
Haura tak gentar menghadapi Marco, dia tidak akan pernah membiarkan Marco menyentuh Bryan lagi, ini untuk yang pertama dan terakhir.
"Masih ingin berada di ruangan ini? Jadi Kak Marco memilih dihancurkan karirnya? Baiklah, aku akan memanggil mereka untuk membuatmu kehilangan muka." Ancaman bertubi-tubi keluar dari bibir mungil Haura.
Mendengar perkataan Haura, entah mengapa hatinya menjadi sakit, Marco tidak mengerti apa yang terjadi dengan hatinya, seakan dia tidak rela wanita yang ada dihadapannya begitu melindungi pria yang tak berdaya tanpa alat medis.
"Haura." Bryan dengan wajah orang lain datang ke ruangannya.
Haura terlihat terkejut, dia bersyukur Bryan kembali.
"Syukurlah." Haura terharu.
Mendengar ucapan singkat Haura, membuat Marco bingung, pasti dipikirannya saat ini sedang bertanya-tanya.
"Kenapa kamu tahu ruangan ini?" tanya Marco.
"Aku sekarang ditugaskan untuk menjaga ruangan ini." dengan berdiri tegak Bryan menjawab pertanyaan Marco.
"Siapa yang menyuruhmu menjaga di sini?" tanyanya lagi penuh rasa ingin tahu.
"Ibu dari Dokter Bryan, dia menyuruhku untuk menjaga putranya secara rahasia," kata Bryan dengan wujud orang lain.
"Kau dengan itu? Jangan pernah kembali keruangan ini, dengar Kak Marco, aku buka Haura yang dulu lagi, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan suamiku, aku tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi lagi, atau ... aku akan membongkar rahasia mu!" peringatan keras dilayangkan Haura.
Marco langsung pergi dari ruangan itu, rasa kesalnya mengalahkan rasa ingin mencelakai saudara sepupunya.
Haura memeluk Bryan, betapa khawatirnya dia jika sampai Bryan benar-benar menghilang selamanya.
__ADS_1
"Jangan Khawatir, aku akan selalu bersamamu, maaf membuatmu khawatir dan terima kasih atas pertolonganmu." Satu kecupan diberikan Bryan untuk Haura.
Betapa leganya dirinya setelah melihat suaminya baik-baik saja dan kembali seperti semula, setelah kejadian ini, mereka sadar kalau Marco mengetahui segalanya dan dia adalah ancaman.
.
.
Marco terlihat frustasi di dalam ruangannya, dia bahkan tidak bisa berpikir jernih untuk mencari solusi atas permasalahan yang akan menghampirinya.
"Haaaaah! Kurang Ajar!" Teriak Marco frustasi.
"Kamu gagal?" tanya perempuan yang menghampirinya.
"Santi, kenapa kamu ada di ruangan ku?" tanya Marco yang masih menyisakan kekesalannya.
"Membantu?" tanya Marco.
"Aku punya cara untukmu, agar cara ini berhasil, kita harus bekerjasama."
Santi membicarakan rencana yang akan mereka jalankan kali ini, Santi yang tidak ingin kehilangan Bryan, sedangkan Marco tidak ingin rahasianya terungkap dan gagal menguasai rumah sakit.
Manusia dan hantu sudah mulai menyusun rencana, menakutkan memang, kejahatan tidak mengenal rasa iba, keserakahan tidak mengenal siapa saja, mereka hanya tahu, siapa yang menghalangi mereka akan singkirkan.
.
.
__ADS_1
Lidya yang sejak tadi mencari-cari Haura mulai lelah, dia tidak menemukan sahabatnya di manapun.
"Haura, kamu dimana?" ujar Lidya.
Sefya menghampiri Lidya. "Dimana Haura?" tanyanya.
Lidya menatap Sefya. "Aku belum menemukannya, aku hubungi ponselnya tidak aktif."
"Haah, kenapa dia akhir-akhir ini sering menghilang begitu saja," keluh Sefya.
Lidya memasang wajah penasaran. "Menghilang? Begitu saja? Maksudnya?"
"Iyah, tadi aku tidak sengaja mendengar, kalau Haura sempat menghilang saat di posko pengungsian."
"Posko pengungsian? Siapa yang bilang?" tanya Lidya semakin penasaran.
"Itu, Dokter Mesum." Sefya menunjuk ke arah dimana tadi dia tidak sengaja mendengar percakapan Jack.
"Aku harus menemuinya."
Lidya berjalan dengan sedikit berlari, dia ingin mendengar penjelasan dari Jack, karena beberapa hari ini dia tidak mendengar informasi seperti itu.
.
.
Nantikan kisah selanjutnya.
__ADS_1
Maaf baru update dan terima kasih sudah terus membaca.