
Angga tidak menerima jawaban Debora karena ketika melihat ke samping, Debora sudah mengantuk berat.
"Ya sudah, kamu tidurlah lagi. Aku akan menunggumu."
Angga berdiri dan memposisikan tubuh Debora di atas ranjang serta menyelimutinya.
"Tidur yang nyenyak." Lelaki itu mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Debora. Perasaan canggung mendominasi. Lelaki itu segera pergi dari kamar, membiarkan pintu terbuka karena ingin menolong wanita hamil itu kalau-kalau Debora bergerak lasak dan malah jatuh dari ranjang.
Perasaan Angga benar-benar kembali ke masa anak ABG di usianya yang sudah seharusnya menikah dan memiliki banyak anak dengan istrinya.
Jika Angga canggung, Debora sangat malu dan hatinya berbunga-bunga. Perhatian Angga selalu membuat suasana di hati wanita hamil itu berbeda.
Debora menutup wajahnya yang mungkin sudah memerah karena malu. "Kyaaa … aku tidak percaya akan begini!" bisik Debora dalam hatinya.
Dia tidak berani mengeluarkan satupun kalimatnya.
Untung saja rasa ngantuk menguasai pikirannya sehingga dia tidur lelap dengan mimpi bersama Angga, berpegangan tangan bersama anak mereka yang di dalam mimpi itu baru jenis kelamin laki-laki.
***
__ADS_1
"Kita mau kemana?" tanya Debora penasaran. Usai Ia bangun, Angga menyuruhnya mandi dan memakai pakaiannya. Mereka makan selama lima menit, dan sekarang Debora di mobil bersama dengan Angga.
"Nanti kamu tau sendiri." Angga tetap fokus pada jalanan di depan.
Debora juga diam karena paham, membawa kendaraan perlu banyak konsentrasi. Jadi dia tidak ingin menganggu.
Debora terus menyentuh permukaan perutnya yang masih rata. Dia sangat menerima keberadaan janin dalam kandungannya karena ada Angga di sampingnya.
Dia sangat senang, bahkan ingin sekali semua waktu tetap sama seperti ini. Dia mendapat perhatian dari seseorang, bahkan segala yang diperlukannya dapat dipenuhi selain kasih sayang.
"Kita sudah sampai." Entah sudah berapa lama lamunan Debora berlangsung. Tapi dia mendengar suara Angga berbicara sambil mematikan mesin mobil.
Tak lama Angga membukakan pintu bagi Debora. "Keluar saja. Nanti kamu tau."
Angga dan Debora berjalan masuk ke gedung swalayan seperti pasangan baru. Angga terus menggandeng tangan Debora dengan erat. Tentu saja perasaan Debora kembali aneh.
Dia pandai sekali membuatku seperti ini. Debora menggerutu. Tapi dia tidak marah.
Angga membawa Debora ke area susu ibu hamil. "Pilihlah susu ibu hamil yang bagus untukmu."
__ADS_1
Debora melihat jejeran susu Ibu hamil dari berbagai macam merek dan kebutuhan kehamilan. Dia sangat canggung. Angga, tentu dapat merasakannya.
"Jangan memikirkan harga. Pilihlah yang terbaik menurutmu. Atau aku akan mengambil semua macamnya dan menyuruhmu mencoba satu-persatu, hm?"
Debora tidak tahu ini merupakan ancaman atau bukan.
Dia akhirnya memilih satu kotak dan berkata, "A-aku pilih yang ini saja."
Angga mengangguk paham. "Ada yang mau kamu beli selain susu ibu hamil?"
Debora menggeleng. Meski nyatanya ia memiliki banyak sekali keinginan.
"Aku baru saja mengambil kartu hitamku dan kamu malah mencoba irit? Beli segala keinginanmu, biarkan aku yang bayar. Kita 'kan calon keluarga. Aku tidak ingin anakku dan Ibunya kekurangan gizi."
Debora tidak tau harus menampilkan senyum atau tidak untuk ucapan Angga.
Apa dia mau menikahiku tak lama lagi? Mendadak pikiran Debora halu ke pernikahan megah nan indah.
****
__ADS_1
Jangan lupa selalu tinggalkan komentar sebagai dukungan📝💖 dan beri Vote mingguan jika novel ini cocok dengan selera kalian😉