
Haura dan Lidya selesai melakukan operasi terhadap ibu yang tadi akan melahirkan.
"Anaknya sangat cantik" Haura menggendong bayi itu, dan memperlihatkannya kepada sang ibu.
Wanita itu tersenyum melihat putrinya yang menggemaskan.
"Terima kasih dokter," kata wanita itu penuh haru.
Lidya dan Haura juga merasakan keharuan yang sama, sang ibu dengan kebahagiaan sedangkan Lidya dan Haura terharu karena bisa menyelamatkan ibu dan bayinya.
Lidya selesai melakukan tahap akhir operasi, wanita itu lalu di bawa ke dalam ruangan observasi setelah melahirkan secara Caesar.
"Haaah! leganya!" kata Lidya sambil menghela nafas.
"Kamu, kemana saja? kenapa terlambat?" tanya Haura sambil memicingkan matanya.
"Hmmm! aku terjebak macet!" kata Lidya sambil berjalan meninggalkan Haura.
Melihat tingkah sahabatnya yang tak biasa, Haura pun mengejarnya, hingga kini mereka berjalan beriringan.
"Katakan! kamu habis dari mana?" Haura semakin mendesak.
Lidya hendak menjawab pertanyaan Haura.
"Kode darurat ... kode darurat! kepada para dokter diharapkan berkumpul!" suara panggilan terdengar.
Haura dan Lidya saling berpandangan dan mereka langsung menuju unit gawat darurat.
Semua sudah berkumpul, tapi Lidya dan Haura tak menemukan pasien darurat satupun.
Haura menoleh ke arah Lidya, dan Lidya mengangkat kedua bahunya cepat, dia juga tidak tahu ada keadaan darurat apa.
"Semua sudah berkumpul?!" Marco berjalan kearah mereka semua.
"Dengarkan semua, karena ada bencana alam yang menimpa salah satu kota, membuat banyak saudara-saudara kita yang terluka bahkan meninggal Dunia, saya sudah menentukan dokter yang akan berangkat." Marco mengeluarkan sebuah kertas.
"Haura, Jack, Nara, kalian bersiap untuk ke lokasi menjadi dokter relawan!" tutur Marco
"Sepertinya aku tidak bisa!" Jack bicara sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Tidak ada yang menolak di sini! lagi pula pekerjaan kalian tidak terlalu berat di rumah sakit, jadi kalian bisa mengerjakan tugas diluar sebagai relawan." tegas Marco sehingga tidak ada lagi yang berani membantah dirinya.
Haura tertawa kecil, dia menutup mulutnya rapat menahan tawanya, Jack sangat tahu, kalau Haura sedang menertawakan dirinya.
Lidya menghampiri Haura dan menepuk pundak sahabatnya itu.
"Yang sabar, dan tetap semangat!" Lidya memberikan Haura kata semangat tapi terdengar seperti sedang mengejek Haura.
"Bilang saja, kamu meledekku Lidya!" teriak kecil Haura.
...****************...
Haura sampai di tempat di mana bencana alam terjadi, longsor yang menyebabkan banyak rumah terperosok dan rubuh, membuat mereka yang tidak dapat menyelamatkan diri, harus tertimbun, sebagian ada yang terluka dan sebagian ada yang sudah tidak bernyawa.
"Disebelah sini!" teriak tim evakuasi.
__ADS_1
Di temukan seorang bocah kecil yang tertimbun di bawah reruntuhan, Haura yang melihat langsung berlari menuju anak kecil itu di letakkan.
Posko-posko didirikan, Haura masuk ke dalam salah satu posko, dia melihat anak kecil tadi, Haura langsung mengeluarkan perlengkapan dokternya dari dalam ransel miliknya.
Dia memeriksa kondisi anak kecil itu, dia membalut luka, dan memberikan obat sesuai takaran.
"Kamu hebat! kamu bisa bertahan!" Haura mengelus rambut anak kecil itu.
"Dimana dokter? dimana? cepat ada ibu yang akan melahirkan." seseorang mencari dokter.
Haura mendengarnya, dia bimbang, dia belum pernah menangani pasien melahirkan seorang diri, dia hanya mendampingi Lidya saja selama ini.
"Disini! disini dokter wanitanya!" Jack tersenyum menyeringai.
Haura melihat senyuman Jack, Haura tau Jack sedang membalas perbuatannya karena menertawai Jack tadi.
"Ini bukan waktunya melakukan hal konyol Jack! ulah mu, mungkin bisa membahayakan nyawa ibu dan bayinya! dasar dokter mesum, tidak bisa berpikir jernih!" Haura memaki Jack dalam hatinya.
wanita hamil itu di bawa ke dalam posko, mereka meletakkan tubuh yang penuh tanah di atas kasur medis yang sengaja di letakkan untuk memeriksa keadaan pasien gawat darurat.
