
Ben di rumahnya mulai merasa aneh karena Angga tidak pernah lagi menghubunginya.
Hal ini membuatnya mulai bertanya-tanya. "Apa Angga lagi kesel makanya dia tidak menghubungi aku lagi? atau mungkin dia terlalu sibuk bersama wanitanya itu?"
Teringat sebelum ini Cika juga melampiaskan kekesalannya pada Ben karena Angga tidak pernah melakukan kontak hubungan lagi dengannya seperti menelepon atau sekedar menanyakan kabar.
Saat mencoba melihat letak keberadaan Angga dari koneksi GPS yang disematkan Ben di perangkat Angga, Ben melihat email dari ’perusahaan’.
"Apa ini?" Tanpa menunggu lama Ben meng-kliknya.
Di sana, terdapat banyak hal yang dilakukan Ben hingga membuatnya dipindahkan ke negara orang negro untuk menjadi pemimpin perusahan cabang di negara itu.
Ben mengerutkan kening. "Siapa yang melakukan ini?"
Ben akui dia pernah tidak bekerja, tapi itu hanya terjadi sekali. Tapi kenapa dia langsung dipindahkan dengan alasan, 'melatih diri supaya disiplin?'
Kemudian Ben menghubungi Cika.
"Iya, kenapa kak?" tanya Cika penasaran dari suatu tempat.
__ADS_1
"Aku dipindahin," jawab Ben dengan suara lemah.
"Kemana?"
"Ya keee tempat orang negro. Daerah Afrika sana katanya, Cik."
Cika di tempatnya, membelalakkan mata, dia terkejut, "Kakak ga bercanda 'kan?!"
Ben menggeleng, "Enggak. Untuk apa kakak bercanda tentang pemindahan gini?"
Seketika otak Cika buntu, keterkejutan, dan ketidak percayaan mencampur menjadi satu. Akhirnya Cika memencet tombol video call untuk memastikan kebenarannya.
Sekarang Ben dan Cika video call-an. Cika memandang kakaknya intens. Wajah Ben yang lemas, membuatnya sedikit percaya akan penjelasan sang kakak.
"Entahlah," jawab Ben pasrah.
"Lah, kok entah?"
"Sebenarnya kakak yang mau. Tapi kata mereka kakak harus melakukannya. Tidak peduli kakak tidak menyukainya. Karena konsekuensi yang kakak terima bisa berupa pemecatan."
__ADS_1
"Lah, kalau pemecatan, berarti kakak udah ngelakuin kesalahan besar dong?"
"Kakak rasa kakak enggak lakuin kesalahan apapun," jawab Ben.
"Lah? Kok bisa gitu. Aneh banget," komentar Cika.
"Iya, kakak juga ngerasa ini ga adil."
"Terus apa kesalahan kakak menurut mereka sampe kakak dipindahin?"
"Dari penjelasan yang ku baca, mereka nilai kakak terlalu leha-leha dalam bekerja," jelas Ben.
Cika mengerutkan kening dan merasa aneh. "Kerja kakak 'kan selama ini bagus-bagus aja. Terus kenapa mereka pikirnya gitu 'ya?"
"Entah. Tapi memang sih Cika, akhir-akhir ini aku ga kerja gitu. Tapi itupun karna ga dipanggil si Angga-nya aku untuk ke kerja. Dia selalu menjauh dari kita sejak wanita sialan itu datang ke kehidupannya," ucap Angga memberi argumen.
"Kakak sih, pake sewa perempuan perawan tanpa cari tau dulu dia siapa. Jadinya kita bingung kek sekarang gini kak. Sekarang dia rebut Angga dariku, dan buat kakak harus pindah negara," gerutu Cika sebal.
Sekarang, semuanya terasa sulit bagi Cika maupun Ben. Kedua orang ini adalah orang miskin yang mampu memanipulasi keadaan. Mendekati orang kaya, bahkan berkeinginan menjadi sama seperti orang kaya itu. Namun, satu langkah salah dapat menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dan menghancurkan keduanya berkeping-keping.
__ADS_1
"Jadi menurutmu, yang salah adalah si sialan Debora itu?" tanya Ben dengan penekanan kata 'sialan'.
"Hem ya. Dia udah ngehancurin semuanya kak," ucap Cika dengan mata berapi-api. "Dan Aku kira, kita harus buat pelajaran sama dia. Enak aja dia jadi pengganti semua kekayaan yang udah kita perjuangin selama ini!"