
Setelah istirahat beberapa jam di rumah sakit, Debora membayar semua fasilitas yang diterimanya di rumah sakit ini.
Sekarang tanggal tua. Untungnya Debora masih punya simpanan di bank.
Dan benar saja seperti yang dituduhkan Satya padanya, sisa uang hasil kehilangan keperawanannya ditransfer tepat ke rekening Debora oleh Ben meski Debora tidak memberikan nomor kartu ATM-nya pada pria itu.
"Anggap saja uang ini pemberian Ayah kamu untuk kehidupan kamu selama di dalam kandungan, sayang," bisik Debora lagi pada janin dalam kandungannya.
Air matanya mengalir tanpa permisi. Ia tahu uang itu hasil zina. Tapi tidak memakainya pun, Debora masih punya banyak kebutuhan.
Debora berharap perutnya akan tetap kecil seperti orang yang tidak hamil hingga usia kandungan 7 bulan.
Karena jika perutnya masih sekecil itu sebelum janinnya berusia 7 bulan, Debora rasa ia sudah siap menyiapkan kehidupan yang layak untuk bayinya ke depan.
Namun bisa digarisbawahi, Debora hanya berharap.
Debora tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh dengan mengikat perutnya atau semacamnya;
Karena ia paham kelakuannya ini dapat menyebabkan tubuh bayinya terlalu mungil dan berpenyakitan.
__ADS_1
Di mesin ATM, setelah mengambil uang untuk membayar rumah sakit, dan Rp.100.000,- untuk kebutuhan hematnya selama seminggu sebelum tanggal gajian, Debora sempat mentransfer sejumlah uang untuk investasi saham bank tempat kartu ATM-nya berada.
Anggap saja seperti menanam benih yang akan bertumbuh; menghasilkan pohon dan buah.
Setelah merasa cukup, Debora mendatangi rumah sakit yang telah memberi izin padanya mengambil uang di bank.
Debora hendak pulang ke rumah. Namun di perjalanan, ia melihat Satya berjalan mesra dengan wanita lain. Debora sakit hati melihatnya.
"Ternyata semudah itu dia melupakanku. Setelah semua hal yang telah kuberikan padanya." Debora merasa sesak melihat kemesraan Satya dan wanita barunya.
Namun Debora tidak berniat mendatanginya; karena ia tahu itu akan membuat masalah.
Debora merasa badannya lengket dan lelah, setelah mandi air hangat dan berganti pakaian, Debora tidur.
Lagi pula sekarang sudah malam, besok pagi ia perlu bekerja untuk mengisi harinya yang tidak tahu mau dibawa ke mana.
***
Di sisi lain.
__ADS_1
Angga sudah menyelesaikan pertunangannya dengan Cika sedari sejam yang lalu.
Sekarang mereka sedang duduk bersama di balkon hotel seraya menikmati pemandangan malam yang dipenuhi bintang-bintang.
Jika Cika tampak bahagia akhirnya bisa balikan dan menjadi tunangan seorang Anggara Mike, maka Angga sendiri justru bertanya-tanya.
Hati kecilnya seperti hampa. Angga rasa, bukan Cika wanita di malam itu, tapi orang lain.
"Cika, apa aku boleh bertanya padamu?" tanya Angga memulai pembicaraan.
Cika menoleh, senyum tidak lepas dari wajahnya yang masih memakai makeup pertunangan. "Boleh saja. Memangnya apa yang mau kau tanyakan?" Mood yang sangat baik, membuat Cika mudah diajak komunikasi.
"Sudah dua bulan berlalu sejak malam itu. Maaf, bukan bermaksud menyinggungmu, tapi apa tidak ada tanda-tanda kehamilan? Karena aku ingat, aku mengeluarkannya di dalam."
Cika diam seribu bahasa, dia bingung harus jawab apa, tapi kemudian dia kembali marah, "Apa tujuanmu bertunangan denganku hanya demi anak?!" tanya Cika yang tidak bisa mengontrol emosi.
***
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉
__ADS_1