"Tuhan, bagaimana ini! aku tidak bisa melakukannya sendirian!" Haura memejamkan matanya dan berharap mendapatkan jalan keluar.
Haura berjalan lambat menuju ranjang medis, dia ragu bisa melakukanya.
wanita itu melihat ke arah Haura dan memanggil-manggil dirinya.
"Dokter tolong aku ... dokter tolong aku!" teriaknya dengan suara yang lemah.
"Dokter aaaah .... sakit ... sakit sekali!" wanita itu mengerang kesakitan, dia menarik-narik baju Haura.
"Dokter ... Dokter ... dokter ...."
mendengar teriakannya yang menahan rasa sakit, Haura langsung berusaha menyadarkan dirinya, tapi saat dia sadar, sosok yang dia cari selama ini ada di hadapannya.
"Bryan?!" Haura memanggil nama Bryan.
Haura mengucak kedua matanya, dia kemudian kembali melihat, sosok itu tidak hilang.
"Kamu di sini Bryan?" Haura bergumam di dalam hatinya, berharap Bryan menjawabnya, hanya dengan cara itu dia bisa memastikan kalau itu adalah Bryan.
"kamu bisa melihatku?" tanya Bryan.
"Aku bisa melihatmu!" jawab Haura dalam hatinya.
Kini Haura yakin bahwa dia benar-benar melihat Bryan, dan saat dia melihat ke arah posko, sosok beberapa hantu sedang menonton mereka semua, Haura menjadi semakin yakin.
"Ayo kita segera selamatkan mereka!" Bryan mengajak Haura untuk memulai proses melahirkan.
Haura menyiapkan semua keperluannya, dia mulai memberikan aba-aba untuk sang wanita mengejan perlahan.
"Tarik nafas, buang berlahan, dorooong!" teriak Haura.
Wanita itu berusaha untuk melahirkan anaknya dengan selamat.
Eeeaaaa Eaaaa Eaaaa
__ADS_1
Suara tangisan bayi memecahkan suasana cemas, mereka yang menyaksikannya tersenyum lega.
"Akhirnya lahir juga!" kata salah satu petugas evakuasi wanita.
Haura membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di tubuh bayi lucu itu.
"Kamu lucu sekali!" kata Haura sambil terus membersihkannya.
Bayi itu tersenyum ke arah Haura. seakan dia sedang mengucapkan terima kasih.
"Dokter, kenapa dengan wanita ini!" kata perawat yang menyadari ibu bayi itu tidak sadarkan diri.
Haura langsung menyerahkan bayi itu kepada petugas, dan langsung memeriksanya.
"Wanita ini mengalami infeksi postpartum!" jelas Haura.
"Tidak!" Haura menggeleng, tangannya gemetar.
Dia langsung menaiki tubuh wanita itu dan menaruh kedua tangannya di dada wanita muda itu, dia memompa nya, tapi tetap detak jantungnya tidak terasa, dia mencoba lebih kencang lagi, tapi nihil, wanita itu tidak terselamatkan.
"Catat jam kematiannya!" kata Haura sambil turun dari atas ranjang.
Haura terhuyung, dia terduduk di atas ranjang pengungsian. tubuhnya lemas tak bertulang.
Jack menghampiri Haura. "Seharusnya! kamu menyerah sejak awal! dan biarkan dokter lain yang menanganinya!" bisik Jack.
Haura menoleh, sehingga wajah mereka sangat dekat.
"Kenapa sejak awal, kamu tidak melakukan hal itu! jika saja dia di tangani lebih awal!" kata Haura membalas perkataan Jack.
"Seharusnya, kamu bilang sejak awal kalau kamu tidak bisa melakukannya!" kata Jack lagi.
"Kalau aku melakukan hal itu, dan menunggu dokter lain sampai di posko ini! mungkin kita akan kehilangan keduanya!" kata Haura yang semakin kesal dengan perkataan Jack yang tidak masuk akal.
"Jika kamu memang seorang dokter! seharusnya kamu lebih mempertimbangkan nyawa pasien, dibanding balas dendam kepadaku!" Haura bicara dengan sangat menohok.
Jack terkejut mendengar perkataan Haura yang begitu berani kepadanya.
.
.
.
.hai kawan semua terimakasih sudah membaca karyaku,,, terus ikuti kelanjutan kisah Haura dan Bryan, semakin menarik ceritanya.
.
.
.
.ikuti juga kisah cerita dari novel teman ku...
__ADS_1