
Haura yang mendapatkan kalung dari Marco, bercermin untuk melihat keindahan kalung yang menggantung di lehernya, Haura tidak menyangka Marco ternyata memiliki hati kepadanya, tetapi sayangnya, ia telah terikat oleh Bryan, Haura tidak bisa mengingkari itu semua, meski mereka semua tidak bisa melihat Bryan dan tidak tahu status Haura, saat ini tetap saja Haura harus menghormati Bryan yang kini berstatus sebagai suaminya.
"Bagus juga kalung kamu?!" kata Sefya yang sama-sama berada di dalam toilet.
"Iya aku juga suka!" kata Haura
"Dari siapa kalung itu? sepertinya dari orang yang sangat spesial!?" kata Sefya sok tahu.
"Ini dari kak Marco," kata Haura sambil memasukkan kalung ke dalam kerah bajunya.
"Kak Marco?!" tanya Sefya terkejut.
mereka berdua sama-sama tidak menyangka jika Marco akan memberikan hadiah berupa kalung kepada Haura dan juga mengungkapkan perasaannya.
"Bukannya, Kak Marco sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Sefya.
"Benar! makanya aku tidak mengerti mengapa dia melakukannya! aku tidak mau Kekasih Kak Marco salah faham dengan ku!" ujar Haura.
Haura dan Sefya keluar dari toilet, ketika mereka keluar, seseorang juga keluar dari dalam toilet.
"Haura? Marco? kenapa Marco memberikan kalung kepada wanita itu! dan kenapa dia mengungkapkan perasaannya kepada Haura? apa maksud Marco?" kata seorang wanita dengan postur tubuh seorang model.
*****
"Boleh aku masuk?"
"Hai, sayang, masuklah" Marco mempersilahkan wanita yang menjadi kekasihnya.
"Hai! kenapa mukamu kok ditekuk begitu?" kata Marco sambil memeluk wanitanya.
"Aku mendengar sesuatu tadi saat aku berada di toilet!" kata Sania kekasih Marco.
"Apa yang kamu dengar? sampai membuat gadis pujaanku seperti ini?" Marco mengecup kening Sania.
"Aku dengar, kamu memberikan kalung untuk wanita dan mengungkapkan perasaanmu!" Sania mengerucutkan bibirnya.
Marco yakin, itu adalah Haura, Marco segera berfikir, alasan apa yang tepat untuk diberikan untuk kepada kekasihnya.
"Sayang, itu aku berikan kepadanya sebagai tanda bangga saja kepada dirinya, mungkin dia salah mengartikan sikapku?!" Marco mengeratkan pelukannya.
"Serius?" tanya Sania tak percaya.
"serius, sayang, hanya kamu satu kekasihku dan cinta ini hanya untukmu!" Marco menegaskan perasaannya kepada Sania.
"Janji?" Sania mengeluarkan satu jari kelingkingnya.
"Janji!" Marco mengaitkan jari kelingkingnya.
Marco dan Sania saling berpelukan, tapi entah kenapa Marco merasa hatinya berbeda dari biasanya.
"kenapa aku merasa, hatiku jauh!" batin Marco.
*****
__ADS_1
"kemana Bryan?! kenapa dia tidak juga muncul?" Haura kembali kepikiran Bryan yang belum kunjung muncul di hadapannya.
"Ra! kok bengong sih?" tanya Sefya.
"Enggak kok, Fy!" Haura berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
Bryan tidak biasanya sampai berjam-jam tidak muncul di hadapannya ketika, Haura berada di rumah sakit, kecuali saat di rumah, memang terkadang Bryan suka menghilang tanpa jejak.
"Tuh, kan, bengong lagi! ada apa sih?" tanya Sefya, yang hari ini menemui Haura di rumah sakit.
"Fy! aku pergi dulu, ada yang harus aku pastikan!" kata Haura.
Haura langsung berlari, meninggalkan sahabatnya yang tercengang melihat Haura meninggalkannya secara tiba-tiba.
"Iiiish! kenapa sih dia! enggak seru deh, pulang ajah akh!" kesal Sefya.
*****
Haura berjalan menuju lorong rumah sakit dan menghampiri pintu besar yang didalam ruangan itu ada tubuh Bryan, Haura penasaran, kenapa Bryan tidak juga muncul seharian di rumah sakit.
Haura menggerakkan tangannya dan akan menyentuh handle pintu, tapi dia mendengar suara hentakan sepatu yang berjalan menuju lorong.
