
Haura yang dikeluarkan dari beberapa operasi penting, tiba-tiba hadir di dalam operasi yang akan Marco pimpin.
Marco melirik dengan ekor matanya. Terlihat pancaran kemarahan. Namun, Haura tetap biasa saja. dia harus fokus kepada pelatihan hari ini demi menyelamatkan pria yang dia cintai.
Haura membantu Marco. Dia menjadi asisten utama hari ini. Operasi sangat menegangkan. Haura bukan takut kalau Marco menguranginya, tapi dia takut jika Marko akan mengacaukan operasi hari ini demi menggagalkan Haura untuk belajar.
" Aku harap kamu tidak mencelakai orang hanya karena ambisi dirimu." Haura terus memperhatikan gerakan Marco.
Di samping Haura ada Bryan yang tidak terlihat oleh siapapun kecuali Haura. Bryan juga memperhatikan Sepupunya itu. Dia mengawasi karena takut Marco akan membuat nyawa pasien dalam bahaya.
"Terus fokus kepada pekerjaanmu. Aku yang akan mengawasi gerak-gerik Marco. Aku tidak akan membiarkan dia menghilangkan nyawa orang lagi." Bryan berbisik kepada Haura.
"Aku akan berusaha." Haura membalas perkataan Bryan dengan suara hatinya.
Marco mulai mencari peluru yang bersarang di dekat tulang rusuk pasiennya. Pasien hari ini mengalami baju hantam dan tertembak sehingga dilarikan segera ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Kondisi pasien saat sampai di rumah sakit sangatlah tidak baik. Namun, seluruh tanda vitalnya masih bekerja dengan baik jadi presentase menyelamatkan nya adalah sembilan puluh persen. Jadi seharusnya ini menjadi operasi yang sangat mudah dan sudah pasti berhasil.
Haura melihat Marco memejamkan matanya dan Bryan yang kasat mata ikut memasukkan tangannya menembus tubuh pasien.
"Apa yang akan kamu lakukan Marco? Sadarlah! Kamu bisa mencelakai pasien. Kamu bisa membunuhnya." Bryan memandang Marco yang tak bisa melihatnya.
Haura menunggu Marco mengeluarkan peluru , tapi entah kenapa sudah lima menit belum juga terlihat Marco menemukan pelurunya.
Marco menggerakkan tangannya dan terlihat akan menariknya.
"Ah." Marco mengerang.
Tidak lama terjadi pendarahan. Marco memejamkan matanya.
"Aaah. Marco!" Bryan mengerang kesal.
__ADS_1
Haura memperhatikan Bryan yang terlihat sangat frustasi.
Haura langsung menghampiri Marco dan menarik keluar tangan Dokter pria itu.
Haura kemudian memasukkan tangannya ke dalam tubuh pasien dan mencari pelurunya. Haura berusaha dengan cepat mengangkat pelurunya. Ternyata Marco malah menusukkan peluru lebih dalam dari tempat asalnya.
Haura berkeringat, seluruh team yang melihat juga menjadi sangat cemas. Haura sudah ingin menangis karena tidak percaya seorang dokter karena ambisinya melupakan tugasnya sebagai penyelamat nyawa pasien.
Haura menarik tangannya dan menyimpan peluru itu ke dalam piringan. Dia kemudian di arahkan oleh Bryan untuk mulai menangani pembuluh darah yang pecah akibat ulah Marco.
Marco yang melihat Haura sudah sangat lihai menangani kondisi buruk. Langsung memundurkan tubuhnya dan menempel di tembok tak berdaya karena rasa terkejutnya.
"Dia ... dia sangat terlatih sekali. Apa arwah Bryan yang mengajarkannya?" Marco sekarang menjadi berkeringat dingin.
Dia melihat kedua telapak tangannya yang masih terbalut sarung tangan karet dan berlumuran darah. Gemetar tubuhnya tak dapat dia sembunyikan. Di saat Marco terlihat gemetar. Haura sedang berusaha menyelamatkan nyawa pasien yang terancam akibat ulah Marco.
__ADS_1
"Bodoh ... Kenapa kamu harus mengikuti ambisi itu? Kenapa kamu tidak bisa mengesampingkannya dan berusaha saja menyelamatkan nyawa pasien. Andai kamu menyelamatkannya bukan membahayakannya. Mungkin Bryan akan memberikanmu kesempatan kedua." Haura menjahit kembali bagian yang tersayat pisau bedah untuk mengeluarkan peluru.
Haura bernapas lega karena pasien bisa terselamatkan meski ada insiden kecil. Untung saja Bryan mengajarinya dengan sangat baik.