
Haura dan Bryan harus terhalang dinding tebal dan penglihatan Haura untuk menembus dunia lain tertutup, Haura termenung di dalam kamarnya.
Bryan yang berada di sisi Haura, hanya bisa memandangi wanita yang mencuri hatinya, dia tidak bisa lagi mendengar suara hati Haura, Bryan bingung harus berbuat apa, sedangkan waktunya hanya tinggal dua lima belas hari lagi, tubuhnya akan melemah dan dia akan kehilangan, kesempatannya untuk hidup pun akan terenggut.
"Aku harus mencari tahu! aku tidak mau kehilangan nyawaku, apalagi menghilang dari sisimu untuk selamanya Haura!" Bryan sangat menyukai Haura, dia begitu ingin hidup dan menikah dengan Haura di dunia nyata.
Bryan menghilang dari kamar Haura, dia pergi ke dunia hantu untuk mencari tahu tentang dinding penghalang.
"Bryan, aku merindukanmu! dimana kamu?!" desis Haura sambil meringkuk di atas kasur.
Haura berusaha memejamkan matanya, tapi dia merasa tidak mengantuk, dia ingin pergi ke dunia lain melalui mimpinya, seperti yang dia pernah alami.
"Kenapa aku tidak mengantuk! aku ingin bertemu dengannya dan bertanya kepadanya!" Haura mulai terisak.
Rindu memang membuat hati terasa sesak, sakit rasanya menahan rindu bertemu dengan seseorang yang berharga dalam hidup kita, semakin di tahan, semakin rasanya ingin meledak karena tidak lagi dapat membendungnya.
Semua itu dirasakan oleh Haura saat ini, bahkan dia merasa tidak bersemangat saat akan pergi bekerja, tapi dia tetap harus pergi demi misinya menyelamatkan nyawa pasiennya.
Haura kembali berusaha memejamkan matanya, kali ini dia berhasil tertidur, tapi sayangnya hal yang dia harapkan tidak kunjung terjadi, mimpi kali ini benar-benar hanya bunga mimpi saja.
*****
Bryan menemui beberapa arwah yang sama kasusnya dengan dirinya, yaitu pasien koma di rumah sakit, yang arwahnya berkeliaran di mana saja.
"Aku mengumpulkan kalian semua di ruangan ini, bertujuan untuk mengerjakan misi ini bersama-sama" kata Bryan.
"Katakan saja dokter! kami pasti akan membantu,! kami masih ingin hidup dan kami ingin bahagia bersama keluarga." seorang arwah wanita yang memiliki seorang putra, bersedia membantu.
"Haura dan kita semua, terhalang dinding yang sangat tebal, sehingga kita tidak bisa komunikasi dengan dirinya!" papar Bryan.
Mereka semua saling berdiskusi dan mengungkapkan rencana mereka lalu menggabungkannya, Bryan sangat beruntung ternyata seluruh arwah itu mau membantu dirinya, mereka bersedia membantu karena ingin hidup kembali.
Bryan membagi-bagi tugas untuk mereka, sementara Bryan memperhatikan Haura, dia diperingatkan oleh pria tua itu, bahwa seharusnya Haura mengenakan sesuatu yang membuat mata batinnya tertutup secara tidak langsung.
"Benda apa yang di pakainya? dan kenapa dia bisa memakai benda itu!" kata Bryan sambil menopang dagunya dengan satu tangan.
"Cari segera! aku sudah lelah menunggu sangat lama agar bisa naik ke surga!" celetuk pria tua yang bernama Ato Dalang.
__ADS_1
"Aaah! kau hanya bisa mengeluh dasar pria tua!" kesal Bryan yang tidak mendapatkan gambaran jelas dari Ato Dalang.
"Aku akan memberi tahumu! benda itu seharusnya berwarna merah delima, jika wanita itu punya, maka benar ada seseorang yang ingin menghalangi jalanmu, atau wanita itu sendiri yang menginginkannya!" papar Ato Dalang.
"Heeei! jangan menghina Haura! dia buka seperti gadis-gadis yang kau temui semasa hidupmu!" teriak Bryan ketika Ato Dalang meninggalkannya.