"Aku harus bersembunyi!" Haura langsung mencari tempat bersembunyi.
Tap tap tap
suara hentakan sepatu semakin nyaring terdengar di telinganya, suara hentakannya sudah sangat terdengar, itu tandanya seseorang akan tiba di depan ruangan Bryan.
Ceklek
suara anak kunci terdengar diputar dan pintu terbuka lebar, Haura mengintip dan dilihatnya seorang wanita yang pernah dia temui sebelumnya.
Haura keluar dari persembunyiannya dan menemui wanita itu, agar bisa ikut masuk ke dalam ruangan.
"Permisi Bu!" sapa Haura dengan ragu-ragu.
"kamu?!" Lauren terkejut melihat kehadiran Haura.
"benar, Bu, saya Haura, yang menawarkan diri untuk menjadi dokter bedah Bryan!" kata Haura.
"ya! aku tau!" ketus Lauren.
melihat wajah ketus Lauren, sepertinya kesempatan Haura sebagai seorang dokter yang akan menyelamatkan Bryan sangat kecil.
"Boleh aku ikut masuk ke dalam? ada yang ingin aku pastikan!" kata Haura.
"Jangan terlalu lama, aku beri waktu lima menit!" kata Lauren memberi waktu.
Haura dan Lauren masuk ke dalam ruangan Bryan. Haura langsung mencari keberadaan Bryan, tapi sosoknya tidak juga terlihat oleh dirinya, dia juga tidak bisa melihat sosok makhluk halus yang berwujud anak kecil.
"Kemana mereka? kenapa aku tidak bisa melihat mereka semua!" pandangan Haura mengelilingi seluruh ruangan.
"Waktumu sudah habis!" Lauren mengingatkan Haura.
__ADS_1
"Ba- baik, Bu, saya pamit!" Haura menyerah dengan pencariannya.
Haura berjalan menuju pintu keluar.
"Aku akan menantikan operasi terbukamu!" kata Lauren sehingga menghentikan langkah kaki Haura.
mendengar perkataan Lauren, membuat Haura merasa bersemangat dan bertekad menolong Bryan.
"Aku akan berusaha!" kata Haura dan melanjutkan langkahnya.
*****
Lidya yang mendapatkan kabar dari Sefya, kalau Marco memberikan kalung kepada Haura dan juga mengungkapkan perasaannya, membuat Lidya marah, bahkan murka.
"Kak! ternyata peringatanku tidak kau indahkan! aku akan membuat perhitungan denganmu!" geram Lidya didalam kamarnya.
melihat ekspresi kesal Lidya membuat Farida bertanya-tanya ketika dia memasuki kamar anaknya.
"Kamu sedang apa? kenapa wajahmu kesal?" tanya Farida.
"Tidak mam! oh ya mam, aku pergi dulu!" Lidya langsung mencium kedua pipi mamanya dengan bergantian, dan dia langsung meraih tasnya.
"Lidya! Lidya!" teriak Farida memanggil-manggil nama anaknya.
"akan itu! selalu seperti itu!" ujar Farida seraya menggelengkan kepalanya.
sudah sejak lama hubungan ibu dan anak itu merenggang, ada sesuatu hal yang membuat Lidya menghindari ibunya sendiri.
Farida yang berusaha memperbaiki hubungan mereka, tapi sepertinya Lidya belum bisa membuka kembali hatinya untuk memaafkan sikap ibunya.
"Maafkan mama Lidya! Mama tau, mama salah memperlakukanmu saat itu! tidak bisakah kamu benar-benar membuka pintu maaf untuk ibumu ini?" kata Farida lirih.
****
"Bryaaaan! kamu dimana?" Haura menjerit didalam hatinya menyebut dan memanggil nama suaminya.
Haura kembali fokus melakukan operasi, memasang pen di kaki pasiennya, pasien yang terjatuh dari motor yang menyebabkan keretakan di tulang kaki.
Haura sesekali melihat ke sekitar ruang operasi, tidak ada satupun arwah pasien yang koma terlihat di ruangan, hal itu semakin membuat Haura curiga, dia semakin bingung kenapa mereka semua tak terlihat di sekitar dirinya.
"Kemana mereka? biasanya mereka memenuhi ruang ini, saat aku melakukan tindakan operasi!" kata Haura sambil menjahit kulit pasiennya.
.
.
.
.
.Hai readers, baca juga novel temanku, pastinya seru.
__ADS_1