Angga dapat menempati janjinya untuk mempertanggungjawabkan Debora. Apalagi kemana dia pergi, adalah keinginan Angga, bukan keinginan Debora.
"Jawab! Kemana kamu pergi? Kenapa lama sekali hah!"
"Sas–saya …" suara Debora gemetar. Dia tidak tau mau menjawab apa. Ia ingin jujur, tapi ketika takut, mulutnya sulit bicara.
Mendadak Debora didatangi manejernya dan mulai menyentuh bahu wanita itu.
"Kelakuan burukmu itu sangat tidak menguntungkan bagi restoran ini. Tapi kita bisa melakukan kesepakatan, kamu bisa layani saya nanti malam jam sebelas dan kesalahan kamu akan saya ampuni. Masalah ini tidak akan sampai kemana-mana," ucap manejer dengan suara yang sudah berbeda.
Tubuh Debora gemetaran. Dia tidak tau cara mempertahankan diri, sehingga dia memilih mundur sampai ke tembok.
"Kamu selalu mundur ketika saya mau melakukan sesuatu untukmu. Apa kamu ingin kita melakukannya di tembok, hem?" pria paruhbaya itu mengendus leher Debora dengan penuh n*fsu.
__ADS_1
Ini alasan kedua Debora tidak ingin berlama-lama di luar restoran karena akan mendapat hukuman menjijikan ini dari manajernya. Ia pernah hampir diperkos@. Tapi selalu lolos.
"Kali ini kamu tidak akan lolos, karena pintu sudah ku tutup dan kita hanya berdua di sini, sayang."
Tubuhnya diapit. Debora tidak dibiarkan bergerak. "Tolonglah datang Angga … aku membutuhkanmu" hati kecil Debora berteriak. Ia berharap ditolong Angga.
Tadi dia sudah melakukan kesalahan. Saat Angga menyusulnya, Debora malah mendorong lelaki itu dan memakinya, "Aku sudah terlambat! Pergilah dari sini!" Dan Angga menurutinya. Jujur, Debora lupa tentang manejernya yang bersikap seperti binatang, penuh n@fsu padanya.
Debora tidak tau apa Angga membiarkannya di restoran ini atau tidak. Tapi ia terus berharap kalau Angga akan menjadi dewa penyelamatnya dari manejer b@jingan ini.
Brak!
Mendadak pintu terdobrak. Pandangan Debora teralih. Debora sangat senang karena itu Angga!
"Siapa Anda?!" tanya manejer Layon mendekati Angga dengan marah.
Dia ingat ruangannya ini cukup jauh dari ruang restoran. Jadi tidak mungkin ada pelanggan yang tiba-tiba kesasar di sini.
Tampak mata Angga dipenuhi kemarahan. Tangannya mengepal. Tanpa basa-basi, pria itu mengunci pergerakan manejer.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan? Lepaskan saya!" tubuh Manejer yang hanya sedikit lebih tinggi dari Debora dan seleher Angga, membuat Manejer dengan mudahnya didekap.
"Apa kamu sering dijahati seperti ini?" tanya Angga mengintrogasi Debora.
Debora yang ketakutan pun mengangguk, "Did-dia sering melakukannya, tapi selalu gagal," cicit Debora dengan suara lemah.
Kemarahan Angga semakin menjadi. Dia tidak percaya wanitanya diperlakukan seburuk ini oleh atasannya.
"Pukul dia dengan tanganmu atau alat apapun! Ingat semua yang sudah dilakukannya padamu, jangan lemah!" instruksi Angga pada Debora.
Namun Debora malah menggeleng. Dia menyimpan ketakutan yang mendalam pada manejernya itu.
"Siapa anda! Perbuatan anda ini tidak akan segan-segan saya bawa ke polisi!" ancam Manejer.
Angga menarik sudut bibirnya dan berdecih. "Oh, membawa saya ke polisi?" tanya Angga meremehkan. "Baiklah, jabatan kamu saya copot ya?"
Kening manejer mengerut. "Siapa kamu?!"
"Dia pemegang saham terbesar di restoran kita, Layon," ucap Deon, direktur di restoran pusat ini.
__ADS_1
***
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