Bryan sangat kesal karena pria itu mencap Haura seperti wanita-wanita yang selalu memberi harapan kosong untuk pria itu semasa hidupnya, yang menjadi salah satu penyebab dia mendapat hukuman saat meninggal dunia.
*****
Haura bersama dengan Kiki sampai di sebuah hotel yang menjadi tempat terselenggaranya acara pesta.
Haura sangat takjub, dia tak henti mengagumi setiap sudut hotel yang mewah dan dengan design ala Prancis.
"Waaooow! indah sekali, serasa sedang ada di Perancis!" kagum Haura tanpa melepaskan pandangannya ke seluruh sudut hotel.
Kiki benar-benar seorang sultan kelas kakap yang sangat sukses, keluarganya sangat kaya raya, dia juga merupakan salah satu pemegang saham sepuluh persen di rumah sakit tempatnya bekerja.
usut punya usut, mereka menanam saham di rumah sakit karena Kiki, pria itu memiliki tujuan tertentu, sehingga orang tuanya membeli sedikit saham di sana.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan pesta dengan bergandengan, Haura mengaitkan tangannya di tangan Kiki, pemandangan yang sangat sedap di lihat, pria tampan dan wanita cantik masuk.
Melihat Kiki dan Haura masuk, ibunya Kiki langsung menghampiri dan menyambut mereka.
Pesta yang di buat oleh keluarga Kiki, pesta pernikahan kakak perempuannya, yang di buat sangat megah oleh kedua orang tuanya.
"Hallo Haura" sapa wanita yang merupakan ibu dari Kiki.
Wanita itu menyambut Haura dengan mencium pipi kanan dan kiri Haura secara bergantian.
Elma sangat senang melihat kedatangan Kiki bersama Haura, wanita itu begitu akrab dengan Haura, begitu juga dengan Haura, karena merasa itu adalah ibu dari sahabatnya.
"Hallo Tante!" Haura membalas menyapa.
"Gimana kabar Tante?" tanya Haura.
"Sudah sangat sehat! berkat resep obat yang kamu berikan, tempo hari! kapan-kapan main lagi ya ke rumah, udah lama loh, kamu enggak main ke rumah Tante!" ujar wanita itu dengan gaya ciri khasnya
__ADS_1
Haura hanya bisa membalas dengan anggukan saja, karena dia masih sibuk mengagumi hotel yang baru pertama kali dia datangi.
"Kita cari minuman dan cemilan dulu!" ajak Kiki kepada Haura.
"Oh iya! Mama sampe lupa, sangking senang lihat kamu dan Haura!" tawa Elma sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Haura dan Kiki berkeliling, mereka mencari minuman dan cemilan, sebelum makan berat.
"Aku, boleh cobain semua kan cemilannya?" tanya Haura kepada Kiki sambil berbisik.
"Silahkan saja, asal perutmu kuat menampungnya!" jawab Kiki sambil berbisik juga.
"Tenang saja, persediaan kantung makanan di dalam perutku sudah sangat kosong!" Haura menepuk-nepuk perutnya yang rata.
Tubuh ramping Haura, memang bisa menampung banyak makanan di dalamnya, meski terlihat kurus tapi memiliki ruang yang besar di perutnya.
Kiki hanya bisa menggeleng ketika sahabatnya itu, memakan satu demi satu cemilan yang mereka lewati.
Haura mengunyah lalu meneguk minumannya, Haura memang tidak terlalu menjaga imagenya, tapi dia tetap makan dengan gaya khas putri kerajaan, elegan meski semua makanan tersedot satu persatu ke dalam mulutnya.
Kiki juga terlihat tengah menikmati beberapa kue dan beberapa makanan yang di sajikan di gubuk-gubuk makanan. banyak makanan lezat di hidangkan di sana, bahkan semua itu adalah makanan yang sangat di sukai Haura, membuat dirinya semakin semangat untuk melahap semua hidangan.
"Kita makan di sana saja, ada tempat indah di sana, kau pasti suka!" ujar Kiki sambil menggandeng salah satu tangan Haura.
.
.
.
.
.
hai teman-teman, baca juga novel karyaku dijamin seru pastinya.
__ADS_1