
Haura, Jack dan rekan lainnya kembali ke rumah sakit tempat, di mana mereka bekerja, Haura sangat lelah, sekujur tubuhnya terasa sakit karena harus tidur di posko pengungsian beberapa hari, dia juga tidak bisa tidur pulas, karena setiap ada pengungsi yang meringis kesakitan, maka Haura langsung menghampiri mereka semua.
Bryan menemani Haura kembali ke rumah sakit, masih dengan wujud yang bisa di lihat oleh orang lain tapi bukan dengan wajah aslinya.
Bryan menemani Haura, bahkan kini dia sudah menjadi dokter sementara di sana.
kalau kamu bisa mengobati orang dengan wujud seperti ini? kenapa kamu tidak mengobati dirimu sendiri?" tanya Haura kepada Bryan.
"Aku tidak bisa terus seperti ini, aku juga tidak bisa mengobati diriku sendiri, saat sesuatu terjadi kepadaku, itu akan merespon alam bawah sadarku, dan bisa membuatku menghilang, itu bisa berbahaya untuk diriku sendiri!" papar Bryan yang membuat Haura mengangguk mengerti.
"Hei! apa yang kalian bicarakan sambil bisik-bisik begitu? aku juga mau dengar!" kata Jack.
"Hei! kamu dokter misterius, jangan mengambil kesempatan dengan dia, apa kamu ini dokter mesum?" lanjut Jack.
perkataan Jack, membuat jengah Bryan, ingin rasanya dia menonjok wajah dokter mesum yang sesungguhnya, tapi dia tetap bersabar, dia tidak ingin menimbulkan keributan yang membuat dirinya merugi.
__ADS_1
mobil berhenti tepat di depan rumah sakit, mereka langsung bergegas turun dari dalam mobil, Bryan tidak menyangka, kalau mamanya menunggu dirinya dengan perasaan cemas.
Bryan menuliskan kembali sebuah surat untuk mamanya meminta mamanya, menyelipkan sebuah nama untuk menjadi dokter magang disana untuk beberapa hari, sampai dia bisa menyelidiki sesuatu.
Bertemunya mereka, tidak bisa berpelukan atau saling sapa sayang, mereka harus menyembunyikan semuanya, agar rencana Bryan berjalan dengan lancar.
"Selamat datang." sambut Lauren.
"Maafkan aku meneteskan air mata, aku terharu, karena kalian bisa menjalankan tugas ini bersama." lanjutnya.
"Bu, kami bisa menjadi dokter hebat, jika karena bimbingan dari para senior rumah sakit ini, termasuk dirimu, senior wanita yang paling hebat yang aku kenal." Bryan mengungkapkan kekagumannya terhadap mamanya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lauren kembali ke rumahnya, dia mengusap pundak yang tadi disentuh Bryan, meski tidak berwujud putranya, dia tetap bisa merasakan itu adalah Bryan putra semata wayangnya.
__ADS_1
Lauren menangis di dalam kamarnya seorang diri, dia ingin sekali secepatnya bisa memeluk kembali putranya dengan fisik aslinya.
Tok Tok Tok
"Iyah, silahkan masuk," kata Lauren dari dalam kamarnya.
"Nyonya, makan siang sudah siap, semua sudah menunggu di ruang makan," kata asisten rumah tangga di rumah Besar.
"Nanti aku akan kesana," jawabnya sambil menyeka air matanya.
Lauren tidak mau menimbulkan kecurigaan, dia masih menyimpan rasa bahwa salah satu anggota keluarganya yang tega melakukan hal itu kepada anaknya, dia sangat tahu, ada orang yang ingin menguasai rumah sakit pusat dan rumah sakit cabang.
"Aku, akan pastikan, kalian tidak akan bisa menguasai semuanya, semua sudah sesuai aturan, kenapa kalian memperebutkan yang sudah pasti," gumam Lauren.
Lauren keluar kamarnya dan bergabung dengan keluarga besarnya, disana ada kakaknya, kakak iparnya, dan kedua keponakannya, yaitu Lidya dan Marco.
__ADS_1
Lauren memperhatikan wajah mereka satu persatu, dia ingin tahu, wajah mana yang berani mencelakai putranya hingga terbaring koma.