
Ben pergi ke kamar hotel Angga untuk mencari tau apa yang sudah terjadi pada Angga sehingga pria itu tega meninggalkan adik cerewetnya setelah pertunangan semalam.
Ben memiliki akses yang belum diganti Angga untuk membuka kamar hotel Angga. Ben melihat suasana sekitar yang tampak sangat rapi. Angga sendiri yang merapikan kamar hotelnya karena pria itu sangat menyukai kebersihan serta keindahan.
"Di mana bukti yang didapat Angga sampai dia seolah tau apa yang terjadi sebenarnya." Ben terus mencari kesegala tempat. Perlu setengah jam tapi dia tidak menemukan apapun hingga detik ini.
Ben duduk karena lelah, dan matanya tak sengaja melihat brankas Angga yang terletak di bawah meja.
"Mungkin aja dia taruh bukti itu di sini," gumam Ben curiga.
Dia menyeret brangkas itu agak keluar dari area meja. Ben mulai membuka brankas dengan menebak kata sandinya. "Mungkin, tanggal 21 Agustus," pikir Ben yang mulai lupa kata sandi berangkas yang pernah Angga ceritakan padanya.
"Salah? Yang benar aja!" gumam Ben kesal. "Itu 'kan tanggal ulangtahunnya."
Ben menghela nafas. "Satu kali percobaan atau berangkas ini akan menimbulkan suara ambulance yang sangat keras." Ben tidak mau brangkas ini mengeluarkan bunyi meresahkan itu, sehingga dia berhenti mengotak-atik nya dan meneguk segelas air putih yang terletak di atas meja.
__ADS_1
Ben terus berpikir, "Sebenarnya kata sandinya, apa sih?"
Ben tidak sengaja melihat ada tulisan tangan Angga tertera di sana. "2 November?" Ben mulai berpikir tentang kejadian dua bulan lalu. "Apa mungkin kata sandi brangkas nya tanggal 2 November?' pikir Ben.
Dengan hati-hati, Ben memencet satu persatu tombol tanggal 2 November tahun ini. Dan yang benar saja, ia berhasil.
"Berhasil?" Ben tidak percaya dengan pikirannya. "Dia menaruh waktu kejadian itu sebagai kata sandinya?" Ben tidak tau harus memilih ketawa atau malah menangis untuk hal ini.
Setelah berhasil membukanya, pria itu melihat isi brankas yang berisi beberapa foto, uang, emas dan dokumen.
"Bahasa apa ini?" Ben menemukan satu berkas yang memiliki bahasa aneh yang membingungkan untuknya.
"Apa ini semacam mantra?" monolog Ben berasumsi.
Dia membalik satu halaman, dan menemukan foto seorang wanita di sana. Debora Anastasia!
__ADS_1
"Jangan-jangan berkas ini berisi semua hal yang sudah terjadi menyangkut gadis perawan itu!" Ben sudah menduganya sejak melihat foto Debora di sana.
Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, "Kenapa bahasanya seaneh ini?" Ben rasa, sampai ahli bahasa sekalipun tidak akan mampu menterjemahkan bahasa yang hanya berisi tam-tim-mun-nem-nom itu.
Saat mendengar derap langkah seseorang dari jauh, buru-buru Ben mengembalikan semuanya ke awal. Tapi Ben tidak memasukkan berkas tentang Debora ke brangkas. Ben menyimpannya bagus-bagus berusaha tidak meninggalkan jejak.
Pria itu berjalan keluar dari kamar hotel Angga dengan berusaha tidak memperlihatkan aura-aura pencuri yang mungkin bisa membuatnya dicurigai orang lain.
Ben mengeluarkan ponsel dan menghubungi Cika. "Kakak sudah ketemu berkas tentang Debora di kamar hotelnya Angga, itu tandanya Angga udah benar-benar tau apa yang terjadi malam itu, dek," ucap Ben memberi informasi.
Segera terdengar rengekan dari Cika. "Gimana ini kakaaaaakkk. Cika mau bersanding dengan Angga. Tapi kenapa semuanya jadi serumit ini 'sih!"
...*****...
Tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉
__ADS_1