
"Kau!" teriak Marco tapi Haura tak mengalihkan pandangannya.
Haura berusaha berani menghadapi Marco, dia tidak akan gentar, dia tidak akan memalingkan wajahnya yang bisa menunjukkan ketakutannya.
"Dengar Dokter Marco, sehebat apapun dirimu dalam mengobati pasien, tapi jika sikapmu tidak berprikemanusiaan seperti ini, mungkin semua kehebatan itu hanya akan menjadi omong kosong!" Haura begitu kesal.
Baginya, seorang dokter adalah orang yang menyelamatkan nyawa, tidak bermain-main dengan nyawa pasien seperti yang sekarang Marco lakukan.
"Kau benar-benar menjengkelkan Haura." Marco menarik jas dokter yang dikenakan oleh Haura hingga wajah mereka saling bertemu.
"Dengarkan aku baik-baik, jika aku menghabisi mu di sini, aku yakin tidak ada satu orangpun yang akan mengetahuinya!" Ancam Marco dengan sangat mengerikan.
Jantung Haura berdetak laju. Berhadapan dengan Marco dia perlu bersikap tenang walaupun ketakutan menjalar di setiap urat nadinya. Setelah Marco melepaskan cekalan pada kerah jas dokternya, Haura menarik napas panjang. Diam-diam dia menyusun siasat untuk melawan lelaki itu.
"Aku harus bisa membuatnya pergi dari ruangan Bryan, aku tidak mau hal buruk terjadi kepada Bryan." Haura memutar otaknya agar bisa mendapatkan ide cemerlang.
"Sebenarnya kenapa kamu ingin membuatnya pergi dari dunia ini? apa karena kamu ingin menguasai rumah sakit? atau kamu terlibat dalam kecelakaan itu?" pertanyaan yang dilontarkan Haura begitu menjebak.
__ADS_1
Marco terlihat semakin geram dengan apa yang dipertanyakan kepada dirinya, baru kali ini dia mendapati seorang wanita yang begitu tenang menghadapi kemarahannya.
"Jika Kak Marco tidak mau menjawabnya, berarti aku akan menarik kesimpulan bahwa keduanya adalah jawabannya, dengan begitu aku akan menyebarkan gosip, kalau Kak Marco adalah penyebab Bryan terbaring tak berdaya!" Ancam Haura.
"Kurang ajar, Haura benar-benar ingin menjebak diriku, kini aku terpojok," batinnya.
Haura melihat raut wajah yang kosong, dia melihat Marco nampak seperti orang yang sedang kebingungan, rencananya ternyata berhasil membuat Marco tidak dapat berkutik.
"Jika Kak Marco tidak mau meninggalkan ruangan ini, aku pastikan reputasi yang sudah Kak Marco bangun selama ini akan hancur." Ancaman bertubi-tubi dilayangkan oleh Haura.
Sebagai seorang istri dia tidak mau suaminya dalam bahaya.
.
.
Bryan masih berada di ruang istirahat dokter ditemani beberapa hantu yang menjaganya, teman-teman Bryan seketika menjadi gelisah, mereka semua bergantung kepada Bryan, keberhasilan Haura dalam mengoperasi Bryan adalah satu-satunya jalan bagi mereka untuk bisa hidup kembali menjadi manusia yang seutuhnya, memperbaiki kesalahan mereka dan menggapai masa depan yang tertunda.
__ADS_1
"Bagaimana ini, dia semakin meredup." khawatir salah satu hantu yang koma karena pendarahan otak.
"Sabarlah, semoga Haura bisa menghalangi Dokter itu untuk mencelakai Dokter Bryan." seorang pasien koma karena terjatuh di kamar mandi berusaha berpikir positif.
"Kita semua harus berdoa, dan salah satu dari kita harus menyusul Haura, agar bisa memberitahukan kondisi Dokter Bryan dan juga bisa membantunya jika terjadi hal diluar dugaan kita." Seorang pasien paruh baya memberikan saran.
Langsung dua hantu mengajukan diri, bukan hanya satu, mereka sebagai hantu atau arwah selalu saling tolong menolong, jiwa gotong royong dan kemanusiaan mereka tetap ada meski menjadi seorang hantu.
Bryan tak bisa lagi berpikir tentang apapun, dirinya semakin lemah, Bryan hanya bisa melihat dirinya yang semakin lama semakin menghilang.
.
.
.Bagaimana kelanjutan kisah mereka? simak terus ceritanya...
terima kasih...
__ADS_1