
Mood yang baik menciptakan pekerjaan yang baik juga. Anggara Mike, sebagai CEO di Mike Company–perusahaan yang bergerak di bidang industri pakaian terbaik di negara X.
Sekarang, jam tujuh setengah malam. Seusai pulang dari rumah wanitanya, Angga langsung mengadakan meeting yang sempat tertunda selama Angga menyempatkan waktu bersama Debora.
Angga melakukan meeting secara zoom. Ada banyak staff bawahannya yang hadir. Keadaan ramai, tapi hanya Angga yang berbicara untuk saat ini. Wajah yang berbeda, sangat hangat dan ceria. Staff yang tidak pernah melihat wajah CEO perusahaan mereka memiliki mood sebaik ini tentu tidak menyia-nyiakannya.
Hampir dua jam mereka melakukan Meeting. Ada banyak perencanaan baru yang harus diperbincangkan, dan baru selesai setengahnya.
Mereka akan melakukan meeting pukul sembilan pagi seperti keinginan Angga, tentu dengan jalur meeting karena Angga ingin sering-sering bersama Debora.
Angga meletakkan laptopnya di dalam nakas dan berpose tidur seraya menatap langit-langit kamar.
Angga tersenyum. Bayangan tentang kejadian yang telah terjadi selama satu hari ini begitu tidak terduga.
"Aku kira, hubungan kami sudah ada kemajuan," monolog Angga senang.
"Aku akan terus-menerus menemani Debora, meski belum berani mengungkap akan menikahinya. Aku paham Debora perlu waktu seraya mengobati traumanya terhadapku."
__ADS_1
Angga paham jika Ia dan Debora menikah, pasti ada adegan malam pertama eh, maksudnya malam kedua. Debora pasti belum siap, jadi perlahan seraya mengulur waktu, Angga akan membuat Debora mencintainya.
Angga kembali mengambil berkas yang terakhir kali diletakkan di dalam brankas. "Hilang?"
Kening Angga mengerut. Dia tentu saja bingung, "Kemana berkasnya. Bukankah terakhir kali aku menaruhnya di sini? Tidak mungkin dia melarikan diri."
Tangan Angga berhenti menjelajah. Dia ingat. "Ah, aku lupa. Berkasnya sudah diambil Ben."
Angga menggeleng tersenyum.
"Apa aku sudah tua makanya pelupa?" Angga menertawakan dirinya sendiri.
"Padahal aku belum menikah dan anakku masih diproses," lanjutnya.
Kemudian Angga kembali tidur-tiduran di ranjang king size yang tersedia di kamar hotelnya itu.
Dia memegang ponselnya dan mulai memproses Ben yang akan dimutasikan ke sebuah negara yang mayoritasnya adalah orang berkulit hitam nan miskin.
__ADS_1
"Kurasa ini adalah ganjaran yang setimpal untukmu yang egois dan mementingkan kepentingan mu sendiri," gumam Angga dengan serangai liciknya.
Angga sengaja belum membalas kejahatan yang Cika lakukan karena dia paham betapa wanita jahat itu sudah mencuci otak kedua orangtuanya.
Meski Angga sudah dewasa, ia masih hidup dalam pengaruh kedua orangtuanya yang merasa 'segala keputusan' mereka adalah yang terbaik untuk putra satu-satu mereka.
Angga memang kesal, dan jujur saja, ia mulai bosan. Jika bisa memilih, dia lebih baik tidak memiliki kedua orangtua daripada harus mendapat tekanan 'menjadi orang yang paling terbaik'.
Tapi, selagi Tuhan masih membiarkan kedua orangtuanya hidup, Angga harus buat apa selain menurut? Ia adalah anak dan selamanya akan begitu.
"Malam ini, Debora sedang apa 'ya?" Angga mulai berimajinasi tentang keadaan Debora. Ia menebak-nebak, "Pasti Debora sama seperti ku, sedang memikirkan ku. Ah, kalau begitu berarti kami sama-sama memikirkan satu sama lain."
Angga bahagia dan terus tersenyum. Jika ada orang yang melihat keberadaannya saat ini, mereka pasti akan mengatakan kalau Angga sudah gila.
****
Jangan lupa selalu tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉
__ADS_1